Wednesday, April 29, 2015

PENGHORMATAN TERHADAP MARIA

Penulis : P. Dedy. S

Gereja Katolik merayakan Bulan Mei dan Oktober sebagai Bulan Maria bukan karena berkat adanya penampakan Bunda Maria kepada Santa Bernadette dan tiga anak di Fatimah yang bernama Lucia dos Santos (10 tahun), Fransisco Marto (9 tahun) dan Jacinta Marto (7 tahun), melainkan karena ingin menghormati Maria sebagai Bunda Kudus yang melahirkan Yesus Penebus.

Bunda Maria patut dihormati karena berkat jasanya dalam mengandung, memperjuangkan proses kelahiran Yesus dan penyertaannya selama Yesus hidup bahkan ketika di salib dan dimakamkan. Bunda Maria tidak pernah meninggalkan Yesus walau sekejap. Kemanapun Yesus pergi, Bunda Maria selalu menyertai. Dasar penyertaan inilah yang digunakan Gereja untuk membantu umat untuk turut serta dengan sadar menghormati Maria dan berharap akan segala bantuannya sebagai perantara antara kita dan Yesus Sang Putra.

Walaupun peristiwa penampakan kepada Santa Bernadette dan tiga anak di Fatima itu bukan menjadi dasar penghormatan, namun peristiwa itu tetap menjadi pesan tersendiri sekaligus bukti penyertaan Bunda Maria kepada kita semua. Seperti halnya Bunda Maria membangkitkan harapan dan semangat kepada Santa Bernadette, kita pun diharapkan turut terbangkitkan semangat penuh harapan terhadap pertolongan Sang Bunda dalam mengarungi perjalanan hidup kita.

Banyak cara dipakai untuk menghormati Sang Bunda seperti: Novena, Doa Rosario, Devosi khusus, melakukan ziarah, Doa Medali Wasiat dan aneka bentuk penghormatan lainnya. Itu semua hanya berupa penghormatan bukan penyembahan. Dikatakan demikian karena selama ini banyak orang tersesat karena salah dalam memahami dengan menyamakan antara penghormatan dan penyembahan. Tidak ada yang patut untuk disembah selain Allah sendiri. Namun realitanya banyak orang bukan lagi melakukan penghormatan terhadap Bunda Maria, justru mereka melakukan pemberhalaan terhadap Bunda Maria dengan berbagai cara seperti: memperlakukan patung Maria dan rosario secara berlebihan. Padahal  untuk menghormati tidak harus dilakukan secara berlebihan, hanya bagaimana kita menghayati itu di dalam hati kita sendiri. Bukan benda-benda itu yang mendatangkan keselamatan, melainkan karena berkat doa yang kita panjatkan ke hadapan Allah melalui perantaraan Bunda Maria. Walaupun kita berdoa melalui Bunda Maria tanpa sebuah benda seperti patung dan rosario, doa akan tetap didengarkan oleh Bunda, asalkan doa yang dilambungkan penuh kerelaan hati, menyelamatkan banyak jiwa dan bukan untuk keuntungan diri sendiri.


Mengapa Harus di Bulan Mei?

Pada Bulan Mei, Bunda Maria bukan hanya menampakkan diri kepada Suster Bernadette sebelum dibeatifikasikan sebagai santa, melainkan juga kepada tiga anak gembala yaitu Lucia dos Santos (10 tahun), Fransisco Marto (9 tahun) dan Jacinta Marto (7 tahun) di sebuah desa kecil di Lisbon Portugal. Peristiwa itu terjadi pada 1 Mei 1917. Sebelum penampakan Bunda Maria terjadi, setahun sebelumnya nampaklah sebuah peristiwa di luar kemampuan logika manusia yaitu terjadinya tiga penampakan malaikat yang meminta ketiga anak itu mempersiapkan diri untuk mengalami penampakan Bunda Maria.

Dalam penampakan itu, Malaikat mengajarkan kepada anak-anak, dua doa penyilihan yang harus didoakan dengan hormat yang besar. Pada penampakan terakhir di musim gugur 1916, Malaikat memegang sebuah piala. Ke dalam piala ini meneteslah darah dari sebuah Hosti yang tergantung di atasnya. Malaikat memberi ketiga anak itu Hosti sebagai Komuni Pertama mereka dari piala itu. Anak-anak tidak menceritakan penampakan ini kepada orang lain. Mereka simpan pengalaman mistis itu untuk mereka renungkan dan refleksikan. Mereka melewatkan waktu yang lama dalam doa dan keheningan.

Pada 13 Mei 1917, Ketiga anak itu sedang menggembalakan ternaknya di Cova da Iria, sebuah padang alam yang amat luas, kira-kira satu mil dari desa mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah kilatan cahaya dan setelah kilatan yang kedua, muncul seorang perempuan yang amat cantik. Pakaiannya putih berkilauan. Perempuan yang bersinar bagaikan matahari itu berdiri di atas sebuah pohon oak kecil dan menyapa anak-anak:

"Janganlah takut, aku tidak akan menyusahkan kalian. Aku datang dari surga. Allah mengutus aku kepada kalian. Bersediakah kalian membawa setiap korban dan derita yang akan dikirim Allah kepada kalian sebagai silih atas banyak dosa? Sebab besarlah penghinaan terhadap yang Mahakuasa, juga bagi pertobatan orang berdosa dan bagi pemulihan atas hujatan serta segala penghinaan lain yang dilontarkan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda?"

"Ya, kami mau," jawab Lucia mewakili ketiganya.

Dalam setiap penampakan, hanya Lucia saja yang berbicara kepada Bunda Maria. Jacinta dapat melihat dan mendengarnya, tetapi Fransisco hanya dapat melihatnya saja.

Dalam perjumpaan itu Bunda Maria mengatakan bahwa ia akan segera membawa Jacinta dan Fransisco ke surga. Sedangkan Lucia diminta tetap tinggal untuk memulai devosi kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Ketika mengucapkan kata-kata ini, muncullah dari kedua tangan Maria sebuah cahaya. Di telapak tangan kanannya nampak sebuah hati yang dilingkari duri. Penampakan ini dinamakan Hati Maria Yang Tak Bernoda yang terhina oleh dosa manusia. Sementara menunjukkan tangannya, Bunda Maria pun sambil kembali menyampaikan pesannya:

"Yesus ingin agar dunia memberikan penghormatan kepada Hatiku yang Tak Bernoda. Siapa yang mempraktekkannya, kujanjikan keselamatan. Jiwa-jiwa ini lebih disukai Tuhan, dan sebagai bunga-bunga akan kubawa ke hadapan takhta-Nya."

"Janganlah padam keberanianmu. Aku tidak akan membiarkan kalian. Hatiku yang Tak Bernoda ini akan menjadi perlindungan dalam perjalananmu menuju Tuhan."

"Berkorbanlah untuk orang berdosa. Tetapi teristimewa bila kalian membawa suatu persembahan, ucapkanlah seringkali doa ini: Ya Yesus, aku mempersembahkannya karena cintaku kepada-Mu dan bagi pertobatan orang-orang berdosa serta bagi pemulihan atas segala penghinaan yang diderita Hati Maria yang Tak Bernoda."

Kemudian Bunda Maria memperlihatkan neraka yang sangat mengerikan. Karena begitu mengerikan sampai anak-anak itu gemetar ketakutan melihatnya.

Sambung pesan Sang Bunda,"Bila kelak, pada suatu malam kalian melihat suatu terang yang tidak dikenal, ketahuilah bahwa itu adalah 'Tanda' dari Tuhan untuk menghukum dunia, karena banyaklah kejahatan yang telah kalian lakukan. Akan terjadi peperangan, kelaparan dan penganiayaan terhadap Gereja dan Bapa Suci."
"Untuk menghindari hal itu, aku mohon, persembahkanlah kurban kepada Hatiku yang Tak Bernoda serta komuni pemulihan pada Sabtu pertama setiap bulan."

"Bila kalian berdoa Rosario, ucapkanlah pada akhir setiap peristiwa: Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu. Amin."

Peristiwa penampakan pada 13 Mei 1917 ini sekarang diperingati sebagai Pesta Bunda Maria dari Sakramen Mahakudus.

Perempuan itu juga meminta anak-anak untuk datang ke Cova setiap tanggal 13 selama 6 bulan berturut-turut dan berdoa rosario setiap hari. Seperti halnya pesan Bunda Maria kepada tiga anak di Fatima pada 1 dan 13 Mei 1917 yang meminta supaya kita berdoa rosario dan berdevosi secara khusus pada Sabtu Pertama di awal setiap bulan, maka Gereja juga menentukan bukan hanya pada Sabtu Pertama, melainkan juga mengkhususkan pada setiap Sabtu, kita berdoa secara khusus untuk menghormati Maria. Pesan yang diterima ketiga anak itu juga digunakan Gereja di dalam doa penghormatan kepada Bunda Maria seperti:

 “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka dan hantarlah jiwa-jiwa ke  surga, teristimewa jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu. Amin."

Doa ini diucapkan setiap kali setelah berdoa rosario satu peristiwa. 


Mengapa Harus Bulan Oktober?

Jauh sebelum Bulan Oktober, tepatnya 13 Agustus 1917 anak-anak tidak bisa datang ke Cova karena mereka semua digiring ke pengadilan oleh penguasa daerah setempat. Mereka diancam akan dimasukkan ke dalam minyak panas apabila memberitakan kabar penampakan itu. Hal ini terjadi karena pada waktu itu masih banyak orang tidak dapat menerima dan mengakui kesucian Maria. Selain itu di daerah itu masih banyak orang yang bukan menjadi pengikut Kristus, sehingga dapat dimaklumi apabila tidak mengenal dengan benar tentang sosok Maria. Anak-anak itu dijebloskan ke dalam penjara selama 2 hari. Pada tanggal 19 Agustus Bunda Maria menampakkan diri pada saat anak-anak sedang menggembalakan ternak mereka di Valinhos. Pada saat itulah Bunda Maria kembali menampakan diri kepada mereka dan berpesan:

 "Berdoalah, berdoalah dan bawalah banyak korban bagi orang berdosa. Sebab betapa banyak yang masuk api neraka karena tidak ada yang berdoa dan berkorban bagi mereka."

Pada 13 September 1917 Bunda Maria mendesak lagi tentang betapa pentingnya doa dan kurban. Ia juga berjanji akan datang bersama St. Yusuf dan Kanak-kanak Yesus pada bulan Oktober nanti. Pesannya kepada mereka "Dalam bulan Oktober aku akan membuat suatu tanda heran, agar semua orang percaya."

Penampakan terjadi lagi pada 13 Oktober 1917 kepada tiga anak tersebut beserta dengan sekitar 70.000 orang datang ke Cova untuk menyaksikan mukjizat yang dijanjikan Bunda Maria. Mereka yang datang ke Cova itu tidak semuanya pengikut Kristus, melainkan ada yang ingin membuktikan kesaksian tentang kabar penampakan yang mereka alami dan terima, sehingga apabila penampakan itu tidak terjadi, orang banyak itu akan menghukum ketiga anak itu dengan memasukkannya ke dalam minyak panas.

Pagi itu hujan deras turun seperti dicurahkan dari langit. Ladang-ladang tergenang air dan semua orang basah kuyub. Menjelang siang, Lucia berteriak agar orang banyak itu menutup payung-payung mereka karena Bunda Maria datang.

Lucia mengulangi pertanyaannya pada penampakan terakhir ini, "Siapakah engkau dan apakah yang kau kehendaki daripadaku?" Bunda Maria menjawab bahwa dialah Ratu Rosario dan ia ingin agar di tempat tersebut didirikan sebuah kapel untuk menghormatinya. Ia berpesan lagi untuk keenam kalinya bahwa orang harus mulai berdoa Rosario setiap hari.

"Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya."

Kemudian dengan wajah yang amat sedih Bunda Maria berbicara dengan suara yang mengiba:

"MEREKA TIDAK BOLEH LAGI MENGHINA TUHAN YANG SUDAH BEGITU BANYAK KALI DIHINAKAN."

Bunda Maria kemudian pergi ke pohon oak sebagai tanda penampakan berakhir. Awan hitam yang tadinya bagaikan gorden hitam menyingkir ke samping memberi jalan matahari untuk bersinar. Kemudian matahari mulai berputar, gemerlapan berwarna-warni, berhenti sejenak dan mulai berputar-putar menuju bumi. Orang banyak jatuh berlutut dan memohon ampun. Sementara fenomena matahari terus terjadi, ketiga anak itu melihat suatu tablo Keluarga Kudus di langit. Di sebelah kanan tampak Ratu Rosario. Di sebelah kirinya St. Yosef menggandeng tangan Kanak-kanak Yesus dan membuat tanda salib tiga kali bagi umatnya. Menyusul vision yang hanya tampak oleh Lucia seorang diri: Bunda Dukacita bersama Tuhan berdiri di sampingnya dan Bunda Maria dari Gunung Karmel dengan Kanak-kanak Yesus di pangkuannya. Matahari meluncur seolah-olah akan menimpa orang banyak, tiba-tiba ia berhenti dan naik kembali ke tempatnya semula di langit. 70,000 orang yang berkerumun di Cova itu menyadari bahwa pakaian mereka yang tadinya basah kuyub oleh hujan lebat, tiba-tiba menjadi kering. Demikian pula tanah yang tadinya becek dan berlumpur akibat hujan tiba-tiba menjadi kering. Mukjizat matahari selama 15 menit itu disaksikan bukan hanya oleh orang-orang di Cova da Iria saja, tetapi juga oleh banyak orang di sekitar wilayah itu sampai sejauh 30 mil. Jadi, 70.000 orang yang menyaksikan itu belum termasuk mereka yang berada 30 mil dan mereka yang berada di sekitaran wilayah itu.

Kedua peristiwa ini yakni Bulan Mei dan Oktober, akhirnya menjadi penguat tujuan Gereja melakukan penghormatan kepada Maria. Berkat peristiwa ini pula, kita dapat membedakan mana patung Maria Bunda Kudus dan patung Maria dari Fatima. Patung Maria Bunda Kudus disimbolkan dengan Maria yang mengenakan jubah biru beralaskan putih. Sedangkan patung Maria dari Fatima berjubah warna putih menggunakan mahkota. Karena penampakan terakhir memperlihatkan kembali keluarga Kudus, maka perlu bagi kita untuk berdoa rosario di dalam keluarga. Doa rosario pun tidak harus hanya dilakukan setiap Mei dan Oktober, melainkan dapat juga dilakukan dan didoakan setiap hari. Kebiasaan berdoa secara khusus kepada Bunda Maria ini disebut DEVOSI.



Tuesday, April 28, 2015

HANYA TUHAN TEMPAT BERSANDAR DAN KEKUATAN

Penulis : P. Dedy.S
Sumber : Yohanes 15:1-8

Seseorang yang mengikuti perlombaan mendapatkan semangat dan dukungan dari para pendukungnya dan sorak sorai para penonton, sedangkan kita sendiri memperoleh kekuatan dan dukungan darimana dan dari siapa? Ada orang yang mengatakan bahwa dirinya mampu hidup seorang diri tanpa seorangpun bersamanya, benarkah demikian? Kita tidak akan dapat dan mampu hidup seorang diri, ada orang-orang yang hadir di sekitar kita. Kita membutuhkan mereka, sama seperti mereka membutuhkan diri kita. Kalau kita katakan tidak butuh orang lain, itu berarti kita mendustai diri kita sendiri. Mari kita lihat, pakaian yang kita pakai, makanan yang kita konsumsi, transportasi dan sarana yang kita peroleh, apakah itu bukan dari orang lain? Apakah kita mampu membuat dan mengadakannya sendiri?

Kita membutuhkan kekuatan dan semangat dalam menjalani hidup. Maka, siapa lagi yang dapat memberikan dukungan semangat selain orang-orang yang terdekat di sekitar kita termasuk keluarga. Tentu saja, orang-orang terdekat itu mampu memberi dukungan kepada diri kita bukan karena keinginannya sendiri, melainkan ada kekuatan yang menggerakkannya, siapa lagi kalau bukan Tuhan. Karena kekuatan dan motivasi yang dimiliki manusia itu sangatlah terbatas. Hanya Tuhan satu-satunya yang memiliki kekuatan yang tiada batas. Kekuatan ini akan dapat kita sadari kalau kita sendiri mampu melihatnya sebagai pengalaman rohani ataupun pengalaman mistis bersama dengan Allah.

Pengalaman rohani dan mistis itu berbeda. Pengalaman rohani belum tentu menjadi pengalaman mistis, tetapi pengalaman mistis menambah kedalaman pengalaman rohani. Pengalaman mistis itu dipahami sebagai pengalaman di luar jangkauan logika manusia, sehingga pengalaman itu dinamakan pengalaman supranatural atau pengalaman yang luar biasa. Tentu saja hal ini berbeda dengan pengalaman mistis yang terdapat di dalam pandangan manusia umumnya. Pengalaman mistis yang dimaksud di sini adalah pengalaman langsung dengan Allah seperti: terjadinya mukjizat, mengalami penampakan Allah dan sejenisnya. Sedangkan pengalaman rohani itu lebih mengacu kepada pengalaman sentuhan dari Allah setelah melakukan kegiatan rohani tertentu seperti: hati menjadi tenang setelah mengikuti retreat, rekoleksi, pendalaman iman dan sejenisnya; atau mengalami perubahan sikap secara mendadak setelah mendengarkan Firman Tuhan, lagu pujian, doa dan sejenisnya. Sebagai contoh pengalaman mistis yang dialami Rasul Paulus dan Santo Petrus.

Rasul Paulus sendiri setelah mengalami pengalaman rohani yang sekailgus pengalaman mistis bersama dengan Yesus, semangatnya dalam memberi kesaksian dan pewartaan menjadi begitu besar dan menambah keberaniannya. Peristiwa ini diawali dengan perjumpaan antara Saulus dan Yesus ketika  dalam perjalanan ke Damsyik. Saulus terkenal sebagai orang yang anti Kristus, sehingga setiap orang yang menganut ajaran Yesus ditangkap bahkan dibunuhnya. Namun, ketika dalam perjalanan ke Damsyik, kekuatan Saulus yang ingin melenyapkan para pengikut Yesus menjadi lumpuh seketika saat Yesus hadir dan menampakkan diri-Nya di hadapan Saulus. Ini membuktikan bahwa sekuat apapun manusia, ternyata masih ada batasnya, hanya kuasa Allah yang melebihi segalanya. Pengalaman awal inilah yang akhirnya mengubah banyak hidup Paulus, dan dia percaya di dalam imannya bahwa segala kekuatan itu berasal dari Tuhan yang menjelma dalam diri Yesus (Bdk. Kis 9:26-31). Berkat penampakan yang menjadi pengalaman mistis itu, Rasul Paulus mengalami banyak perubahan di dalam dirinya sendiri. Semula dia mencari dan membunuh para pengikut Yesus, namun sejak peristiwa mistis itu menjadi berubah, justru kepada orang-orang kafir yang tidak mengenal Yesus itulah Rasul Paulus mengawali pewartaannya. Dalam setiap pewartaanya, Rasul Paulus mengharapkan ada pertobatan dalam diri setiap orang dan menerima Yesus sebagai satu-satunya Sumber Keselamatan, sebab Yesus adalah Allah 100%. Rasul Paulus juga berharap bahwa setiap orang perlu melihat dan merenungkan setiap pengalaman hidupnya sebagai pengalaman rohani bersama dengan Allah. Karena dengan lewat permenungan dari pengalaman rohani akan melatih iman seseorang untuk menjadi tumbuh dan berkembang. Hal ini perlu disadari, sebab lewat pengalaman rohani itu, Allah menunjukkan betapa cinta-Nya kepada setiap orang, sehingga kapanpun Allah pasti datang menolong dan memberikan penghiburan tepat pada waktunya.

Allah mau datang menyentuh, menolong dan memberikan penghiburan karena kita masih dicintai-Nya. Hanya caranya Allah melakukan itu semua, ada yang secara langsung melalui pengalaman mistis, namun ada pula yang melalui orang-orang di sekitar kita yang disebut pengalaman rohani. Apapun cara yang dipakai Allah, semuanya mau membuktikan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan diri kita, Dia selalu menyertai kita. Hanya semua kembali ke dalam diri kita sendiri, apakah kita sadar akan semuanya itu dan mau kembali kepada Allah bahwa Dialah satu-satunya tempat kita bersandar dari segala kelemahan dan sumber kekuatan untuk melakukan segala apapun termasuk proses perjalanan hidup kita.

Kalau kita sudah menerima kebaikan dari Allah dengan berupa cinta dan kekuatan, maka sudah selayaknyalah apabila kita bersedia membagikan kepada siapa saja bukan lewat perkataan, melainkan bukti nyata melalui segala perbuatan semampu diri kita. Banyak sarana bagi kita untuk berbagi kasih dari Allah untuk sesama, salah satunya melalui talenta yang dipercayakan ke dalam diri kita. Dengan rela berbagi, hal ini juga akan menguntungkan diri kita, sebab dari karya ini talenta kita sendiri turut dikembangkan, dan kita makin diperkaya. Sebaliknya apabila kita kehilangan kekuatan, hendaknya kembali kepada Tuhan sebab hanya Dialah sumber segala kekuatan, tanpa cinta kasih Allah sesungguhnya diri kita tidak akan mampu berbuat apa-apa (Bdk I Yoh 3:18-24).

Sama seperti tanaman anggur, tidak akan mampu menghasilkan buah yang baik dan memperoleh kekuatan kalau tidak bersandar pada pokoknya. Tuhanlah sebagai pokok anggur dan kita ini adalah ranting-rantingnya yang diharapkan mampu berbuah kasih, kebaikan dan kebenaran (Bdk. Yoh 15:1-8). Memang untuk mampu menghasilkan buah, tanaman anggur perlu perawatan khusus seperti: pemangkasan terhadap banyaknya daun dan ranting yang kering dan tidak produktif. Sebab makin banyak daunnya, tanaman anggur tidak akan dapat menghasilkan banyak buah, sebab bahan makanan yang seharusnya mendukung proses terjadinya buah, menjadi terhalang kepada pertumbuhan daun. Karena itu sebelum menjadi banyak daun, bakal daun harus dipangkas. Demikian pula dengan ranting kering dan tidak berguna perlu dibersihkan agar tidak menghalangi pertumbuhan buah. Dalam diri kitapun sama seperti tanaman anggur, untuk dapat berbuah ranum dan lebat, perlu mengurangi kebiasaan buruk yang menjadi penghalang tumbuhnya kebaikan di dalam diri kita. Bila perlu melakukan pertobatan terus menerus seperti yang diserukan oleh Rasul Paulus. Pertanyaannya sekarang, apakah selama ini kita sudah bersandar kepada Tuhan sebagai pokok atau masih cenderung menggunakan kekuatan sendiri? Bagaimana dengan buah yang kita hasilkan? Sudahkah kita menghasilkan buah yang baik bagi sesama dan orang-orang yang ada di sekitar kita terutama keluarga? Kalau belum, sudah adakah niat dalam diri kita untuk membenahi kebiasaan buruk yang menjadi penghalang pertumbuhan iman kita? Mari kita kembali kepada Tuhan sebagai pokok dan sumber kekuatan, agar kita mampu berbuah kebajikan dan kebenaran.

“ Ya Allah, sesungguhnya tanpa cinta kasih-Mu, diri kami tidak akan mampu berbuat apa-apa, ingatkan kami ketika  lupa akan Dikau Sang Pokok dan Sumber kekuatan “



Wednesday, April 22, 2015

GEMBALA YANG BAIK (PASTOR BONUS)

Penulis : P. Dedy. S
Sumber : Yohanes 10:1-18

Dimanapun kita tinggal dan hidup bahkan beraktivitas selalu bertemu dengan sosok seorang pemimpin. Tanpa disadari, kita pun menjadi pemimpin yaitu pemimpin atas diri kita sendiri. Hanya sekarang kembali ke dalam diri setiap orang yang menjadi pemimpin termasuk diri kita, seperti apakah kepemimpinan yang diberikan? Hal ini perlu kita renungkan bersama, karena cara kepemimpinan setiap orang itu berbeda. Ada pemimpin yang otoriter, ada yang familiar, ada yang paterniter, ada yang militer, ada yang kharismatik dan tipe kepemimpinan lainnya.

Rata-rata orang yang menjadi pemimpin selalu berkeinginan tampil di depan agar mendapatkan kehormatan dan mendapatkan prioritas utama di atas segalanya. Cara memimpinnyapun disertai dengan kekuasaan. Ketika bahaya mengancam, dirinya menghindar atau diselamatkan, sementara orang lain atau bawahannya yang lebih banyak berkorban. Bahkan tidak mengherankan, ada beberapa di antaranya yang berpegang bahwa dirinyalah yang paling benar. Itulah gambaran jiwa kepemimpinan yang dialami oleh kebanyakan orang. Namun itu semua belumlah mencerminkan jiwa seorang GEMBALA.

Yesus merupakan teladan kepemimpinan, maka Dia disebut GEMBALA YANG BAIK. Sebutan ini layak diberikan sebab Yesus tidak hanya berkata-kata, melainkan membuktikan dalam segala tindakan-Nya, seperti:


 1. Yesus tampil di depan umum bukan untuk mencari hormat melainkan memberi keteladanan

Berkali-kali Yesus berusaha tampil di depan umum bukan saja untuk mengenalkan akan pribadi-Nya dan tujuan-Nya datang ke dunia, melainkan juga berusaha menjalin kedekatan dengan umat manusia. Namun yang terjadi, kehadiran-Nya kerap kali mengalami penolakan. Tentu hal ini dipicu oleh keterangan yang diperoleh masyarakat bahwa diri-Nya berasal dari keluarga miskin. Karena latar belakang inilah yang membuat kegagalan Yesus untuk tampil di depan umum. Walaupun beberapa kali mengalami kegagalan, namun usaha Yesus dalam menjalankan misi-Nya tidak pernah berhenti. Kalau di satu tempat ditolak, Yesus masih berharap bahwa masih ada di antara umat manusia yang mau dan bersedia menerima kehadiran-Nya. Apa yang dipikirkan Yesus menuai kenyataan bahwa masih ada di antara manusia yang sungguh berharap dan merindukan akan kehadiran-Nya. Dalam pandangan masyarakat umum, hanya orang yang berasal dari keluarga terpandang yang diperkenankan tampil di depan umum dan mendapatkan kedudukan tertentu. Inilah yang diperkirakan oleh masyarakat saat itu. Padahal, sesungguhnya bukan itu yang dimaksud oleh Yesus dengan tujuan tampil di depan umum. Sebenarnya keinginan Yesus tampil di depan umum yaitu memberikan keteladanan dan menuntun setiap orang ke jalan kebenaran. Ini dilukiskan oleh Yesus sebagai gembala yang menjaga kawanannya menuju padang yang hijau dan air yang tenang (Bdk Yohanes 10:9). Tentu saja untuk mampu mengarahkan kawanan ke jalan kebenaran, Yesus sendiri berjuang belajar tentang kebenaran dan hidup di dalam kebenaran. Kalau diri-Nya mampu melaksanakan itu, maka tidaklah mustahil apabila cara yang sama dapat diterapkan kepada masyarakat yang diistilahkan sebagai kawanan domba.


2. Yesus berkorban untuk kesejahteraan bersama

Yesus tidak menyuruh orang lain berkorban untuk diri-Nya, melainkan diri-Nya sendiri yang dikorbankan bagi banyak orang termasuk kita (Kis 4:8-12a). Tentu hal ini bukan karena diri-Nya ingin dijuluki pahlawan, namun inilah sejatinya misi Yesus. Sepintas nampaknya hanya peristiwa salib yang menjadi bukti pengorbanan Yesus, padahal sesungguhnya bukan hanya itu. Kalau melihat segenap perjalanan-Nya, tidak sedikit Yesus berkorban terutama waktu, tenaga, fisik dan perasaan-Nya. Kitab suci banyak menceritakan betapa banyak waktu dikorbankan bagi Yesus untuk melayani banyak orang yang berusaha menjumpai-Nya dengan berbagai motivasi. Beberapa motivasi yang sangat menonjol seperti: ingin mendengarkan-Nya, ingin mengalami mukjizat-Nya, ingin mengikuti-Nya dan bentuk motivasi lainnya. Demi pelayanan dan pengorbanan kepada banyak orang, Yesus rela tidak istirahat walau hanya sekejap. Setiap disadari bahwa orang banyak mencari-Nya, Yesus pun bergegas berbuat sesuatu untuk mereka. Sebab Yesus tidak mau melihat orang banyak itu seperti domba yang tercerai berai. Yesus mau kalau mereka tinggal dan hidup dalam kawanan atau persekutuan.

Selain waktu, Yesus juga banyak berkorban akan perasaan-Nya. Ini sangatlah nampak betapa hati Yesus tersiksa setiap kali melihat penderitaan yang dialami banyak orang, terutama mereka yang dilanda kemiskinan dan diskriminasi. Karena keinginan Yesus untuk membongkar kebiasaan yang menjadi tradisi ini, akhirnya beberapa kali harus berhadapan dengan hukum adat istiadat dan agama saat itu. Yesus dituduhkan sebagai pengacau bahkan reformator, sehingga dianggap menjadi ancaman terhadap hukum yang berlaku saat itu. Padahal sesungguhnya Yesus bukan mengacaukan, melainkan meluruskan apa yang seharusnya terjadi pada hukum, sebab dasar yang dipakai dalam hukum adat istiadat masa itu adalah HUKUM MUSA yang sering disebut HUKUM TAURAT.


3. Yesus menjadi pemimpin yang melayani bukan dilayani

Dalam menjalankan misi-Nya, Yesus tidak minta untuk dilayani, melainkan diri-Nya sendiri yang melayani dengan bentuk pelayanan yang terbaik. Pelayanan Yesus pertama kali nampak ketika peristiwa perjamuan nikah di Kota Kana. Dalam peristiwa itu sebenarnya Yesus merasa diri belum siap untuk memproklamirkan diri sebagai Mesias, namun berkat nasehat Maria Bunda-Nya, Yesus pun melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Namun, Yesus tidak mau apa yang dilakukan-Nya diketahui banyak orang. Karena pelayanan itu dilakukan penuh kerelaan hati. Sebenarnya banyak peristiwa pelayanan yang dilakukan Yesus, namun kitab suci tidak menceritakan secara menyeluruh.

Pelayanan yang sangat mengharukan yakni peristiwa pembasuhan kaki atas para murid. Dalam peristiwa ini, Yesus menunjukkan kehambaan-Nya kepada para murid yang mewakili seluruh umat manusia. Berkat pelaksanaan tata cara pembasuhan kaki ini, akhirnya kebiasaan ini hendaknya terus dilakukan turun temurun sebagai kenangan akan diri-Nya. Sebenarnya bukan pembasuhannya yang dimaksud namun makna di balik pembasuhan inilah yang ditekankan oleh Yesus, yakni setiap orang wajib melakukan tugas pelayanan sebagai seorang hamba. Memang tidak mudah untuk membangun jiwa hamba, karena dituntut sikap rendah hati dan kelembutan hati.


4. Yesus memimpin dengan penuh cinta kasih

Yesus tidak memimpin dengan penuh kekuasaan (tangan besi), melainkan dengan penuh cinta kasih (I Yoh 3:1-2). Tentu Yesus mempunyai alasan di balik cara kepemimpinan-Nya. Jikalau dengan tangan besi (penuh kekuasaan) misi Yesus tidak akan menuai hasil. Karena dengan cara ini, akan membuat Yesus cenderung berada di atas, padahal tujuan Yesus yakni membaur dengan semua orang. Maka, agar dapat membaur, Yesus harus mematikan keinginan berada di atas lalu mengambil posisi di tengah atau di antara banyak orang.  Dengan membaur, Yesus semakin mengenal setiap pribadi termasuk apa yang menjadi kebutuhan dan harapan banyak orang. Untuk menuai jawaban itu, maka Yesus harus mengalirkan cinta kasih bukan kekuasaan.

Sebenarnya untuk menjadi berkuasa dapat dengan mudah dilakukan oleh Yesus, sebab bagian itu sudah dimiliki-Nya sebagai 100% Allah. Namun hal ini dihindari oleh Yesus, sebab Dia ingin semua orang dipandang sebagai manusia (subyek) bukan obyek. Bukti perjuangan cinta kasih-Nya dapat dlihat dari banyaknya Yesus memperjuangkan hak hidup, hak tinggal, hak untuk bersuara, hak untuk berkumpul dan berserikat seperti yang terjadi pada diri para penderita kusta yang saat itu dikucilkan oleh masyarakat dan pemuka agama karena dipandang sebagai manusia terkutuk. Namun Yesus melihat bahwa itu bukanlah kutukan, melainkan musibah. Maka Yesus membongkar pandangan itu dengan mentahirkan mereka lalu meminta penerimaan dan pengakuan dari para pembesar adat dan agama. Semua ini dilakukan oleh Yesus supaya pandangan kaum terkemuka itu berubah dari pandangan yang keliru menjadi benar. Selain itu Yesus juga mau mengajarkan bahwa sesungguhnya Allah itu baik adanya.


5. Yesus menjadi pemimpin yang bertanggungjawab

Ciri khas kepemimpinan yang diberikan Yesus yaitu BERTANGGUNG JAWAB atas umat-Nya termasuk membangkitkan sebuah harapan besar dalam diri mereka (Yoh 10:11-18). Bentuk tanggungjawab dicontohkan oleh Yesus dengan perumpamaan domba yang hilang. Dalam masalah itu, seorang pemimpin haruslah bertanggungjawab atas kawanan yang dipercayakan kepadanya. Maka, apabila melihat salah satu saja dari anggota kawanannya tidak ada bersama dengan mereka, maka seorang pemimpin (gembala) perlu dan harus berani meninggalkan yang lain guna menemukan yang hilang. Namun sebelum meninggalkan kawanan dan mencari yang hilang, kawanan lainnya haruslah lebih dahulu diarahkan dan dibawa ke tempat yang aman dan mendamaikan. Jikalau tidak, maka semuanya akan menjadi terbengkalai dan tercerai berai hanya demi yang satu dan hilang. Seorang pemimpin (gembala) akan dapat mengetahui bahwa salah satu di antara kawanan itu ada yang hilang, kalau pemimpinnya sendiri mengenal setiap kawanan dombanya. Setiap kehadiran domba sangatlah penting bagi dirinya, karena setiap domba mempunyai keunikan atau kekhasannya sendiri.

Ungkapan ini dibuktikan oleh Yesus dengan beberapa kali melakukan mukjizat kebangkitan atas orang yang mati. Apalagi orang yang mati itu mempunyai nilai penting dalam keluarganya. Bukan berarti semua anggota keluarga tidak penting. Setiap orang memang penting, namun dari yang penting itu masih ada yang jauh lebih penting, misalnya kembali hidupnya pemuda Nain yang seharusnya menjadi motor roda kehidupan keluarganya. Hal serupa juga terjadi pada Lazarus dan anak Yairus. Di balik peristiwa itu sebenarnya Yesus mau mengatakan bahwa diri-Nya bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup, artinya hanya di dalam Dia, semua orang memperoleh hidupnya berkat keselamatan. Apa yang dilakukan Yesus ini sebagai bentuk tanggungjawab dalam pengemban kepercayaan atas umat yang diserahkan kepada-Nya. Hal ini dapat dimiliki Yesus, karena dalam kepemimpinan-Nya didasari oleh cinta kasih. Bentuk kepemimpinan Yesus ini diharapkan terjadi dalam diri kita masing-masing terutama di dalam keluarga. Siapapun yang menjadi pemimpin dalam keluarga, perlu mengikuti keteladanan Yesus. Kita akan mampu memimpin orang lain, kalau kita terlebih dahulu mampu memimpin diri kita sendiri. Apakah kita sudah mampu memimpin diri kita sendiri dan keluarga? “Ya Allah tanamkanlah dalam diriku semangat cinta kasih dan pengorbanan agar aku mampu bertanggungjawab seperti yang Yesus teladankan kepada kami”.



Wednesday, April 15, 2015

KENALKAH KAU AKAN DIA

Penulis : P. Dedy. S

Kita sering kali menyamakan arti kata “tahu” dan “kenal”, padahal keduanya sangatlah berbeda secara definisi. Dalam Bahasa Inggris disebut dengan kata “know”, namun “know” tidak harus hanya diartikan sebagai “tahu”, melainkan mempunyai banyak arti, salah satunya adalah “kenal”. Orang yang tahu akan diri orang lain belum tentu mengenalnya. Namun pribadi yang mengenal orang lain, dirinya  jauh  lebih tahu tentang sosok orang itu termasuk kebiasaannya. Tingkat pengenalan itu sendiri sangat beragam, ada yang hanya 10%, 25%, 50% dan 100%. Perbedaan dalam tingkatan pengenalan ini sangat mempengaruhi pula pada tingkat kedekatan antar personal. Semakin dekat seorang akan yang lain, semakin dalam pengenalan di antara mereka termasuk kebiasaan yang dimiliki. Hal ini juga terjadi terhadap orang-orang yang hidup sejaman dengan Yesus, mereka hanya tahunya bahwa Yesus berasal dari keluarga miskin, anak seorang tukang kayu. Mereka tidak tahu dan mengenal siapa sesungguhnya Yesus. Berkali-kali Yesus tampil di depan umum sambil mengenalkan siapa sejatinya diri Yesus itu. Bahkan cara memperkenalkan diri-Nya pun disertai dengan karya yang tidak berasal dari manusia biasa, melainkan dari campur tangan Allah yakni mukjizat. Sekalipun Yesus mengenalkan diri-Nya, namun kebenaran yang disampaikan ditolaknya, karena orang banyak mengetahui latar belakang Yesus sendiri dari sudut pandang manusia. Akibatnya orang banyak itu tidak mampu lagi membedakan mana yang sungguh benar dan mana yang bersalah. Sehingga Yesus menjadi korban akibat ketidakbenaran yang diterima mereka (Bdk. Kis 3:13-15.17-19). Akhirnya mereka mengubah apa yang seharusnya benar menjadi salah, dan yang seharusnya salah menjadi dibenarkan.

Walaupun banyak yang tidak mengenal-Nya, namun di antara mereka ada yang berusaha mengenal-Nya. Orang-orang  yang mengenal Yesus tentunya juga mengenal Allah, sebab Yesus dan Allah itu satu. Maka tidaklah mengherankan, apabila pada waktu itu kemanapun Yesus melangkah pergi, ke sana pulalah orang banyak mengikuti-Nya termasuk para tokoh agama dan masyarakat. Hanya perbedaannya, kalau orang banyak datang karena ingin mendengarkan nasehat Yesus dan mengalami mukjizat-Nya, sedangkan tokoh agama dan tokoh masyarakat itu mengikuti untuk mencari tahu segala macam kesalahan yang diperbuat oleh Yesus berkaitan dengan tata cara keagamaan dan adat istiadat. Apakah cukup hanya mengikuti dan mendengarkan nasehat-Nya tanpa melaksanakan dalam tindakan konkret? Maka kalau kita mengikuti dan melaksanakan nasehat dan segala perintah Yesus, kita juga akan mengikuti dan melaksanakan apa yang Allah nasehatkan dan perintahkan. Namun itu semua belumlah cukup dikatakan sebagai tanda bahwa kita sungguh mengenal Yesus yang adalah Allah sendiri. Masih banyak tanda-tanda lain yang perlu disertakan sebagai bukti bahwa kita sungguh mengenal Allah dalam pribadi Yesus. Tanda lain yang perlu kita pegang antara lain: melanjutkan tradisi Perjamuan Kasih, Hidup dalam Persekutuan, berbuat kasih dengan sesama, rela dan mau berkorban tanpa pamrih tanpa menonjolkan diri, dan dengan setia duduk di dekat kaki Tuhan untuk mendengarkan Dia bercerita (mendengarkan Firman-Nya). Melalui tanda-tanda inilah, kita dapat dikatakan mengenal Allah yang hadir dalam diri Yesus (Bdk I Yoh 2:1-5a).

Namun apakah yang terjadi dengan para murid, sungguhkah mereka mengenal Yesus? Meskipun berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mereka selalu bersama dengan Yesus, namun realitanya Yesus belum mereka kenal dengan baik. Sehingga kehadiran-Nya sewaktu perjalanan dari Emaus, mereka menyangka bahwa yang beserta mereka adalah orang lain, bukan Yesus yang bangkit. Suara dan bahasa khas Yesus tidak mereka kenal dengan baik. Mereka menjadi kembali tersadar setelah Yesus bersama mereka sambil melakukan kebiasaan-Nya yaitu melaksanakan perjamuan kudus yang diwariskan Yesus kepada para murid. Hal ini dapat terjadi, karena para murid mengenal-Nya kalau Yesus sungguh nyata secara fisik, namun ketika kehadiran-Nya nyata secara rohani, mereka menjadi tidak kenal akan Dia (Bdk Luk 24:35-48). Tentu ini bukan yang diharapkan Yesus. Harapan Yesus bagi kita yakni kita harus mampu mengenal Allah dalam diri Yesus baik secara fisik maupun rohani. Sebab Yesus tidak pernah berubah, yang berubah hanyalah cara Dia menghadirkan diri. Sekarang kembali ke dalam hati kita masing-masing apakah kita sudah dan sungguh mengenal Yesus yang adalah Allah? Adakah tanda-tanda yang membuktikan bahwa kita sungguh mengenal-Nya? Kalau ternyata belum, lalu kapan lagi kita akan memulai? Mari kita kenali Dia lewat kehadiran-Nya setiap saat di perjalanan hidup kita. “ Ya Allah ampunilah aku, sebab aku tidak begitu mengenal-Mu, ajarilah aku untuk lebih mengenal-Mu “.



Sunday, April 12, 2015

PERCAYA DAN KERAGUAN

Sumber : Yohanes 20:19-31 
Penulis  : P. Dedy. S

Ternyata membangun kepercayaan diri antara diri sendiri dengan orang lain itu tidak semudah yang dipikirkan. Mayoritas setiap orang yang dapat mempercayai orang lain itu jikalau sudah terdapat bukti kebenarannya. Tanpa sebuah bukti nyata, pada umumnya seseorang akan sulit menerima, akhirnya menimbulkan persepsi negatif terhadap orang yang menyampaikan informasi yang bagi kita tidak benar, walaupun realitanya benar. Akibatnya, kita cenderung menjelekkan orang tersebut di depan umum dengan tuduhan penyampaian informasi yang tidak benar, padahal ketidakbenaran itu sendiri berasal dari diri kita yang terlalu menuntut bukti nyata dari sebuah informasi. Seandainya kita dapat mempercayai orang lain walau kadarnya mendekati 85%, segala prasangka buruk terhadap orang lain itu dapat dicegah. Hal ini tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kalau kita sudah mengalami kesulitan menaruh kepercayaan terhadap orang lain, maka kepercayaan diri kita terhadap Allah pun patut diragukan, mengapa? Bagaimana mungkin seseorang dapat percaya kepada Allah yang secara fisik tidak nampak, padahal kepada sesamanya saja yang jelas nampak tidak dapat menaruh kepercayaan? Karena untuk memampukan diri kita untuk percaya kepada Allah yang tidak nampak, perlu terlebih dahulu mampu menaruh kepercayaan diri terhadap sesamanya. Sebab sesama itu lebih nyata daripada wujud Allah. Kalau seseorang tetap bersikeras mengaku diri percaya dan beriman kepada Allah, tetapi tidak mampu percaya terhadap sesamanya, maka kepercayaan diri orang tersebut kepada Allah patut diragukan akan kebenarannya. Kemungkinan kepercayaan dan keimanan itu ada, namun hanya sebatas kata atau ucapan belaka.

Thomas salah seorang dari murid Yesus merupakan salah satu bukti sebagai sosok pribadi yang memiliki ciri seperti yang telah disebutkan di atas yakni pribadi yang percaya hanya sebatas ucapan saja. Thomas memang terkenal pemberani, ucapannya patut mendapatkan acungan jempol, sebab dialah yang pertama kali berjanji untuk setia dalam mengikuti hukuman mati bersama dengan Yesus di Yerusalem (Yoh 11:16). Namun keberaniannya menjadi rapuh ketika ajakan itu tidak disambut hangat oleh komunitasnya. Karena dasar inilah yang akhirnya membuat diri Thomas kehilangan kepercayaan terhadap komunitasnya ketika dikabarkan bahwa Yesus bangkit dan menjumpai mereka, walaupun kabar itu sesungguhnya benar.

Thomas baru kembali tersadar dari ketidakpercayaan dirinya terhadap komunitas, ketika matanya melihat sendiri kebenaran yakni sapaan Yesus terhadap dirinya. Ajakan Yesus terhadap Thomas yang disebut Didimus, sesungguhnya membangkitkan tingkat kepercayaan diri Thomas sendiri untuk tahu dan sadar bahwa untuk dapat percaya kepada Allah haruslah lebih dahulu mampu percaya terhadap komunitasnya sebelum kepercayaan itu menjadi meluas ke masyarakat.

Bagi Yesus, kepercayaan itu harus dimulai dari diri sendiri, lalu menuju lingkup terkecil yakni komunitas atau keluarga, selanjutnya meluas ke masyarakat. Apabila kita sudah mampu membangkitkan kepercayaan diri terhadap orang lain dan lingkungan sekitar, maka akan dengan mudah bagi kita untuk menaruh kepercayaan kepada Allah yang tidak nampak. Ini ditegaskan Yesus dengan mengatakan " Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya " (Yoh 20:29). Tetapi apakah hal ini mudah bagi kita untuk melaksanakannya? Tentu semuanya butuh proses, kemauan dan kesadaran tingkat tinggi. Hanya orang yang mau secara sadar akan berproses, tetapi ketika kemauan itu tidak lahir dari kesadaran, maka proses itu tidak akan terjadi. Memang sangat tidak mudah berubah dari pribadi yang sulit percaya menjadi pribadi yang penuh kepercayaan.

Memang patut diakui bahwa belum tentu pribadi yang kita percayai mampu melaksanakan kepercayaan yang diberikan. Namun, apabila kita bersedia kembali ke dalam diri kita dan bertanya " Apakah kita sudah memberikan contoh kepada orang lain bahwa diri kita sendiri mampu dipercaya?" kita akan menemukan bahwa itu semua dari kacamata kita sendiri. Mengapa refleksi ini muncul? Pada umumnya apa yang diperbuat orang lain sesungguhnya cerminan dari diri kita sendiri. Karena kita melihat dan menilai dari ukuran kaca mata kita. Maka, agar kepercayaan mampu mengubah keraguan, haruslah ada kemauan dalam diri kita untuk melakukan OLAH ROHANI terus menerus ( On Going Formation ).



Friday, April 3, 2015

HUKUMAN MATI BUKANLAH SOLUSI AKHIR

Penulis : P. Dedy. S

Ada beberapa negara yang masih menerapkan hukuman mati termasuk Indonesia. Kalau kita bersedia menengok lebih dalam ke hati kita sebagai manusia yang berbudi luhur dan bermartabat tinggi di atas segala makhluk, pantaskah sebagai sesama manusia menerapkan hal ini? Apakah sejatinya kematian adalah hak kita? Bukankah kematian adalah hak kepemilikan Tuhan, sedangkan kita bukankah harus memperjuangkan hak hidup? Namun mengapa antar sesama sudah kehilangan hak hidup dan lebih mengambil alih apa yang seharusnya menjadi hak Tuhan. Apakah manusia yang memberlakukan hal ini sudah memiliki status melebihi Tuhan Allah?

Dalam sejarah iman, Bunda Maria pun ketika kedapatan mengandung di luar nikah, dirinya sudah terancam hukuman mati dengan cara dirajam yaitu dilempari batu sampai mati. Hukum ini berlaku saat itu, walaupun Kitab Suci tidak menuliskannya secara detail. Dengan pemberian hukuman ini, adat istiadat pada waktu itu bertujuan agar perbuatan seperti ini tidak terulang lagi pada orang lain atau generasi selanjutnya, karena jelas-jelas melanggar undang-undang peradatan dan merusak moral kaum hawa dan generasi muda selanjutnya. Para pemuka agama dan adat tidak menghendaki terlalu banyak korban akibat meniru perilaku ini. Maka dengan menjatuhkan hukuman mati terhadap satu orang akan menyelamatkan banyak orang termasuk generasi muda. Seandainya waktu itu terjadi hukum rajam, tidaklah mungkin Yesus sampai terlahir ke dunia. Yesus akan mengalami kegagalan dalam upaya ZELUS ANIMARUM (Penyelamatan terhadap jiwa-jiwa pendosa). Tetapi untungnya Yusup mau mendengarkan nasehat malaikat dan bersedia menerima Maria sebagai istrinya. Karena Yusup tahu dan sadar bahwa kehamilan Maria bukanlah karena perbuatan zinah, melainkan campur tangan Allah terhadap karya PENYELAMATAN. Dengan pengakuan Yusup, Maria memperoleh hak hidupnya dan karya Yesus dapat dilanjutkan. Dengan menyelamatkan Maria, Yusup mau mengatakan kepada hukum yang berlaku saat itu bahwa hukuman mati bukanlah satu-satu sebuah solusi mengakhiri permasalahan. Apabila dalam hati dan pikiran masih terbuka unsur positif, maka masih terbuka pula solusi terbaik demi keselamatan banyak orang termasuk pribadi yang seharusnya menerima hukuman itu.

Selain Maria, masih ada perempuan lain lagi yang mendapatkan hukuman mati yakni perempuan yang kedapatan berzinah lalu oleh para imam, pemuka agama dan pemuka adat dibawa ke hadapan Yesus untuk diadili dan dijatuhi hukuman mati. Dengan sangat jelas para pemuka agama, pemuka adat dan pemberlaku hukum menyampaikan segala alasan agar hukuman mati itu dijatuhkan kepada perempuan itu agar perbuatannya berhenti sampai di situ dan tidak menular kepada kaum hawa lainnya termasuk kepada generasi muda yang akan menjadi korban perbuatannya. Dengan menghukum mati satu pelaku akan menyelamatkan banyak jiwa. Namun Yesus belajar dari pengalaman-Nya sejak di dalam kandungan, bahwa ibu-Nya pun pernah mengalami hal yang serupa. Yesus juga tahu bahwa pemberian hukuman mati bukanlah satu-satunya sebuah solusi. Sebenarnya Yesus bisa saja menyetujui hukuman itu sebab Dia adalah 100% Allah, dan hanya Allah yang berhak menjatuhkan hukuman mati atas manusia dan perbuatannya. Namun Yesus tidak melakukannya, agar semua orang tahu dan sadar akan pentingnya memperjuangkan hak hidup antar sesamanya. Karena itu Yesus meminta pengakuan dari semua yang hadir dan yang menonton hukuman itu berlangsung " Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu " (Bdk. Yoh 8:7). Namun apa yang terjadi, tidak ada satupun orang yang berani melemparkan batu kepada perempuan itu termasuk Yesus. Perkataan Yesus ini telah menyadarkan semua pihak bahwa setiap orang patut memperoleh hak hidupnya, dan hukuman mati bukanlah akhir dari sebuah solusi. Dengan tidak melempari batu, Yesus bukanlah turut berdosa. Tetapi Yesus menghargai hidup, maka Yesus menemukan solusi terbaik untuk memperjuangkan hak hidup orang banyak, sekalipun orang itu berdosa. Memang dalam penyelamatan jiwa perempuan itu, harga diri Yesus jatuh karena turut mendapatkan penilaian dari masyarakat bahwa diri-Nya juga berdosa. Yesus rela kehilangan harga diri demi keselamatan banyak orang dan juga reformasi terhadap hukuman mati tersebut. Solusi akhir yang diberikan Yesus kepada perempuan itu hanya pembebasan atas dosa yang dilakukannya, sekaligus Yesus memberikan catatan khusus kepada perempuan itu agar dia tidak melakukan hal yang serupa lagi.

Yesus sendiri juga bagian dari penerima hukuman mati. Banyak hal telah disangkakan dan dituduhkan sebagai jerat agar hukuman mati itu dilayakkan terhadap Yesus. Yesus banyak menolong dan membebaskan orang dari hukuman mati, namun tidak seorangpun yang membebaskan-Nya dari hukuman mati, termasuk Petrus yang berani menyangkal-Nya, Yudas Iskariot sang pengkhianat, lalu para murid yang lain lari namun sebagian lagi secara diam-diam mengikuti proses hukuman mati itu. Yesus dijatuhi hukuman mati karena selain mengakui diri sebagai Anak Allah (Son of God), juga menentang hukum dan adat istiadat yang berlaku saat itu. Dengan penjatuhan hukuman mati dalam pandangan masyarakat dianggap sebagai satu-satunya solusi yang paling tepat untuk menyudahi sosok seperti Yesus Sang Reformasioner. Dalam pandangan masyarakat, apabila sosok seperti Yesus ini hadir di dunia, akan merusak segalanya termasuk generasi muda sebagai korbannya. Maka dengan melenyapkan satu orang (pengedar/ pembawa perubahan) yakni Yesus, generasi muda terselamatkan, hukuman mati pun menjadi masih layak diterapkan, dan tidak akan ada lagi penentang hukuman mati bagi penerimanya.

Kalau Yudas sadar akan perbuatannya lalu mengambil solusi dengan gantung diri, namun berbeda dengan Petrus. Selain Petrus lari dari kenyataan lalu menyangkal, namun pada akhirnya Petrus tersadar ketika dia mencoba lari kembali dari hukuman mati yang harus diterimanya dari kaisar Nero dan berjumpa dengan Yesus lalu mendapatkan teguran dengan mengatakan " Quo Vadis Petrus ? " artinya "Kamu mau kemana Petrus? Haruskah Aku tersalibkan kembali untuk kedua kalinya?" Dalam penyesalan itu akhirnya Petrus urungkan diri dan kembali ke Roma untuk dihukum mati. Namun karena kesadaran akan kedosaannya, maka Petrus tidak mau disalib seperti halnya Yesus, melainkan disalib terbalik. Tempat itu sekarang bernama Basilika Santo Petrus. Bukan hanya Petrus yang mengalami demikian, Rasul Paulus pun mengalami hal serupa ketika memasuki Kota Roma. Rasul Paulus ditangkap dan dipenggal kepalanya lalu jatuh 3 kali ke tanah.

Semenjak Yesus wafat, proses hukuman mati tetap diberlakukan termasuk bagi para pengikut ajaran Yesus. Jutaan pengikut mengalami hukuman mati secara sadis; ada yang dibakar hidup-hidup, ada yang dilemparkan untuk menjadi santapan binatang buas, ada yang dipenggal, ada yang mengalami hukuman picis sampai mati dan berbagai kekejian lainnya hanya untuk pembenaran terhadap hukuman mati. Semua itu diberlakukan agar generasi yang mengikuti ajaran Yesus tertumpas habis dan diharapkan tidak meracuni generasi yang akan datang. Namun pandangan itu ternyata salah dan keliru. Makin hukuman mati itu ditimpahkan, makin merajalela para pengikut Yesus sampai sekarang. Pengorbanan Yesus, Para Rasul, Para Martir dan Orang Kudus lainnya dalam memperjuangkan dan mempertahankan iman membuahkan rahmat melimpah, berjuang untuk perdamaian dan hak hidup bagi orang tanpa sebuah senjata dan peperangan, melainkan dengan kasih persaudaraan penuh kerelaan.

Maka hukuman mati sebenarnya bukanlah akhir dari sebuah solusi. Apabila kita berpegang pada penegakkan hukuman mati dan menutup diri untuk solusi yang lebih mulia, maka pikiran dan hati tidak akan pernah menemukan solusi yang mulia itu. Sebaliknya, dengan membuka terhadap solusi lain yang lebih mulia, maka solusi yang lebih mulia itu akan diperoleh dengan mudah, lebih bijak dan penuh cinta kasih.



Wednesday, April 1, 2015

PASKAH MENJADI KEBANGKITAN BERSAMA

Penulis : P. Dedy. S

Kalau membaca kitab suci terutama Kitab Perjanjian Baru, kita akan menjumpai bahwa Yesus pun pernah merayakan Pesta PASKAH bersama dengan para murid sebelum ditangkap, disalib dan wafat lalu akhirnya bangkit (Bdk. Matius 26:17, Markus 14:12, Lukas 22:8, Yoh 13:1). Lalu apa sesungguhnya pemahaman Paskah di jaman Yesus dan Paskah jaman sekarang?

Paskah sebenarnya dimulai sejak Bangsa Israel berada dalam perbudakan Bangsa Mesir. Paskah pertama kali ini dirayakan ketika Tuhan akan menjatuhkan tulah yang terakhir kepada Bangsa Mesir yakni anak sulung mati. Pada saat itu Tuhan melalui Musa memerintahkan agar Bangsa Israel merayakan pesta paskah dengan memakan roti tak beragi, sayur pahit, memotong anak domba lalu mengoleskan darahnya pada jenang pintu. Paskah pertama kali itu berarti TUHAN LEWAT. Karena pada waktu itu Allah datang sendiri dan ketika melihat rumah yang terolesi darah anak domba, Allah pun melewatinya, namun ketika Allah melihat rumah yang tidak terdapat darah anak domba, Allah segera memasukinya dan membunuh setiap anak sulung baik hewan maupun manusia. Maka perayaan Paskah yang dijalani oleh Yesus dengan para murid bertujuan melanjutkan tradisi. Tradisi ini dilakukan Yesus, sebab Dia adalah Orang Yahudi. Namun di jaman sekarang makna Paskah berarti KEBANGKITAN TUHAN. Lalu apa bedanya Paskah dulu dan Paskah sekarang? Keduanya sama maknanya. Kalau di jaman dulu Paskah diungkapkan sebagai PEMBEBASAN BANGSA ISRAEL DARI PERBUDAKAN MESIR, Paskah sekarang memberi makna TUHAN MEMBEBASKAN KITA DARI PERBUDAKAN DOSA.

Paskah yang kita rayakan sekarang juga warisan dari tradisi yang harus terus menerus dilanjutkan. Karena Paskah bukan hanya merayakan kebangkitan Tuhan, namun harus menjadi kebangkitan diri kita juga dari berbagai hal yang melemahkan seperti : dosa, kegagalan, keputusasaan, kebimbangan, kekecewaan dan sebab lainnya. Sama seperti para murid yang semula dilanda ketakutan dan kekecewaan, akhirnya berubah menjadi kebangkitan bersama (Bdk. Yoh 20:1-9, Luk 24:13-35). Para murid menjadi kecewa dan ketakutan, karena selama bersama dengan Yesus, mereka sangat berharap bahwa Yesus datang membawa revolusi dan membebaskan mereka dari tangan penjajah. Namun apa yang menjadi pemikiran dan harapan mereka, ternyata salah. Kedatangan Yesus bukanlah seperti yang mereka pikirkan, karena Yesus tidak pernah angkat senjata, melainkan terus menerus mengajarkan perdamaian dan cinta kasih. Dengan kematian Yesus, para murid merasa mencapai kegagalan. Namun dengan kebangkitan-Nya, segala apapun yang mereka rasakan dan pikirkan mengalami perubahan total, apalagi Yesus menguatkan hati mereka dengan berjanji bahwa Dia akan menyertai mereka dan kita semua sampai pada akhir jaman.

Perayaan Kebangkitan Tuhan yang disebut PASKAH seringkali salah dipahami. Banyak orang menganggap SABTU SUCI atau VIGILI PASKAH sudah dianggap PASKAH, padahal Perayaan Paskah itu sendiri jatuh pada HARI MINGGU (Bdk. Yoh 20:1). Sedangkan MALAM VIGILI yang disebut juga SABTU SUCI, sebenarnya perayaan mengenang kesendirian Yesus di dalam makam. Selama penantian itu, kita berharap ada kebangkitan terjadi. Itulah tujuan mengapa kita merayakan MALAM LILIN PASKAH. Sebab dalam perayaan ini, kita berharap kegelapan yang terjadi dapat dihalau oleh terang yang berasal dari kuasa Allah sendiri. Jadi, kebangkitan belum terjadi pada malam PASKAH itu. Tetapi umat sudah terlanjur membudayakan perayaan SABTU SUCI sebagai Peristiwa PASKAH MERIAH, sedangkan MINGGU PASKAH itu sendiri kurang mendapatkan partisipasi umat. Umat lebih banyak menyamakannya dengan Hari Minggu biasa.

Yesus bangkit untuk membukakan harapan baru bagi kita, dan karya keselamatanpun sudah dimulai. Maka sudah seharusnya kita menyambut harapan itu dengan penuh syukur dan sukacita. Karena segala kelemahan sudah dihapuskan oleh Yesus, kini tinggal diri kita sendiri, apakah kita mau membangkitkan harapan baru dalam diri kita bersama dengan kebangkitan Tuhan, atau kita masih ingin berlama-lama berada dalam kubangan lumpur dosa dan kelemahan? (Bdk. I Kor 5:6b-8). Percayalah di dalam iman, hanya di dalam Yesus ada JALAN,  KEBANGKITAN dan HIDUP.


Buku Tuguran

Author:  P. Dedy. S


Tuguran merupakan satu kegiatan ibadah yang dilakukan setelah perayaan KAMIS PUTIH. Ibadah ini dilakukan dengan tujuan menyadarkan umat akan betapa pentingnya menemani Yesus di dalam kesendirian-Nya. Selama tuguran ini, umat yang ikut serta di dalamnya dipandu dalam doa-doa dan puji-pujian untuk menghibur Yesus menjelang kesengsaraan-Nya dalam menanggung segala dosa dan salah yang kita perbuat.

Download di sini:
Cover buku (F4 - 2 pages per sheet)
(format pdf)

(format Word docx)

Teks tuguran - book fold (F4 / Folio)
(format pdf)

(format Word docx)