Saturday, January 30, 2016

SANG MAHA RAHIM SUMBER PERUTUSAN KITA

MINGGU BIASA IV TAHUN C 2016

Sumber:  Lukas 4:21-30
Penulis : P. Dedy. S

Kita sering mendengarkan kata “ Perutusan “ lalu terjebak kepada pemahaman bahwa tugas perutusan itu adalah tugas Paus, Uskup, Imam, Diakon dan para biarawan biarawati. Padahal sesungguhnya tugas perutusan itu adalah tugas kita semua. Sejak dibaptis kita mendapatkan TRI TUGAS KRISTUS yaitu Imam, Nabi dan Raja. Sebagai Imam, kita bukan hanya sanggup memimpin doa-doa, melainkan memiliki kesanggupan dalam mempersembahkan diri sendiri bagi Tuhan dan sesama (Liturgia); Sebagai Nabi, kita diutus untuk mewartakan belaskasih Allah (Kerygma), memberikan kesaksian hidup kita (Martyria) tentang kebaikan Allah di dalam tugas pelayanan kita (Diakonia) entah di keluarga ataupun di masyarakat; Sebagai Raja, kita diutus untuk menggerakkan siapapun untuk tinggal di dalam persekutuan (Koinonia) termasuk diri sendiri dan anggota keluarga kita. Sumber tugas perutusan kita hanya satu yaitu Allah Sang Maha Rahim dengan tugas yang sama yaitu membawa belaskasih Allah kepada siapapun dan dimanapun dengan segala konsekuensinya (Bdk. Yeremia 1:4-5.17-19).

Hanya dengan cinta kasih kita akan dimampukan oleh Allah untuk melaksanakan tugas perutusan tersebut. Tanpa cinta kasih Allah, diri kita tidak akan mampu berbuat apa-apa. Untuk dapat tumbuh, hidup dan memiliki cinta kasih Allah, diri kita harus terlebih dahulu memiliki iman akan Allah di dalam hati. Sebab dari iman itulah akan tumbuh sebuah harapan akan belaskasih Allah di dalam hidup dan segala tugas yang kita laksanakan. Sehingga ketika aneka kesulitan datang menimpah diri kita, maka cinta kasih akan mengalahkan segalanya (Bdk. I Korintus 12:31-13:13).

Tugas perutusan diri kita bukan untuk orang-orang yang sepaham, seiman, sesuku dan sebagainya; melainkan untuk semua orang dari segala lapisan dan golongan, dari anak-anak sampai dewasa, dari yang muda sampai yang tua; agar semua orang dapat mengalami belaskasih Allah (Bdk. Lukas 4:21-30). Semua tugas perutusan itu harus dimulai dari diri sendiri, lalu keluarga dan selanjutnya masyarakat yang kita jumpai dimanapun kita berada.


Friday, January 22, 2016

SANG MAHA RAHIM ITULAH SANG SABDA

MINGGU BIASA III TAHUN C 2016

Penulis   : P. Dedy.S

Sumber : Lukas 1:1-4; 4:14-21

Ketika kita mendengar kata “ Sabda ”, kita tentu akan teringat akan Kitab Suci. Itu adalah Sabda yang tertuliskan. Sedangkan tidak semua Sabda tertuliskan; ada pula yang tidak tertulis atau bersifat lisan dan juga tersirat. Sabda yang tertulis dapat kita baca dari dalam Kitab Suci; Sabda yang bersifat lisan dapat kita dengar dari renungan-renungan atau khotbah atau homili; sedangkan Sabda yang tersirat dapat kita jumpai melalui pengalaman hidup sehari-hari. Walau caranya beragam, namun sumbernya tetap sama yaitu Allah Sang Maha Rahim. Allah mewartakan sabda itu dengan bahasa kita supaya kehadiran-Nya dapat dengan mudah kita dengar, alami, mengerti dan memahami-Nya. Sehingga hati kita menjadi mudah  tergerak untuk mengalami cinta dan belaskasih-Nya yang akan berakhir dengan sukacita. Sabda yang paling nyata dan hidup dapat kita temukan dalam diri Yesus. Kedatangan-Nya untuk menggenapi segala apa yang tertuliskan, terlisankan dan tersiratkan. Apakah kita telah menyadari kesemuanya itu dan berusaha menanggapi-Nya? (Bdk. Nehemia 8:3-5a, 6-7, 9-11).

Sabda tidaklah cukup hanya kita terima dan menyimpannya begitu saja; Sabda itu perlu kita teruskan melalui tugas pewartaan. Dengan mewartakan berarti kita andil dalam tugas pengajaran yang disebut katekese. Pengajaran atau pewartaan itu dapat dilakukan melalui  tugas kita masing-masing sesuai dengan bakat dan kemampuan yang kita miliki secara berbeda; walau tugas berbeda namun sumber pewartaan tetap sama yakni Allah Sang Maha Rahim (Bdk. I Korintus 12:12-30). Melalui pewartaan itu kita mengajak semua orang untuk mengalami belaskasih atau kerahiman Allah.

Dengan menjelma dalam diri Yesus, Allah Sang Maha Rahim yang adalah Sang Sabda ingin menunjukkan tanda solidaritas-Nya dengan kita semua; supaya Allah tidak lagi dikenal sebagai Allah yang transenden atau Allah yang jauh, melainkan menjadi Allah yang imanen atau Allah yang dekat yang akan membebaskan setiap orang dari berbagai belenggu, keterbatasan, penderitaan dan kesulitan hidup untuk beralih ke dalam sukacita melimpah bersama-Nya. Semua itu akan kita alami kalau kita mau mengundang dan menerima Sang Sabda dalam hidup kita (Bdk. Lukas 1:1-4; 4:14-21). 


Saturday, January 16, 2016

MINGGU BIASA II TAHUN C 2016

MENJADI MEMPELAI SANG MAHA RAHIM

Penulis : P. Dedy. S
Sumber : Yohanes 2:1-11

Ketika mendengar kata “mempelai”, kita akan terbawa ke dalam ingatan tentang hidup persatuan dan kesatuan antara suami istri dalam ikatan perkawinan. Memang demikianlah hubungan atau relasi antara Allah dan umat-Nya juga dilambangkan sebagai hubungan ikatan perkawinan seperti suami istri yang tak akan pernah terceraikan dengan cara apapun kecuali maut. Sekalipun aneka permasalahan menimpa hubungan tersebut dan menciptakan keretakan, namun Allah tidak akan membiarkan dan menelantarkan umat-Nya begitu saja seperti suami istri yang saling sangat mencintai dengan penuh kasih setia dalam untung maupun malang sampai maut memisahkannya. Allah Sang Maha Rahim akan tetap mengampuni dan menerima umat-Nya yang berdosa seperti Ketika salah satu pasangan suami istri kedapatan bersalah dan berdosa, namun masih bisa saling menerima dan mengampuninya (Bdk.Yesaya 62:1-5).

Setiap pasangan mempelai telah dianugerahi karunia yang berbeda satu sama lain yang berasal dari satu Roh yang sama. Maka sepasang mempelai akan mengalami kesatuan dan persatuan apabila aneka karunia itu saling disadari, disyukuri dan dimiliki; bukan menjadi perdebatan dan pertikaian yang berujung kepada keretakan bahkan kehancuran. Sebab Allah sendiri menghendaki agar kesatuan itu terjadi karena adanya perbedaan, sehingga saling melengkapi satu terhadap lainnya. Di sinilah sikap pelayanan setiap mempelai dapat terjadi (Bdk. I Korintus 12:4-11).

Sebagai mempelai sejati, Allah tidak akan berdiam diri ketika melihat kesulitan dan aneka masalah yang menimpa dan merusak kebahagiaan sepasang mempelai. Allah akan datang menolong tepat pada waktunya. Allah sebagai Sang Maha Rahim akan mengambil alih dalam mengatasi kesulitan yang menimpah umat kesayangan-Nya. Allah akan tetap memberikan yang terbaik bagi umat-Nya, sekalipun umat-Nya tidak setia kepada-Nya. Sama seperti Yesus yang menyimpan dan memberikan anggur terbaik kepada mempelai ketika kesulitan dialaminya di pesta perjamuan kawin di Kana. Maka, kita pun diharapkan selalu memberikan yang terbaik kepada sesama lebih-lebih kepada pasangan mempelai suami istri (Bdk. Yohanes 2:1-11).