Showing posts with label Kesaksian Hidup. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian Hidup. Show all posts

Friday, November 13, 2015

HIDUP DICURAHKAN

Sebuah Kesaksian Hidup

Penulis: P. Dedy. S

Di tahun 2015 ini banyak hal yang sulit untuk dimengerti. Mula-mula ketika munculnya nama saya terpilih sebagai ketua katekese. Saya sendiri tidak pernah mengajukan nama ke dalam pencalonan untuk sebuah kedudukan di dalam Gereja yaitu sebagai ketua katekese. Namun, secara tiba-tiba diri saya ditelepon oleh ketua bidang sumber Bapak Agustinus Edi Antoro dan diberikan ucapan selamat atas terpilihnya saya sebagai ketua katekese. Saat itu Pastor Paroki adalah RD. Damar Cahyadi. Reaksi pertamanya diri saya terkejut bukan main, karena tidak merasa mencalonkan diri. Karena semenjak diri saya kembali dari Manado ke Surabaya sudah tidak pernah berharap untuk terjun dan aktif dalam hidup menggereja, selain sebagai umat biasa. Karena itu setiap kali diundang bahkan ditarik-tarik oleh teman-teman dan umat di wilayah dan paroki, diri saya tetap saja menyibukkan diri dengan banyak perkara yang lain daripada perkara hidup menggereja. Karena tujuan saya waktu itu mau berfokus dulu di dunia ekonomi untuk memperbaiki ekonomi yang saya jalani untuk menghidupi ibu saya sebagai satu-satunya orangtua yang masih hidup. Sebab orangtua saya tidak mempunyai penghasilan apa-apa. Karena itu selama masih tinggal di Manado, hasil jerih payah selalu saya kirimkan ke ibu untuk memenuhi hidupnya sehari-hari dengan cara titip melalui seorang teman lewat rekeningnya di BCA. 

Semenjak saya berada di rumah bersama dengan ibu, tabungan makin lama semakin terkuras habis karena tidak mendapatkan pemasukkan sama sekali. Padahal setiap hari dan setiap bulan hidup terus berputar dan keperluan hidup semakin hari semakin banyak dan semakin mahal pula. Maka, tidak ada lagi tempat untuk bergantung, selain kemurahan dan kebaikan hati Tuhan saja. Sekarang saya sudah memasuki tahun ke empat semenjak tinggalkan Manado dengan kondisi ekonomi yang sama sekali tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik; justru semakin sulit dan mencekik. Namun herannya, kami selalu tercukupi dan tidak pernah berkekurangan. Padahal tidak ada sedikitpun uang di kantong, tetapi masih bisa menjalani hidup tanpa kekurangan suatu apapun. Lalu darimana sumber hidup itu sendiri? Secara logika, itu semua tidak mungkin. Kebutuhan listrik, kebutuhan air, kebutuhan tehnologi komunikasi tetap saja bisa berjalan apa adanya. Lalu darimana uang itu bisa datang, kalau bukan cara Tuhan sendiri. 

Karena seringnya saya duduk di post satpam Gereja Katedral setiap kali selesai mengikuti perayaan ekaristi, saya mempunyai kebiasaan mendengarkan segala kisah dan persoalan yang terjadi di seputar kepengurusan gereja; hati ini mulai perlahan-lahan tergerak ingin berbuat sesuatu bagi Tuhan melalui hidup menggereja lagi. Pada saat itu pula datang seorang teman mudika (muda-mudi Katolik) lama yaitu Bapak Sutrisno yang mulai menarik, merayu dan mencoba memotivasi diri saya untuk menyediakan diri terlibat di dalam hidup menggereja sebab dia katakan kalau diri saya dibutuhkan saat ini juga terutama di dalam pembinaan untuk anak-anak, remaja dan kaum muda. Bahkan dia meminta agar diri saya sesegera mungkin membagikan segala ilmu dan seluruh kemampuan yang saya miliki untuk semua orang terutama di lingkungan dan wilayah.
Keterlibatan pertama kalinya, saya hadir dalam rapat wilayah yang diselenggarakan setiap bulan. Saat itu rapat diselenggarakan di Wisma Keuskupan jalan Sam Ratulangi no 6 Surabaya. Pada saat rapat itu Bapak Ignatius Andy Oematan menyambut saya dengan mengucapkan “ Selamat datang dan Selamat Bergabung “. Setelah salam tersebut, beliau juga mengharapkan yang sama seperti yang diungkapkan oleh Bapak Sutrisno kepada saya. Semula saya diminta untuk sharing pengalaman termasuk mengapa keluar dari hidup membiara sebagai frater. Selanjutnya dimintakan persetujuan kepada seluruh yang hadir untuk keterlibatan diri saya dalam dunia pembinaan iman. Saya pun menerimanya walau dalam hati saya mengatakan “ Tuhan, inikah saatnya aku harus bertindak?” Tuhan belum memberikan jawaban, namun Bapak Ignatius Andy Oematan sudah mendahului dengan memberikan tugas kepada saya untuk menjadi seksi katekese dalam perayaan Paskah 2015. Semua tugas yang diberikan dan dipercayakan kepada saya, saat itu pula saya terima dengan baik penuh ketulusan hati.

Selama menjalankan tugas sebagai seksi katekese di dalam kepanitiaan Paskah, 2 kali harus berselisih paham dengan orang-orang dari wilayah 2. Salah satunya Sdr Wayan. Pertengkaran itu seharusnya tidak boleh terjadi, kalau si Wayan tahu diri siapa dia sesungguhnya. Karena dia memindahkan tempat sumbangan tanpa memberitahukan lebih dulu kepada saya sebagai penanggungjawab kotak tersebut. Inilah salah satu permasalahan yang terjadi di dalam kepengurusan gereja. Pertengkaran terjadi lagi di ruang legio dengan para petugas pembawa kotak sumbangan yang melakukan banyak protes dari tugas pembawa kotak sumbangan. Akhirnya sebagai penanggungjawab secara spontan saya kumpulkan seluruh panitia berkaitan dengan hal ini, dan diputuskan panitia akan menjaga kotak dari awal sampai akhir. Itu permasalah kedua yang terjadi di dalam kepengurusan gereja. Melalui kedua peristiwa itu Tuhan mau menunjukkan sesuatu kepada saya akan apa yang seharusnya saya bisa perbuat untuk memperbaiki kondisi kepengurusan gereja ini.

Dengan melihat kembali serangkaian peristiwa-peristiwa itu, sehari dua hari saya gelisah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan terpilihnya diri saya sebagai ketua katekese. Sungguh-sungguh kosong seluruh pandangan yang ada di dalam diri ini pada waktu itu. Mungkin sudah menjadi rencana dan jalan dari Tuhan untuk melibatkan diri saya ke dalam bidang ini. Sampai tulisan ini diangkat, masih saja hal ini menjadi pertanyaan refleksi di dalam diri saya, “Mengapa Tuhan harus memilih saya yang jelas-jelas orang yang tidak mampu secara ekonomi?” Biasanya mereka yang terjun menjadi pengurus atau mendapatkan kedudukan di Gereja adalah mereka yang mampu secara ekonomi, sehingga keaktifan selama di Gereja tidak akan menganggu kehidupan dan perekonomian orang tersebut. Namun, kenyataannya diri saya adalah orang miskin atau pra sejahtera, namun Tuhan menuntut saya untuk mengambil dan menjalankan tugas ini. Saya harus bagaimana lagi selain menerima dan menjalankan tugas ini semampu yang saya dapat lakukan hanya demi kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan.

Sebagai ketua katekese, diri saya dituntut untuk aktif terlibat secara penuh dalam tugas pewartaan dan pengajaran Gereja. Sehingga setiap hari selain harus belajar kembali, juga harus sering datang ke gereja untuk mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan. Namun semuanya tidak mendatangkan upah sedikitpun. Saya sendiri menjadi heran, mengapa saya mau menerima dan menjalankan itu semua padahal saya sudah mengetahui bahwa pekerjaan itu tidak mendatangkan upah sedikitpun yang dapat menunjang hidup keseharian diri saya bersama dengan ibu satu-satunya orangtua yang menjadi tanggungjawab saya. Walaupun saya melaksanakan ini semua, namun hidup saya tetap tercukupi dan tidak merasa berkekurangan sedikitpun. Apa yang sesungguhnya diperbuat Tuhan terhadap diri saya dan hidup ibu saya? Semuanya serba tercukupi, padahal tidak ada uang sama sekali untuk menjalani hidup ini.

Untuk mendapatkan sesuap nasi dan keperluan hidup setiap hari, sudah berbagai macam pekerjaan saya lakukan termasuk membuka service komputer, tetapi hasil yang didapatkan belum dapat memenuhi kebutuhan setiap harinya. Sebab tidak setiap hari saya memperoleh pendapatan dari pekerjaan ini walau harus berkeliling kemana-mana dari pagi sampai pagi hari lagi. Walaupun demikian, saya masih dapat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena betapa baiknya Dia. Walaupun demikian tidak sedikitpun mengurangi keaktifan saya dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di dalam hidup menggereja.

Belum lama juga saya terpilih dan terlibat dalam kegiatan persiapan AKSI PUASA PEMBANGUNAN 2016. Meskipun kedudukan saya sebagai ketua, namun saya masih belum berpengalaman. Maka seharusnya mereka yang lebih berpengalaman yang dipilih dan diberangkatkan. Namun realitanya ketua bidang sumber menunjuk saya untuk berangkat atas nama OMK (Orang Muda Katolik) kevikepan Surabaya Selatan. Karena diberi kepercayaan, maka saya persiapkan dengan baik. Begitu berangkat ke Puh Sarang Kediri tanggal 2-4 Oktober 2015 dan tiba saatnya giliran saya presentasi, ternyata hasil yang saya sudah lakukan mendapatkan apresiasi dari RD Aloysius Widya YN selaku pastor penanggungjawab APP 2016 dengan tugas selanjutnya diminta sesegera mungkin menghubungi Pastor Moderator OMK.

Untuk berjumpa dengan Pastor Moderator OMK sangatlah tidak mudah, sebab beliau mempunyai banyak kesibukan. Sehingga berkali-kali berusaha untuk menjumpainya. Setelah mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dan menyampaikan hasil yang saya dapatkan dari pertemuan progress report 1, saya menjadi lega dan hanya menunggu keputusan selanjutnya agar saya diperkenankan berjumpa dengan para OMK se-kevikepan. Sebulan lamanya saya menunggu dan berproses, akhirnya dengan usaha sendiri tanpa bantuan pastor moderator saya dapat berjumpa dengan para perwakilan OMK pada tanggal 12 November 2015, lalu memaparkan laporan kepada mereka. Usaha perjumpaan dengan OMK ini sungguh menjadi sebuah bukti bahwa sesungguhnya Allah itu murah hati dan tidak akan membiarkan setiap hamba-Nya mengalami kesulitan. Belaskasih yang Allah berikan tidak akan pernah berkesudahan sampai akhir jaman.


Monday, January 19, 2015

KEMURAHAN HATI ALLAH

Penulis : P. Dedy. S

Berlangsungnya MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) 2015 sebenarnya belum siap dialami oleh Bangsa Indonesia. Sebab belum semua rakyat mengalami perbaikan ekonomi. Justru dengan berlangsungnya MEA ini, membawa anjlok perekonomian negara terutama pengusaha dan pedagang kecil. Ini pertanda bahwa pemerintah Indonesia belum memiliki kebijakan. Perekonomian dan dukungan pemerintah Indonesia masih berpihak kepada pengusaha besar dan sukses, tanpa melihat ke bawah kepada para pengusaha dan pedagang kecil.

Perekonomian yang makin anjlok ini, akhirnya membuat pasar pun mulai sepi, namun benderaku tidak pernah turun, tetap berkibar semampu mungkin. Itulah gambaran bagaimana aku tetap berjuang di tengah krisis ekonomi saat ini. Benderaku menjadi sedikit berayun ketika seorang teman telah membantu untuk mempromosikan usahaku. Berkat dukungan teman dan usaha mempromosikan usahaku ini, lalu menyebabkan adanya salah satu dari  temannya yang ingin mendapatkan service laptop dariku. Laptopnya saat itu mengalami Windows Victim dan dijangkiti beragam virus. Temanku sempat bertanya tentang berapa tarif yang aku harus minta padanya, aku pun menjawab bahwa tarifnya Rp 100.000.

Setetes harapan itu sempat lenyap ketika temanku itu menyampaikan informasi, kalau rencana itu tidak jadi alias batal. Pembatalan disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya terkesan terlalu mahal. Tetesan harapan itu mulai kembali menetes, ketika temanku itu kembali membawa informasi, kalau temannya ternyata melanjutkan keinginannya untuk  mendapatkan pelayanan service dariku.

Setelah aku dan teman yang dimaksud itu tersambung kontak, akhirnya Sabtu 17 Januari 2015 pukul 15.30 bertemu. Ketika bertemu, orang yang meminta pelayananku itu tidak menghendaki aku datang ke rumahnya, tetapi dia sendiri  yang  datang menjumpaiku dan ingin mendapatkan pelayananku di tempat kerjaku alias counter. Ketika dia bertanya tentang berapa lama proses servicenya, aku pun menjawab bahwa service laptop akan berlangsung antara 4 sampai 5 jam. Orang inipun menerimanya. Orang ini tidak rela meninggalkan laptopnya untuk aku perbaiki, sehingga dia terus menemani sambil mengamat-amati cara kerjaku. Aku sendiri mengetahui bahwa hal itu bukan karena dia tidak percaya padaku, melainkan dia  ingin melihat kualitas kerjaku dan kejujuranku.

Dalam pelayanan, aku selalu berprinsip "Berikan yang terbaik dari semua yang terbaik". Ternyata pelayanan yang aku telah  berikan menyita waktu lebih dari 5 jam. Tepat pukul 22.30 semuanya usai. Sementara orang itu tetap tidak mau meninggalkan tempatku bekerja. Begitu service selesai aku berikan, akupun hanya mengenakan padanya tarif sebesar  Rp 50.000 karena selain banyak software yang dia bawa sendiri walau bajakan, juga karena dia datang sendiri ke tempat kerjaku atau counter. Faktor pelambatan proses kerja itu, banyak dipicu oleh kepingan DVD yang mengalami banyak goresan dan lambatnya proses pada DVD drive dalam membaca DVD. Itulah yang membuat lama proses kerja.

Ketika orang itu akan meninggalkan tempat kerjaku, ternyata justru orang itu tidak membayarku Rp 50.000, melainkan lebih banyak dari itu. Bahkan yang paling mengherankan, sepulangnya dia dari tempat kerjaku pukul 23.00, dia sempat SMS dan melarangku untuk makan malam, dia memintaku untuk menunggunya. Akupun menunggunya di depan jalan. Begitu dia kembali ke tempat kerjaku, ternyata sebungkus "cap cai" diberikan padaku untuk makan malam sambil menginformasikan bahwa dia akan mempromosikan usahaku ke teman-temannya. Saat itu pula hatiku penuh syukur  sebab semua ini tidak mungkin serba kebetulan, melainkan semua kebaikan ini berasal dari kemurahan hati Allah. Allah sendiri yang menggerakkan hati temanku maupun orang ini. Karena itu sebelum tidur, akupun bersyukur sambil berdoa memohon berkat atas kebaikan teman dan orang tersebut. Bahkan Hari Minggu sore saat misa, aku membawa nama mereka satu per satu ke hadapan Allah untuk aku memohonkan berkat dan rahmat berlimpah.

Di dalam gereja, aku selalu memandangi salib dan tidak terasa kalau air mataku menetes, sebab Allah masih memperhatikan diriku dan mencurahkan kemurahan hati di saat ekonomi memperpuruk keadaanku. Aku tidak mampu lagi menahan isak tangis melihat dan mengalami betapa baiknya Allah di dalam perjalanan hidupku, padahal sesungguhnya diriku ini sangat tidak layak bagi-Nya dan di hadapan-Nya. Namun, Allah masih mengasihi diriku dan memberikan kesejukan ketika aku sedang membutuhkan uluran tangan kasih-Nya.

Pengalaman seperti ini tentunya bukan hanya diriku yang mengalaminya. Masih banyak orang yang mengalami kemurahan hati Allah yang serupa dengan yang aku alami. Mungkin pengalaman banyak orang lebih baik dariku tentang pengalaman akan kemurahan hati Allah. Aku berharap kemurahan hati Allah ini terus tercipta di muka bumi, sehingga makin banyak orang mengetahui bagaimana harus bersyukur atas kebaikan Allah. Bukan hanya itu, melalui kemurahan hati Allah ini akan menyadarkan bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah meninggalkan setiap orang, sekalipun orang itu hina dina dan berlumuran akan dosa. Sebab Allah tidak melihat kesemuanya itu, Allah hanya melihat hati seseorang seberapa dalam cinta seseorang akan Allah.



Sunday, January 4, 2015

PEMBERIAN ALLAH TERBAIK BAGIKU

Penulis :  Yohanes Setiaboedi

Tiada satupun dari manusia yang hidup di dunia ini sama sekali tidak pernah mengalami kebaikan yang berasal dari kemurahan hati Allah. Sekecil apapun, Allah pasti selalu memberikan yang terbaik bagi kita, sekalipun hal itu tidak pernah kita mintakan kepada-Nya dan tanpa pernah kita sadari pula. Namun Allah selalu mengetahui apa yang sesungguhnya kita perlukan, Dia selalu memperhitungkannya sesuai dengan batas kemampuan diri kita masing-masing. Apapun pemberian Allah itu, semuanya hanyalah semata demi kebaikan dan tanda cinta kasih Allah terhadap diri kita, yang tentunya begitu istimewa dalam pandangan Allah. Hanya sekarang kembali ke dalam diri kita masing-masing, adakah rasa syukur timbul spontan dari dalam hati kita sebagai tanggapan kita atas segala kebaikan hati Allah itu.

Pemberian Allah ini sungguh saya alami ketika menjelang penerimaan Sakramen Krisma (Sakramen Penguatan), tepatnya tahun 1990. Pada waktu itu masing-masing calon penerima Sakramen diminta menentukan nama yang akan diberikan Sakramen sebagai tanda penguatan dari Allah. Semua teman dekat, guru, pastor bahkan orangtua yang saya minta tentang nama yang cocok dengan diri saya, sama sekali tidak memberikannya selain menganjurkan agar saya berdoa dan memohon kepada Allah sendiri. Mereka menyarankan demikian, sebab semuanya yakin bahwa hanya Allah satu-satunya yang mampu memberikan yang terbaik bagi diri sendiri.
Semenjak mendapatkan saran tersebut, saya akhirnya datang kepada Allah dan memohon nama yang terbaik bagiku. Kebiasaan saya berdoa selalu menempatkan Kitab Suci dalam keadaan tertutup di depan Salib di antara dua lilin yang bernyala, lalu mengambil sikap duduk bersila, masuk ke ruang hati dan berkomunikasi dengan Allah. Seketika itu juga Kitab Suci terbuka dengan sendirinya pada Kitab Injil Yohanes dan cahaya lilin hanya menerangi bagian dari Yohanes 15:16 yang berbunyi

 " Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu ".

Melihat jawaban yang Allah sudah berikan, saya pun segera menyudahi doa saat itu sambil tiada hentinya bersyukur, bersujud menyembah dan memuji nama Allah, sebab kebaikan-Nya telah diturunkan kepada hamba-Nya yang hina dina.
Setelah memperoleh nama itu, saya segera datang kepada orangtua dan pastor paroki untuk menyampaikan nama yang sesuai dengan kehendak dan pemberian Allah. Sebagai konsekuensi atas nama itu, saya pun mencoba hidup sesuai dengan nama yang Allah sudah berikan, walau dipenuhi manis dan getir namun itulah yang terbaik menurut Allah bagiku. Oleh karena itu mengapa nama saya YOHANES, sebab hanya dialah murid yang paling dikasihi dan berkenan di hati Allah.

Pemberian terbaik dari Allah ini tentunya juga dialami oleh banyak orang tanpa terkecuali dan tanpa melihat siapa orang itu, dan apapun bentuk pemberian itu. Mungkin pemberian-Nya nampaknya tidak berarti dan terkesan sepeleh, namun itulah yang sudah Allah tentukan dan itu pula pilihan terbaik bagi kita menurut pandangan Allah. Apabila rahmat pemberian itu kita pelihara dengan baik, bahkan kita hidupi, maka tidaklah mustahil apabila suatu saat Allah membukakan mata hati, sehingga melihat apa yang semula terkesan tak berarti menjadi sangat berharga bagi keseluruhan hidup kita selama di dunia. Sebab melalui berbagai pemberian itu, sesungguhnya Allah mau menunjukkan bahwa diri-Nya tidak pernah jauh dari diri kita, Allah selalu hadir di dekat diri kita, bahkan Allah bersemayam di dalam lubuk hati kita sendiri. Hanya bagaimana cara kita membuat Allah menjadi tersenyum, kembali kepada cara kita masing-masing.


Tuesday, December 23, 2014

JEJAK TUHAN

Penulis : P. Dedy. S

Banyak orang berusaha mencari tahu tentang keberadaan Tuhan. Berbagai teori dan upaya dipakai untuk membuktikannya, padahal tanpa melakukan pembuktian teori yang muluk-muluk, sesungguhnya keberadaan Tuhan itu dapat dijumpai, bahkan dialami. Hanya sekarang apakah mata kita terbuka untuk melihat hal itu, dan batin kita terbuka untuk mengalami akan keberadaan dan kehadiran-Nya. Berikut salah satu pengalaman diriku sendiri yang mengalami bagaimana aku menemukan jejak Tuhan yang sungguh begitu nyata dalam hidup.
Pada tahun 2012 ketika aku masih tinggal di tempat kost Jl. Sam Ratulangi Manado depan toko buku Borobudur dan samping kanan RS Pancaran Kasih, rutinitas pekerjaan lain yang dilakukan yaitu memberi les private mulai siang sekitar pukul 14.00 sampai larut malam sekitar pk 23.00. Beberapa kali diriku terserang oleh angin duduk yang membuatku seperti masuk angin berat. Namun hanya sekali dan itu terakhir kalinya sebelum tempat kost ini digusur yang akhirnya membuatku harus mutasi ke Jl. Kartini depan swalayan Golden, diriku mengalami serangan angin duduk yang luar biasa, sehingga badan lemas, mata mulai berkunang-kunang, bahkan rasa sesak nafas di dada yang membuatku kehilangan nafas,  mata mampu melihat namun hanya sinar putih menyilaukan dan semakin lama semakin gelap. Saat itu sudah mendekati mahgrib, karena situasi itu akhirnya aku memaksakan diri untuk hubungi kakak dan adik via sms, aku katakan  situasi yang terjadi pada diriku saat itu pun kepada orangtua murid yang belum sempat aku datangi hari itu. 
Aku sungguh tak merasa mampu dan kuat lagi untuk berjalan kemana-mana, hanya satu pilihan yang kuambil yakni pulang ke tempat kost. Dalam pandangan yang sudah gelap, hilangnya nafas membuatku harus tertatih-tatih jalan pulang dan beberapa kali harus berhenti sekedar sandar di pohon atau tiang listrik, maklum jarak tempat kost dan kejadian lebih dari 5 km. Di saat sandar itu aku merasakan seperti ada yang menopang, menuntun dan mengantarku sampai tiba di dalam kamar kost lantai dua. Pintu kamar kost seperti ada yang membukakan untukku dan merebahkanku di tempat tidur, tapi entah siapa karena pandanganku gelap, nafaspun tiada, badanpun lemas. Selama dalam tuntunan dan berbaring di tempat tidur, hanya kepasrahan diri yang terjadi, kukatakan " Tuhan, jika Engkau memang harus membawaku hari ini, bawalah aku, namun jika Engkau berkenan janganlah sekarang, sebab aku di sini sendirian, tak ada kekasih, tak ada saudara dan keluarga kecuali teman dan sahabat, aku juga tak mau merepotkan banyak orang dengan jasadku. Aku tak mau meninggalkan jasadku di sini, jika Engkau berkenan ijinkan aku dapat menyelesaikan tugas-tugasku sampai aku kembali ke tanah kelahiranku sendiri, sebab semua ada di sana ". tawar menawar terus terjadi antara diriku dan Tuhan di dalam situasi yang serba sulit dan mencekam itu antara hidup dan sakrat maut. Lalu aku mengalami tak sadarkan diri. Aku tersadar ketika kurasakan ada nafas mengalir dari hidungku. Aku hanya berpikir "wah apakah aku sudah tinggalkan hidupku ini" Begitu kuberanikan buka mata, aku lihat lampu kamarku menyala, aku tersadar benar, namun kulihat pintu dan jendela tertutup dan terkunci dari dalam, lalu siapa yang membawaku masuk dan merebahkanku di kamar? Aku yakin itu Tuhan dan jejak-Nya. Aku bersyukur luar biasa akan anugerah dan kemurahan hati Tuhan ini. Aku didengar-Nya, aku ditolong-Nya. Dalam doaku kukatakan" Tuhan, siapakah aku ini sehingga Engkau mau dan berkenan pada doa dan permohonanku, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba yang penuh noda, dosa dan salah? Aku tahu, hidup Kau berikan, supaya ada kesempatan buatku untuk lebih banyak bertobat, terima kasih Tuhan, Alleluya "
Melalui pengalaman ini ternyata kehadiran dan pertolongan Allah bagi siapa saja itu nyata. Kehadiran-Nya dapat dialami dan dirasakan melalui jejak-Nya. Tentu pengalaman seperti ini bukan hanya diriku saja yang mengalaminya, masih banyak orang pernah mengalami hal serupa. Berkat pengalaman rohani dan sekaligus mistis ini kekuatan hati untuk lebih mencintai dan mengimani Allah sebagai Sang Mesias makin tebal seolah bagaikan pelapis baja yang melindungi seluruh bagian dari diri.
Jejak Tuhan tidak harus dapat ditemukan, dirasakan dan dialami di saat genting terjadi dalam diri kita, melainkan seluruh alam dan segala ciptaan-Nya menampilkan bahwa itu semua adalah jejak Tuhan bagi kita. Maka tak perlu mencari-cari dimana Tuhan dan bagaimana membuktikan adanya Tuhan, sebab keberadaan dan jejaknya sungguh nyata.