Wednesday, December 24, 2014

GARIS KETURUNAN

Sumber  : Matius 1:1-25
Penulis  : P. Dedy. S

Tidak ada manusia yang terlahir dimanapun tanpa mempunyai garis keturunan, selain Adam dan Hawa yang diyakini sebagai manusia pertama. Namun tidak menutup kemungkinan Allah juga menciptakan manusia-manusia pertama yang lain yang akhirnya menumbuhkan jutaan manusia di muka bumi ini. Darimanapun asal usulnya, nyatanya diri kitalah yang sekarang ini hadir di muka bumi dengan segala pengalaman, suka duka, manis dan getir.
Berkat garis keturunan inilah yang sedikit banyak menurunkan berbagai watak, perangai, pola tingkah laku dan kebiasaan termasuk pola pikir. Kedua sisi positif dan negatif turut mewarnai dalam pembentukan diri. Namun kita perlu menyadari bahwa tidak semua kebiasaan baik dan buruk itu karena pengaruh keturunan, lingkungan tempat tinggal dan pergaulan juga turut dalam pembentukan pribadi diri kita. Sekalipun kita berada di lingkungan yang bejat, namun apabila kita mampu mengontrol dan menempatkan diri maka diri kita tidak akan pernah terjangkit kebejatan. Namun apabila diri kita lepas kontrol dan tak mampu lagi menguasai diri, maka diri kita akan terjerumus di dalamnya. Inilah yang melahirkan perbedaan perwatakan antara keturunan dan latar belakang garis keturunan. Sekalipun kita berasal dari keluarga yang baik dan disegani bahkan terhormat, namun apabila tak mampu menempatkan diri lalu ikut-ikutan gaya hidup yang tidak sesuai lagi dengan kebiasaan keluarga, secara otomatis diri kita akan hanyut di dalam arus gaya hidup itu. Sebaliknya, sekalipun kita berasal dari keluarga yang amburadul, namun apabila diri kita mampu menguasai diri dan hidup penuh kesadaran diri, secara otomatis akan memperbaiki garis keturunan itu sendiri.
Banyak kebiasaan baik yang diturunkan secara turun temurun, namun mampu diperkaya berkat faktor belajar dari pengalaman hidup. Kebiasaan baik ini akan terus berkembang apabila diri kita rajin membina dan mengolahnya. Sebab kebiasaan baik tentunya berasal dari Allah, sedangkan kebiasaan buruk berasal dari diri kita sendiri. Dengan kebiasaan baik, akan membawa keselamatan bagi banyak orang, banyak melakukan pembelaan atas hak hidup semua orang terutama tertuduh yang tak bersalah, menjadi pelaku kebenaran, pembawa warta sukacita dan berbagai perbuatan baik. Sedangkan kebiasaan buruk lebih mencelakakan dan menyesatkan banyak orang. Kedua kebiasaan dan perilaku ini disodorkan kepada diri kita untuk dipilih dan dikenakan. Manapun pilihan kita, akan sepenuhnya mempengaruhi seluruh diri dan kehidupan kita di tengah masyarakat.
Banyak hal yang didapat berkat garis keturunan termasuk kemampuan seni dan kemampuan yang lain. Sedangkan aneka kemampuan yang lain akan tumbuh setelah proses belajar. Cara kita menggunakan dan mengolahnya semua kembali ke dalam diri kita masing-masing. Kalau kita mampu menggunakannya dengan baik dan rela berbagi dengan yang lain, niscaya kemampuan itu tidak akan mandul, melainkan terus berkembang dan berkembang lagi. Namun yang perlu mendapatkan penyadaran, apakah segala kemampuan itu kita gunakan untuk memberi kesaksian bahwa Allah itu sungguh baik dan memperhatikan diri kita? Atau hanya kita gunakan sebatas mencari keuntungan belaka? Apakah lewat kemampuan itu kita mau melaksanakan kehendak Allah yang menyelamatkan? Atau kita gunakan kemampuan itu hanya untuk merendahkan orang lain dan membangkitkan keangkuhan diri?
Sebagai manusia beriman dan sehat rohani, marilah kita mengentas diri kita dari kebiasaan buruk ke dalam keselamatan yang senantiasa ditawarkan oleh Allah, sebab Allah sesungguhnya telah hadir dan selalu hadir mengetuk pintu hati kita dan mengantar kita kepada JALAN KESELAMATAN untuk memperoleh HIDUP KEKAL. Hanya semua kembali ke dalam diri kita, mau atau tidak kita membuka pintu hati dan menantikan Allah yang setiap saat melawati diri kita. Semoga demikian, Amin. Tuhan memberkati.


Tuesday, December 23, 2014

JEJAK TUHAN

Penulis : P. Dedy. S

Banyak orang berusaha mencari tahu tentang keberadaan Tuhan. Berbagai teori dan upaya dipakai untuk membuktikannya, padahal tanpa melakukan pembuktian teori yang muluk-muluk, sesungguhnya keberadaan Tuhan itu dapat dijumpai, bahkan dialami. Hanya sekarang apakah mata kita terbuka untuk melihat hal itu, dan batin kita terbuka untuk mengalami akan keberadaan dan kehadiran-Nya. Berikut salah satu pengalaman diriku sendiri yang mengalami bagaimana aku menemukan jejak Tuhan yang sungguh begitu nyata dalam hidup.
Pada tahun 2012 ketika aku masih tinggal di tempat kost Jl. Sam Ratulangi Manado depan toko buku Borobudur dan samping kanan RS Pancaran Kasih, rutinitas pekerjaan lain yang dilakukan yaitu memberi les private mulai siang sekitar pukul 14.00 sampai larut malam sekitar pk 23.00. Beberapa kali diriku terserang oleh angin duduk yang membuatku seperti masuk angin berat. Namun hanya sekali dan itu terakhir kalinya sebelum tempat kost ini digusur yang akhirnya membuatku harus mutasi ke Jl. Kartini depan swalayan Golden, diriku mengalami serangan angin duduk yang luar biasa, sehingga badan lemas, mata mulai berkunang-kunang, bahkan rasa sesak nafas di dada yang membuatku kehilangan nafas,  mata mampu melihat namun hanya sinar putih menyilaukan dan semakin lama semakin gelap. Saat itu sudah mendekati mahgrib, karena situasi itu akhirnya aku memaksakan diri untuk hubungi kakak dan adik via sms, aku katakan  situasi yang terjadi pada diriku saat itu pun kepada orangtua murid yang belum sempat aku datangi hari itu. 
Aku sungguh tak merasa mampu dan kuat lagi untuk berjalan kemana-mana, hanya satu pilihan yang kuambil yakni pulang ke tempat kost. Dalam pandangan yang sudah gelap, hilangnya nafas membuatku harus tertatih-tatih jalan pulang dan beberapa kali harus berhenti sekedar sandar di pohon atau tiang listrik, maklum jarak tempat kost dan kejadian lebih dari 5 km. Di saat sandar itu aku merasakan seperti ada yang menopang, menuntun dan mengantarku sampai tiba di dalam kamar kost lantai dua. Pintu kamar kost seperti ada yang membukakan untukku dan merebahkanku di tempat tidur, tapi entah siapa karena pandanganku gelap, nafaspun tiada, badanpun lemas. Selama dalam tuntunan dan berbaring di tempat tidur, hanya kepasrahan diri yang terjadi, kukatakan " Tuhan, jika Engkau memang harus membawaku hari ini, bawalah aku, namun jika Engkau berkenan janganlah sekarang, sebab aku di sini sendirian, tak ada kekasih, tak ada saudara dan keluarga kecuali teman dan sahabat, aku juga tak mau merepotkan banyak orang dengan jasadku. Aku tak mau meninggalkan jasadku di sini, jika Engkau berkenan ijinkan aku dapat menyelesaikan tugas-tugasku sampai aku kembali ke tanah kelahiranku sendiri, sebab semua ada di sana ". tawar menawar terus terjadi antara diriku dan Tuhan di dalam situasi yang serba sulit dan mencekam itu antara hidup dan sakrat maut. Lalu aku mengalami tak sadarkan diri. Aku tersadar ketika kurasakan ada nafas mengalir dari hidungku. Aku hanya berpikir "wah apakah aku sudah tinggalkan hidupku ini" Begitu kuberanikan buka mata, aku lihat lampu kamarku menyala, aku tersadar benar, namun kulihat pintu dan jendela tertutup dan terkunci dari dalam, lalu siapa yang membawaku masuk dan merebahkanku di kamar? Aku yakin itu Tuhan dan jejak-Nya. Aku bersyukur luar biasa akan anugerah dan kemurahan hati Tuhan ini. Aku didengar-Nya, aku ditolong-Nya. Dalam doaku kukatakan" Tuhan, siapakah aku ini sehingga Engkau mau dan berkenan pada doa dan permohonanku, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba yang penuh noda, dosa dan salah? Aku tahu, hidup Kau berikan, supaya ada kesempatan buatku untuk lebih banyak bertobat, terima kasih Tuhan, Alleluya "
Melalui pengalaman ini ternyata kehadiran dan pertolongan Allah bagi siapa saja itu nyata. Kehadiran-Nya dapat dialami dan dirasakan melalui jejak-Nya. Tentu pengalaman seperti ini bukan hanya diriku saja yang mengalaminya, masih banyak orang pernah mengalami hal serupa. Berkat pengalaman rohani dan sekaligus mistis ini kekuatan hati untuk lebih mencintai dan mengimani Allah sebagai Sang Mesias makin tebal seolah bagaikan pelapis baja yang melindungi seluruh bagian dari diri.
Jejak Tuhan tidak harus dapat ditemukan, dirasakan dan dialami di saat genting terjadi dalam diri kita, melainkan seluruh alam dan segala ciptaan-Nya menampilkan bahwa itu semua adalah jejak Tuhan bagi kita. Maka tak perlu mencari-cari dimana Tuhan dan bagaimana membuktikan adanya Tuhan, sebab keberadaan dan jejaknya sungguh nyata.


Monday, December 22, 2014

ARTI SEBUAH NAMA

Sumber : Lukas 1:57-66
Penulis  : P. Dedy. S

Nampaknya begitu sepele ketika seseorang memberikan nama. Banyak yang meniru figur tertentu, orang terkenal atau tokoh favoritenya tanpa merenungkan dan merefleksikan arti sebuah nama yang dikenakan. Namun tidak sedikit orang yang mengetahui arti dan makna sebuah nama, karena dengan harapan orang tersebut akan mampu hidup sesuai dengan nama yang diberikan. Di masyarakat ada pula yang menggunakan nama khas keturunan keluarga tertentu dengan tujuan agar rantai hubungan kekeluargaan itu tidak putus begitu saja, sebaliknya terus berkesinambungan sampai kapanpun, pun agar mudah mengenali bahwa orang yang menggunakan nama keluarga tersebut masih berasal dari satu keturunan yang sama.
 Tanpa semua orang sadari akan betapa pentingnya arti di balik sebuah nama. Sebab dengan nama, perilaku seseorang dapat dibentuk dan mengarahkan dirinya. Maka seharusnya tidak sembarangan ketika seseorang menentukan namanya. Ada orang yang mengubah namanya, dengan tujuan mengubah nasibnya. Mengapa harus diubah nama yang sudah diberikan kepadanya ? Sebenarnya nama yang sudah dimeteraikan kepada diri kita, tak perlu repot untuk diubah, karena yang diubah itu bukan namanya, melainkan sikap dan perilaku serta cara hidup diri kita sendiri. Jika memang terjadi kesalahan dalam pemberian nama, mengapa dahulu harus menggunakan nama itu.
 Allah memanggil dan menghendaki hidup seseorang dengan berdasar pada nama yang sudah diberikan kepada setiap orang. Melalui nama yang diberikan kepada kita, sesungguhnya Allah sudah menentukan tugas perutusan yang sesuai dengan nama kita masing-masing. Karena tugas perutusan setiap orang berbeda, maka Allah pun tidak tinggal diam, Dia menganugerahkan berkat kasih karunia-Nya kepada masing-masing sesuai dengan nama, kemampuan dan ukuran yang dikenakan. Hanya masalahnya sekarang, apakah masing-masing dari kita sungguh menyadari arti di balik nama yang sudah dikenakan? Apakah sudah berusaha hidup sesuai dengan maksud Allah melalui nama yang diberikan? Atau kita cenderung meniru nama orang lain hanya sekedar cari pamor dan bermegah diri tanpa menyadari tugas perutusan yang terselip di balik sebuah nama?
Janganlah pernah menyalahkan sebuah nama yang sudah diberikan, melainkan marilah kita ubah seluruh sikap, pola dan tingkah laku kita yang kurang berkenan kepada-Nya, mari kita hidup secara lebih baik sesuai dengan nama yang sudah diberikan,karena lewat nama itulah sesungguhnya Allah telah mengasihi kita dengan segala kelimpahan kasih karunia-Nya. Nama kita adalah berkat Allah bagi kita pula. Semoga demikian, Amin. Tuhan memberkati.

NYANYIAN HATI ( MAGNIFICAT)

Sumber : Lukas 1:46-56
Penulis : P. Dedy. S

Setiap orang boleh kecewa, boleh bersedih, boleh apa saja namun janganlah pernah lupa untuk senantiasa bersyukur kepada Allah. Banyak hal yang membuat tiap orang kecewa, sedih dan segala macam rasa dalam hati, kalau sudah mengalami hal ini kecenderungan dalam diri setiap orang adalah menyalahkan Allah, seolah-olah semuanya sudah digariskan atau sudah ditakdirkan. Padahal tidak semua hal itu berasal dari Allah, justru kalau berani melongok ke dalam diri sendiri, banyak hal yang sesungguhnya menimbulkan kekecewaan itu berasal dari kesalahan diri sendiri karena melupakan akan segala pertolongan yang berasal dari Allah. Allah tiada hentinya memberikan pertolongan, tentu dengan cara Allah sendiri. Namun, kitalah yang kurang peka, atau mungkin terlalu mengabaikan sapaan dan pertolongan belas kasih Allah ini, bahkan terlalu cuek kepada-Nya, lalu cenderung menggunakan kekuatan manusiawi sendiri untuk mencapainya. Padahal saat itu kita sedang lemah dan membutuhkan pertolongan dan pendampingan Allah sendiri.

Allah sesungguhnya tiada pernah meninggalkan diri kita, Dia selalu menyertai kita sampai akhir jaman. Maka sudah selayak dan sepantasnyalah apabila peran dan campur tangan Allah ini kita syukuri dengan sepenuh hati dan jiwa, bila perlu ungkapan rasa syukur ini ditunjukkan kepada siapapun dan dengan cara kita sendiri, supaya setiap orang yang melihat kegembiraan dan luapan rasa syukur ini, turut serta bersyukur sambil memuji kebesaran dan kemuliaan nama Allah.
Perlu diingat, janganlah kita hanya bersyukur di saat mengalami kemujuran saja, alangkah baiknya dalam setiap peristiwa entah yang mengenakkan maupun yang memiluhkan hati tetap bersyukur sambil memuji Allah. Sebab di dalam rentetan dan rangkaian setiap peristiwa hidup yang terjadi setiap saat merupakan cara Allah menyapa diri kita,bahkan memberi pelajaran yang berguna bagi pendewasaan iman kita sendiri.
Melalui pengalaman getir dan pahit, sesungguhnya Allah mau memberikan kekuatan dan pelajaran yang sangat bermanfaat bagi diri kita terutama bagi pertumbuhan iman. Supaya dengan pengalaman tersebut, kita dimampukan untuk mengajar setiap orang dengan segala nilai dan pengalaman hasil belajar kita. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah kita tetap bersyukur kepada-Nya karena diperbolehkan merasakan dan mengalami semuanya itu yang dapat menuntun kita masuk ke dalam ruang pertobatan.
Melalui pengalaman manis dan menyenangkan, sebenarnya Allah mau mengajarkan agar kita jangan sampai terlelap dalam kemabukan diri lalu lupa dengan dunia sekitarnya. Kita harus tersadar diri dan ingat masih banyak orang yang perlu mendapatkan perhatian dari diri kita, sekaligus menerima kebaikan Allah yang telah dianugerahkan ke dalam diri kita.
Perlu dihindari pula, janganlah sampai kemujuran itu menjatuhkan diri kita kepada kesombongan diri, lalu bermegah di atas penderitaan orang lain. Kita mustinya tetap rendah hati dan hidup rela berbagi kepada sesama tanpa pamrih dan tanpa menonjolkan diri.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita berani bersyukur setiap saat dan dalam setiap peristiwa, baik pahit, getir, manis dan menyenangkan? Atau kita masih mempunyai kecenderungan untuk lari dari semuanya itu, dan hanya maunya yang enak dan menyenangkan diri sendiri lalu melupakan dunia sekitar kita? Mari kita senantiasa bersyukur baik dalam kemujuran maupun dalam kegagalan, karena semuanya itu seni ukiran tangan Allah yang ingin menyapa dan melimpahkan kasih karunia-Nya, sehingga setiap makhluk kembali memuji Allah.
Semoga demikian, Amin. Tuhan memberkati


ANTARA KASIH KARUNIA DAN PERUTUSAN

Sumber : Lukas 1:26-38
Penulis  : P. Dedy.S

Rasa takut, gentar dan terkejut kerap kali dialami setiap orang apabila dirinya mengalami sesuuatu yang bagi dirinya serba baru dan hal tersebut tidak biasa dialaminya. Perasaan ini memang wajar bagi setiap orang, namun hal ini akan menjadi kehilangan kewajaran apabila perasaan itu dipendam dan dibiarkan berlarut-larut tanpa sebuah solusi sedikitpun. Tentu saja, siapapun orangnya apabila mengalami perasaan seperti ini akan menjadi ganjalan dan menghambat seluruh aktifitasnya, maka rasa damai diperlukan bagi yang  mengalaminya.
Damai dapat berasal dari diri sendiri, tapi dapat pula berkat adanya penghiburan yang berasal dari Allah  entah secara langsung maupun tidak langsung. Darimanapun datangnya rasa damai ini, semuanya merupakan TANDA DAN BERKAT KASIH KARUNIA ALLAH bagi setiap orang. Banyak cara dipakai oleh Allah untuk menyapa diri setiap orang dan membagikan kasih karunia-Nya tersebut. Tentu saja Allah pun berharap agar kasih karunia ini terus diwartakan dan dibagikan bagi semua orang tanpa terkecuali, apapun agamanya, apapun suku bangsanya, semua harus mengalami damai sejahtera yang berasal dari kasih karunia Allah ini. Inilah misi dan sekaligus tujuan Allah hadir menyapa kita manusia dan segenap makhluk hidup.
Setiap orang yang telah memperoleh berkat kasih karunia Allah ini, alangkah baiknya tidak memendamnya untuk dirinya sendiri, melainkan dibagi-bagikan kepada semua orang dan segenap makhluk hidup, agar di dunia ini tercipta dan hadirlah kedamaian dan persatuan, sehingga tak ada lagi peperangan, pertikaian, perselisihan dan segala hal yang memicu dan terhambatnya proses kedatangan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Inilah misi kita, inilah tugas perutusan kita masing-masing.
Kesanggupan dalam pelaksanaan tugas misi ini, berarti satu langkah bagi diri setiap orang untuk menjadikan diri sebagai hamba Allah yang dengan sepenuh hati mengabdi hanya kepada-Nya saja (SOLI DEO). Maka ada beberapa sikap yang perlu kita miliki dalam mengemban tugas misi ini yakni KERENDAHAN HATI, KESEDERHANAAN, KELEMAH - LEMBUTAN, PENGUASAAN DIRI dan KEBERANIAN.

Dengan KERENDAHAN HATI, kita akan dimampukan oleh Allah dalam pelaksanaan tugas ini karena di dalam kerendahan hati kita turut serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah dan segala kuasa-Nya, seperti yang diungkapkan Maria " Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu ". Hanya pribadi yang sungguh mampu berserah diri ke dalam tangan dan kuasa Allah, yang akan mampu melaksanakan segala kehendak-Nya. Memang hal ini sulit, namun itulah cara Allah membahagiakan setiap orang.

Dengan KESEDERHANAAN, kita akan dimampukan oleh Allah untuk terus membuka diri akan segala pertolongan dan perlindungan yang berasal dari-Nya. Karena dengan membangun pribadi yang sederhana kita seperti anak-anak yang selalu berpaut pada kehendak Allah dan menaruh kepercayaan imannya hanya kepada-Nya.

Dengan KELEMBUTAN HATI, kita akan dimampukan oleh Allah untuk menyapa setiap orang sebagai cara kita dalam menyapa Allah sendiri. Sebab Allah selalu hadir dalam diri ciptaan-Nya yakni sesama kita. Maka kalau kita mampu bersikap lembut hati terhadap sesama, maka kepada Allah pun kita akan berlembut hati.

Dengan PENGUASAAN DIRI, kita akan dimampukan oleh Allah untuk melepaskan diri dari  kecenderungan pesimistis yang hanya menuruti kemauan diri sendiri lalu lupa untuk berpeka terhadap lingkungan sekitar.  Melalui penguasaan diri ini, kita menjadi lebih terbuka untuk menerima siapapun yang datang melawati diri kita dalam segala situasi dan kondisi.

Dengan KEBERANIAN, kita akan dimampukan Allah untuk mampu tampil di depan umum dengan segala keadaan dan kemampuan yang kita miliki dengan segala keterbatasan dan kelebihannya. Segala konsekuensi yang dialami merupakan cara Allah memberi pengalaman yang dapat digunakan untuk belajar dan memperkaya kerohanian diri sendiri dan semua orang.

Pertanyaannya sekarang, apakah setiap orang mau dan bersedia untuk melakukan semuanya ini? Apakah berani mati terhadap segala keegoan diri? Apakah berani membongkar diri dan lebih berserah diri hanya kepada kehendak-Nya saja? Kalau semuanya ini mampu dijalani walau harus berproses, tentu dunia baru yang diidamkan semua orang akan tercipta. Semoga demikian. Amin, Tuhan memberkati.

IMAN DAN KEPERCAYAAN

Sumber: Markus 5:21-43
Penulis: P. Dedy. S


Semenjak Yesus hadir di muka umum, diri-Nya menjadi dikenal banyak orang berkat mukjizat  yang sering dilakukan. Namun bagi Dia, bukan karena mukjizat setiap pribadi mengalami keselamatan dan terbebas dari berbagai hal yang menyiksa batin, melainkan berkat IMAN dan KEPERCAYAAN. Hal ini dialami oleh Yairus yang anaknya mengalami kematian dan seorang wanita yang mengalami pendarahan. Yairus dan wanita ini sama-sama memiliki kepercayaan dan harapan bahwa hanya di dalam kasih dan kuasa Allah yang terjelma dalam diri Yesus mampu melepaskan segala penderitaan mereka. 
Yesus melihat ada ketakutan dalam diri mereka, namun ketakutan itu bukan menjadi alasan untuk mengalami kuasa dan kasih Allah. Maka dalam berbagai kesulitan, kepercayaan dan iman harus menjadi dasarnya. Sebab tak semua kepercayaan dilandasi oleh iman, namun dalam iman terdapat kepercayaan. Maka keselamatan yang datang dalam diri tiap pribadi, berkat iman dan kepercayaannya. Karena dengan iman dan kepercayaan, setiap pribadi akan menggantungkan hidup dan berbagai persoalannya hanya kepada Tuhan. Tanpa cinta kasih Tuhan, sesungguhnya kita tak akan mampu berbuat apa-apa. Hanya di dalam kasih Tuhan, segala sesuatu akan kita dapatkan terutama keselamatan diri dan hidup kita. Sebab di tangan Tuhan, kita memperoleh kehidupan dan keselamatan kekal. Apakah kita sudah mempunyai iman dan kepercayaan penuh kepada Allah? Apakah kita sudah menyerahkan diri dan hidup kita kepada Allah? Ataukah kita masih dirundung keraguan dan ketakutan? Marilah memohon kepada Allah untuk menambahkan iman dan kepercayaan dalam diri kita, agar dalam berbagai hal Allah melawati kita. Semoga demikian. Amin.