Thursday, March 26, 2015

MAKNA DI BALIK PERISTIWA TRI HARI SUCI

Penulis : P. Dedy. S


PEMBASUHAN KAKI

Perayaan Kamis Putih bukan hanya perayaan akan kenangan terakhir Yesus bersama dengan para murid, melainkan juga melanjutkan tradisi yang harus dilakukan turun temurun. Salah satu warisan tradisi yaitu PEMBASUHAN KAKI. Yesus sendiri mengatakan “Jadi jikalau Aku Tuhan dan Gurumu  membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu ” (Bdk. Yoh 13:14).

Salah satu dokumen gereja yang menyebutkan tentang pembasuhan kaki adalah Dokumen yang menuliskan ketentuan perayaan yang terkait dengan Paskah, yang disebut Paschales Solemnitatis, yang dikeluarkan oleh Congregation of Divine Worship (Kongregasi Penyembahan Ilahi), 1988 : “51. Pencucian kaki dari para laki-laki dewasa yang terpilih, menurut tradisi, dilakukan pada hari Kamis Putih, untuk menyatakan pelayanan dan cinta kasih Kristus, yang telah datang “bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.” Mengapa harus laki-laki yang melakukan pembasuhan kaki ? Tentu hal ini berkaitan dengan tradisi para rasul yang semuanya adalah kaum lelaki. Apalagi Gereja masih menerapkan sistem patriarkal (mengutamakan laki-laki).
Dengan demikian, nampaknya pembasuhan kaki memang memiliki arti yang sama luasnya dengan mengenangkan kembali peristiwa kurban Tubuh dan Darah Kristus dengan mengucap syukur/ berkat, memecah-mecah roti dan membagi-bagikan roti tersebut, yang terjadi oleh perkataan konsekrasi dalam perayaan Ekaristi. Sedangkan tentang pembasuhan kaki penekanannya tidak untuk menghadirkan kembali peristiwa itu, tetapi untuk memberikan teladan pelayanan dan kasih Kristus. Peristiwa pembasuhan kaki juga memberi makna pembersihan diri dari setiap langkah yang menyesatkan diri kita. Mengapa harus kaki? Sebab kakilah yang lebih banyak mengarahkan perjalanan hidup kita termasuk jalan yang kita tempuh. Maka setelah dibersihkan dari dosa, kita diundang untuk turut serta dalam perjamuan Tuhan.


PENGHORMATAN SALIB

Pada perayaan Jumat Agung, Gereja Katolik mengadakan upacara penghormatan Salib Kristus. Penghormatan tidaklah sama dengan penyembahan. Penghormatan Salib pada perayaan Jumat Agung bukan praktek berhala, karena yang dihormati bukan salib itu, tetapi pengorbanan Kristus yang tersalib, demi menebus dosa-dosa kita. Sesuai dengan Surat Rasul Paulus, “Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain dari Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (Bdk. I Kor 2:2). Itulah sebabnya, meng- apa salib di Gereja Katolik menyertakan tubuh ( corpus ) Kristus, yang disebut sebagai Crucifix, yang artinya Seseorang yang disalibkan.

Selama masa Prapaskah, Gereja mengajak seluruh umat untuk merenungkan peristiwa iman yaitu Allah Bapa yang mengutus Putera-Nya yang tunggal ke dunia untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Kasih-Nya kepada kita mencapai puncaknya pada Jumat Agung, saat Yesus mengorbankan diri-Nya dengan wafat di kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia. Dari sinilah,  seluruh berkat dari Allah mengalir, dan Roh Kudus tercurah kepada umat-Nya. Jadi, kita melihat bahwa tanpa peristiwa Jumat Agung tidak akan ada kebangkitan Kristus atau Minggu Paskah. Untuk inilah salib menjadi tanda kemenangan dan kekuatan Allah (Bdk. I Kor 1:18). Penghormatan salib Kristus dalam Jumat Agung dimulai sekitar abad ke-4 di Yerusalem, sampai sekarang.

Kita tidak dapat merayakan dan menekankan Kebangkitan Kristus tanpa merenungkan sengsara dan wafat-Nya di kayu salib. Jadi penghormatan salib berakar dari tradisi. Penghormatan ini haruslah menjadi ungkapan hati terhadap Yesus yang terlebih dahulu mengasihi kita. Apakah dalam perayaan Jumat Agung, kita boleh menghormati Kristus tanpa mencium salib? PENGHORMATAN SALIB TIDAKLAH HARUS MENCIUM, CUKUP DENGAN MENGANGGUKKAN KEPALA. Semua penghormatan yang kita lakukan tidak sebanding dengan yang seharusnya diterima oleh Yesus. Pada saat menghormati salib Kristus, kita mensyukuri rahmat kasih-Nya yang tak terbatas, yang telah menyelamatkan kita. Kita mensyukuri kasih-Nya yang terbesar, sebab tiada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabat-Nya (Bdk. Yoh 15:13). Penyerahan diri ini nyata terlihat dari Kristus yang tersalib. “Tuhan Yesus, terima kasih atas pengorbanan-Mu di kayu salib bagiku. Bantulah aku untuk bersama Rasul Paulus, mengatakan ini dengan iman: Aku telah disalibkan dengan Engkau. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Engkau yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Engkau, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Mu untuk aku. ” (Bdk. Gal 2:19-20)


MAKNA DI BALIK PERAYAAN LILIN PASKAH

Lilin merupakan salah satu sarana penerangan ketika di tempat kita berada, dilanda kegelapan, sehingga kegelapan itu dapat dihalau. Kegelapan bukan hanya menyelimuti daerah sekitar kita, diri kitapun kerap kali juga dilanda kegelapan akibat salah dan dosa. Maka kita butuh penerang yang dapat menghalau kegelapan hidup kita, siapa lagi kalau bukan Allah sendiri yang menjelma dalam diri Yesus Tuhan kita.

Upacara LILIN PASKAH MERIAH pada SABTU SUCI mengingatkan kita akan peran Allah dalam membebaskan dan membimbing bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Terjanji. Walaupun Israel kerap kali terjatuh ke dalam kegelapan dosa, namun Allah tetap setia hadir MENERANGI jalan hidup mereka. Apa yang dialami bangsa Israel juga sering kita alami, ternyata salah dan dosa masih saja mengintip dan berusaha menjatuhkan kita ke dalam dosa. Kita terjatuh karena kegelapan mata dan hati sudah membutakan diri kita. Maka tidak ada yang sanggup membebaskan kita kalau bukan berharap TERANG yang berasal dari Allah sendiri.

Perayaan LILIN PASKAH menjadi kesempatan bagi kita untuk merenungkan kembali arti penderitaan, wafat dan penantian Yesus bangkit dari antara orang mati untuk membawa keselamatan bagi semua orang. Dia hadir sebagai TERANG PENGHALAU SEGALA KEGELAPAN MATA DAN HATI. Dia datang mengentaskan diri kita dari kuasa kegelapan dosa ke dalam terang abadi bersama-Nya. Oleh karena itu umat perlu menyambut-Nya dengan gembira dan penuh  sukacita. Karena kita diterangi oleh terang yang berasal dari Allah, maka tugas kita haruslah menjaga agar terang yang kita peroleh tetap bernyala mulai dari keluarga. Pemercikan air suci yang disertakan dalam perayaan ini mengingatkan kita akan janji baptis dan tugas orang yang dibaptis yaitu kita harus mampu menjadi TERANG dimanapun kita berada.


Thursday, March 19, 2015

KOTAK PERSEMBAHAN TANAH SUCI SEBAGAI PEMELIHARAAN WARISAN IMAN

(Pendekatan Teologi Kultural)

Penulis : P. Dedy.S

Dalam Gereja Katolik memiliki tradisi untuk memberikan persembahan bukan perpuluhan. Ini yang membedakan antara Gereja Katolik dengan Gereja Kristen lainnya. Persembahan ini disebut kolekte (artinya pengumpulan, persekutuan). Maka kolekte yang dilaksanakan di dalam pertemuan-pertemuan doa maupun perayaan Ekaristi ingin mengajak setiap orang untuk andil dalam semangat solidaritas sebagai satu saudara di dalam persekutuan. Inilah yang menjadi ciri khas umat yang hidup di dalam persekutuan. Karena itu tidak pernah dituntut secara nominal, namun yang lebih dituntut adalah semangat kerelaan hati dan pengorbanan. Tanpa kerelaan dan kemauan untuk berkorban, maka solidaritas hanya tinggal slogan. Maka untuk membangkitkan kesadaran bersama dalam semangat solidaritas, setiap pribadi yang bersatu di dalam persekutuan haruslah didasari oleh semangat kerelaan hati dan pengorbanan.

Bentuk pengorbanan itu tidaklah harus muluk-muluk, cukup yang sesederhana mungkin, yang mungkin oleh kebanyakan orang dipandang remeh dan nampaknya tidak berarti. Justru di balik hal yang kecil lebih banyak mendatangkan arti. Sebab kecil bentuknya namun banyak maknanya. Salah satunya adalah pengorbanan waktu. Tidak ada harta benda yang mampu membeli waktu seseorang, kecuali orang itu sendiri yang menyediakan diri penuh kerelaan tanpa pamrih. Sebaliknya, setiap pribadi yang berada di dalam persekutuan haruslah menerima dan menghargai arti sebuah kehadiran dari setiap pribadi yang hadir di tengah persekutuan. Mengapa dikatakan demikian? Banyak orang ikut dan hadir di dalam persekutuan dengan motivasi tidak murni. Ada yang ingin agar ada pengakuan dari pihak lain atas dirinya dan berbagai motivasi lain.

Selama pekan suci, kolekte tetap diadakan kecuali pada saat PERAYAAN JUMAT AGUNG. Namun sebagai penggantinya akan disediakan KOTAK PERSEMBAHAN BAGI TANAH SUCI. Selama ini umat mengira kotak tersebut adalah kotak sumbangan untuk pengganti teks perayaan, padahal sesungguhnya kotak tersebut akan dipersembahkan bagi TANAH SUCI dengan maksud UMAT TURUT SERTA DALAM KESENGSARAAN TUHAN. Ketidak-mengertian umat ini dikarenakan kurangnya sosialisasi dan cara penempatan kotak. Seharusnya kotak diletakkan terpisah dari petugas yang menyediakan teks perayaan. Namun selama ini yang terjadi, kotak persembahan didekatkan pada posisi petugas penyedia teks perayaan. 

Patut disadari pula bahwa keterlibatan dan keikut-sertaan umat bukan hanya saat itu, melainkan turut bermatiraga selama 40 hari dengan praktek rohani yakni UGAHARI, artinya mengurangi kebiasaan konsumeris menjadi tahan diri. Memang terasa sangat berat, namun itulah salah satu dari keutamaan MATIRAGA yang seharusnya terjadi selama MASA PRAPASKAH. Kalau diperhatikan lebih jauh, umat lebih mudah membeli pulsa daripada memberikan persembahan. Kalau membeli pulsa tidak menghitung-hitung, namun ketika saatnya memberikan persembahan, kerap kali menghitung berapa yang harus dipersembahkan. Pemahaman seperti inilah yang perlu dibongkar dalam pandangan umat, agar perlahan namun pasti iman mereka menjadi tumbuh lebih dewasa.

Dalam budaya di tengah masyarakat, apabila mengunjungi orang yang berduka cita, kita selalu memberikan santunan sebagai tanda solidaritas terhadap saudara kita yang sedang dilanda duka. Demikian pula saat perayaan Jumat Agung, kita diajak turut serta memberikan tanda solidaritas terhadap KELUARGA KUDUS yang sedang berduka namun diwakili oleh TANAH SUCI. Maka sebagai tanda solidaritas dan hidup di dalam persekutuan, UMAT DIHARAPKAN IKUT ANDIL DALAM MENGISI KOTAK TERSEBUT. Sesungguhnya Allah tidak melihat sedikit atau banyaknya persembahan yang diberikan, namun seberapa hati kita rela berkorban bagi Allah dan sesama. Dengan keikutsertaan dalam mengisi kotak persembahan, umat ikut serta pula memelihara TANAH SUCI sebagai milik bersama yang harus dijaga, dirawat dan dilestarikan nilai warisan budaya imannya. Sebab dari sanalah dasar pembentukan iman kita dan karya keselamatan untuk seluruh dunia dimulai.


Wednesday, March 11, 2015

TUBUHKU SEBAGAI KENISAH ALLAH

Sumber : Yohanes 2:13-25
Penulis  : P. Dedy. S

Hidup kita tidak pernah terlepas dari keberadaan tubuh, bahkan kerap kali diri kita lebih banyak diatur oleh tubuh dengan hal-hal yang sesungguhnya tidak diperlukan. Tidak hanya itu, di antara kita ada kalanya dapat menerima keberadaan tubuhnya sendiri dan ada kalanya juga sulit menerimanya dengan berbagai alasannya.

Orang yang sulit menerima keberadaan tubuhnya kerap kali kurang pula untuk mensyukurinya, maka tidak mustahil apabila tubuhnya diperlakukan secara tidak benar, entah merusaknya dengan berbagai perbuatan seperti: narkoba, tindak asusila dan tindakan jahat lainnya. Ada pula yang mencontoh orang lain dan menerapkannya di dalam dirinya, maka timbul pengrusakan di dalam dirinya seperti: ganti warna kulit dan melakukan operasi plastik hanya untuk mengubah bentuk salah satu dari anggota tubuhnya.

Orang-orang seperti yang sudah disebutkan merupakan contoh pribadi yang tidak menyadari bahwa tubuhnya adalah Kenisah Allah. Mungkin perbuatan tersebut juga ada di dalam diri kita sendiri. Kalau memang perbuatan seperti itu ternyata mengakar di dalam diri kita, maka alangkah baiknya apabila kita bertobat dan kembali menyadari bahwa sesungguhnya tubuh kita adalah Kenisah Allah. Jadi tubuh kita ini hanyalah sebuah titipan, maka harus dijaga dengan baik. Dengan melakukan kesepuluh perintah Allah, akan turut membantu usaha kita dalam mensyukuri dan memperlakukan tubuh sebagai Kenisah Allah.

Hari ini kita diingatkan kembali betapa marahnya Yesus apabila melihat Kenisah-Nya yang bukan hanya digunakan sebagai tempat berjualan, namun lebih dari itu yakni sebagai transaksi kejahatan atau penyamun. Padahal seharusnya Kenisah itu dijadikan tempat berdoa, tempat semua orang hidup dalam persekutuan iman, tempat semua orang memberikan persembahan terbaik bagi Allah dan tempat Allah dipermuliakan. Namun kenyataannya kesadaran itu tidak dimiliki. Maka Yesus menuntut perombakan, pembersihan, penyucian dan renovasi. Hal itu dilakukan Yesus sebab pernah dikatakan-Nya “ Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku ” (Yoh 2:17). Karena itu Yesus harus rela wafat dan bangkit demi keselamatan dan kesadaran kita bersama.

Masa PRAPASKAH ini menjadi kesempatan bagi kita untuk turut serta dalam rencana Allah yakni membawa keselamatan bagi dunia dengan memulainya dari diri kita sendiri dengan cara mensyukuri tubuh apa adanya, melakukan tubuh secara hormat, menghargai tubuh, merawat tubuh, menjadikan tubuh sebagai tempat berdoa dan menyadari bahwa tubuh adalah Kenisah Allah yang terus menerus harus dipersembahkan kepada Allah sebagai persembahan yang suci dan mulia.

Dalam keluarga, orangtua harus berperan aktif untuk mendidik anak-anaknya agar mampu menyadari dan menghargai tubuhnya sebagai Kenisah Allah yang harus dijaga kesuciannya dan terus menerus dipersembahkan kepada Allah. Agar mampu mendidik, orangtua haruslah memberikan teladan terlebih dahulu. Sebab apapun yang diterima anak, sesungguhnya berasal dari orangtua. Apabila orangtua sudah mampu berperilaku dengan benar dalam menghargai tubuhnya sebagai Kenisah Allah, maka anak-anak akan mengikutinya. “ Ya Allah. Kupersembahkan tubuhku sebagai persembahan yang hidup, kudus, sejati dan berkenan bagi-Mu. ”



Tuesday, March 10, 2015

SELAMANYA ALLAH ITU SETIA

Sumber : Yohanes 3:14-21
Penulis : P. Dedy. S

Dalam menjalani roda kehidupan ini, kita tidak dapat terlepas dari segala situasi dan kondisi yang membawa ke dalam pengalaman suka dan duka, senang dan derita. Semua orang tentu mendambakan kehidupan yang dijalaninya dipenuhi rasa suka dan senang, lalu menolak segala hal yang tidak mengenakkan dan mendatangkan derita. Kita sering berpandangan bahwa hidup yang diwarnai suka dan senang itu tanda diri kita baik, sedangkan kalau duka dan derita kerap kali dipandang sebagai tanda kutukan dan hukuman atas dosa. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Dalam segala pengalaman hidup yang kita alami, semuanya menjadi tanda rahmat Allah. Dalam semua pengalaman itu Allah mau menunjukkan kasih setia-Nya yang tak pernah berkesudahan (bdk. Ef 2:4-5).

Pengalaman duka dan derita yang kita alami memang dapat dijadikan oleh Allah sebagai cambuk bagi kita agar kita bertobat dan membenahi segala hal yang menjatuhkan kita ke dalam salah dan dosa. Namun jangan pernah disangka, bahwa melalui pengalaman ini pula Allah mau menguji akan iman dan kesetiaan kita kepada-Nya. Sebab dalam kondisi seperti ini, biasanya kita baru ingat akan pertolongan Allah, sehingga membangkitkan harapan akan belaskasih Allah. Allah itu tidak pernah memperhitungkan salah dan dosa yang kita perbuat.

Pengalaman suka dan senang yang kita alami belum tentu pertanda bahwa hidup kita sudah baik dan mulia di hadapan Allah. Sebab melalui pengalaman ini, Allah mau menguji dan melihat apakah kita masih mempunyai iman, harapan dan kasih setia kepada Allah. Sebab dalam pengalaman ini kecenderungan yang timbul selalu membuat kita lupa akan Allah, hilangnya kepekaan terhadap lingkungan dan sesama.

Dalam bacaan hari ini menunjukkan pengalaman Bangsa Israel yang juga diwarnai suka dan senang, duka dan derita. Namun dalam kondisi seperti itu Allah selalu melawati umat-Nya dengan segala kesetiaan-Nya. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya sekalipun dalam kondisi paling sulit. Namun apa balasannya? Bangsa Israel kerap kali tidak setia kepada Allah. Maka untuk menyadarkan dan membangkitkan kesetiaan mereka kembali, Musa harus mengangkat tinggi-tinggi ular, agar siapapun yang melihatnya tidak dipatuk ular. Demikian juga dengan Yesus Tuhan kita, siapapun yang tetap setia dan mengangkat muka kepada-Nya akan diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal (bdk. Yoh 3:14-15).

Pengalaman Bangsa Israel juga termasuk pengalaman diri kita. Dengan menunjukkan kasih setia-Nya ke dalam segala pengalaman hidup, kita diharapkan tetap memuliakan dan meninggikan nama Allah. Pola hidup rohani seperti ini haruslah tertanam di dalam keluarga kita masing-masing melalui pembinaan iman yang makin hari semakin dewasa. Sebab keselamatan dunia ini berawal dari keselamatan yang terjadi di dalam keluarga. Orangtua mempunyai kewajiban memampukan anak-anaknya untuk melihat segala pengalaman hidup mereka sebagai rahmat dan wujud kasih setia Allah, dan diharapkan pula dalam segala pengalaman selalu ingat akan Allah dan mengagungkan nama-Nya. “ Ya Allah, kasih setia-Mu kuagungkan selama-lamanya “.


Wednesday, March 4, 2015

PEMIMPIN YANG MELAYANI

Sumber : Matius 20:17-28
Penulis  : P. Dedy. S

Siapa yang tidak tertarik dengan jabatan dan kedudukan? Karena di sanalah ada kekuasaan, harta melimpah, rasa hormat, disegani dan pamor diri. Namun siapa yang mau mendapatkan jabatan sebagai hamba dan pelayan? Karena di sanalah ada penindasan, penganiayaan, penekanan, perendahan harga diri, dicueki dan hilang harga diri. Kedua model hidup seperti itu tidak pernah ada habisnya. Namun yang paling langkah dalam hidup adalah kemauan untuk hidup sebagai pemimpin yang melayani, yang rela berkorban bagi siapapun tanpa pandang bulu, yang tidak mengejar keuntungan diri sendiri namun selalu memperjuangkan diri sesamanya, yang selalu berwelas asih dan berperilaku adil, bukan bersikap diktator melainkan berjiwa hamba, menghargai hidup sesamanya dan berjuang bagaimana sesamanya memperoleh hidup dan haknya.

Dalam realita hidup, hanya segelintir pribadi yang berkeinginan menjadi pemimpin yang melayani bukan diktator. Karena dalam dirinya ada iman, ada cinta kasih dan ada belaskasih. Sedangkan rata-rata mereka yang mengejar kedudukan dan pamor berusaha meraih jabatan sebagai pemimpin, kerap kali membuat batu sandungan bagi orang lain, karena dalam dirinya ada satu keinginan yakni MENJADI PENGUASA. Segala cara akan ditempuh demi kekuasaan, walau cara itu harus menghalalkan segala cara.

Memang tidak enak menjadi pemimpin yang melayani, sebab tidak dapat tidur nyenyak sementara sesamanya masih menderita. Perjuangan hak hidup untuk sesamanya selalu mengganggu tidurnya. Namun apakah hal itu dapat disingkirkan jikalau Allah menghendaki dirinya sebagai pemimpin yang melayani? Tentu tidak. 

Menjadi pemimpin yang melayani selalu mempunyai musuh, tidak disukai banyak orang bahkan kerap kali dimanfaatkan orang lain. Hal ini dapat terjadi, sebab mereka tidak pernah mengerti arti sebuah kebaikan hati. Namun pemimpin yang melayani yang melandaskan hidupnya pada Sabda Tuhan, dirinya akan dibimbing, diterangi dan dituntun untuk mampu melihat yang baik dan benar. Dengan demikian dirinya tidak semudah itu untuk dikemudikan orang lain lalu mengalami penyesatan.

Untuk menjadi pemimpin yang melayani haruslah mempunyai sikap rendah hati, lemah lembut, rela berkorban, sabar dalam menanggung segala sesuatu, sederhana dan murah hati. Mana mungkin dapat melayani, kalau dalam dirinya tidak dilandasi sikap rendah hati. Hanya yang mampu rendah hati yang mampu melayani. Mana mungkin mampu menghadapi banyak orang, kalau dalam dirinya tidak mampu lembut hati. Maka mungkin dapat menyelamatkan banyak orang, kalau dalam dirinya tidak mempunyai sikap rela berkorban. Maka, sikap-sikap seperti ini yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang melayani.

Maka untuk berkeinginan menjadi pemimpin yang melayani, mari mulai dari diri sendiri. Pimpinlah diri untuk menjadi baik dan benar bagi sesama. Pimpinlah diri untuk mampu melayani sesama, mula-mula dalam masyarakat terkecil yakni keluarga, lalu ke lingkungan sekitar terdekat. Jikalau hal ini mampu kita lakukan, niscaya Allah akan memampukan kita memimpin sesama dalam lingkup yang lebih besar dengan semangat pelayanan.