Showing posts with label Renungan Injil Lukas. Show all posts
Showing posts with label Renungan Injil Lukas. Show all posts

Monday, November 23, 2015

MINGGU I ADVEN TAHUN C 2015

MENYONGSONG KEDATANGAN SANG KERAHIMAN SEJATI

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Lukas 21:25-28, 34-36

Menyongsong, menanti dan berjaga-jaga merupakan ungkapan kata yang merujuk ke dalam sikap tekun, ulet dan sabar. Ketiga sikap keutamaan tersebut merupakan sikap dasar bagi seseorang yang sedang penuh harapan dan cinta kasih. Karena di balik ketiga keutamaan tersebut terdapat nilai pengorbanan diri yang menunjukkan kesetiaan terhadap sosok yang dinanti-nantikan akan kedatangannya.

Allah sebagai Sang Kerahiman Sejati telah berjanji untuk datang kembali memimpin kita menuju jalan kebenaran, keadilan dan perdamaian dengan dilandasi sikap welas asih ( bahasa Jawa) atau belaskasih. Karena itu setiap orang haruslah terlebih dahulu memiliki iman akan Allah, apabila dirinya sungguh-sungguh merindukan dan ingin mengalami belaskasih Allah (Bdk. Yeremia 33:14-16). Hanya satu hal yang perlu kita pegang, yakni: belaskasih itu haruslah tetap mengalir atau luber (Bahasa Jawa) kepada siapapun tanpa terkecuali.

Selain memiliki iman, kita juga perlu bertekun dan ulet di dalam doa, kebajikan, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran dan segenap peraturan-Nya, bertahan di dalam iman, teguh dalam pengharapan dan senantiasa memancarkan cinta kasih kepada sesama dengan terbebas dari segala bentuk eksklusivisme atau pengkhususan. Karena melalui cara itulah kita tetap tinggal di dalam kekudusan (Bdk. 1 Tesalonika 3:12-4:2).

Kedatangan Allah yang dinanti-nantikan saat ini merupakan bagian atau gambaran dari kerinduan diri kita akan kedatangan-Nya kembali di saat akhir jaman. Saat itulah diri kita masing-masing mempertanggungjawabkan iman, amal dan perbuatan kita. Apabila Allah mendapati semuanya itu masih ada, maka kita akan mengalami kerahiman atau belaskasih Allah yang sesungguhnya (Bdk. Lukas 21:25-28, 34-36). Karena itu mulai dari sekarang kita perlu berjaga-jaga dengan tetap tekun, ulet dan sabar di dalam iman, doa dan pengharapan. 



Monday, December 22, 2014

ARTI SEBUAH NAMA

Sumber : Lukas 1:57-66
Penulis  : P. Dedy. S

Nampaknya begitu sepele ketika seseorang memberikan nama. Banyak yang meniru figur tertentu, orang terkenal atau tokoh favoritenya tanpa merenungkan dan merefleksikan arti sebuah nama yang dikenakan. Namun tidak sedikit orang yang mengetahui arti dan makna sebuah nama, karena dengan harapan orang tersebut akan mampu hidup sesuai dengan nama yang diberikan. Di masyarakat ada pula yang menggunakan nama khas keturunan keluarga tertentu dengan tujuan agar rantai hubungan kekeluargaan itu tidak putus begitu saja, sebaliknya terus berkesinambungan sampai kapanpun, pun agar mudah mengenali bahwa orang yang menggunakan nama keluarga tersebut masih berasal dari satu keturunan yang sama.
 Tanpa semua orang sadari akan betapa pentingnya arti di balik sebuah nama. Sebab dengan nama, perilaku seseorang dapat dibentuk dan mengarahkan dirinya. Maka seharusnya tidak sembarangan ketika seseorang menentukan namanya. Ada orang yang mengubah namanya, dengan tujuan mengubah nasibnya. Mengapa harus diubah nama yang sudah diberikan kepadanya ? Sebenarnya nama yang sudah dimeteraikan kepada diri kita, tak perlu repot untuk diubah, karena yang diubah itu bukan namanya, melainkan sikap dan perilaku serta cara hidup diri kita sendiri. Jika memang terjadi kesalahan dalam pemberian nama, mengapa dahulu harus menggunakan nama itu.
 Allah memanggil dan menghendaki hidup seseorang dengan berdasar pada nama yang sudah diberikan kepada setiap orang. Melalui nama yang diberikan kepada kita, sesungguhnya Allah sudah menentukan tugas perutusan yang sesuai dengan nama kita masing-masing. Karena tugas perutusan setiap orang berbeda, maka Allah pun tidak tinggal diam, Dia menganugerahkan berkat kasih karunia-Nya kepada masing-masing sesuai dengan nama, kemampuan dan ukuran yang dikenakan. Hanya masalahnya sekarang, apakah masing-masing dari kita sungguh menyadari arti di balik nama yang sudah dikenakan? Apakah sudah berusaha hidup sesuai dengan maksud Allah melalui nama yang diberikan? Atau kita cenderung meniru nama orang lain hanya sekedar cari pamor dan bermegah diri tanpa menyadari tugas perutusan yang terselip di balik sebuah nama?
Janganlah pernah menyalahkan sebuah nama yang sudah diberikan, melainkan marilah kita ubah seluruh sikap, pola dan tingkah laku kita yang kurang berkenan kepada-Nya, mari kita hidup secara lebih baik sesuai dengan nama yang sudah diberikan,karena lewat nama itulah sesungguhnya Allah telah mengasihi kita dengan segala kelimpahan kasih karunia-Nya. Nama kita adalah berkat Allah bagi kita pula. Semoga demikian, Amin. Tuhan memberkati.

NYANYIAN HATI ( MAGNIFICAT)

Sumber : Lukas 1:46-56
Penulis : P. Dedy. S

Setiap orang boleh kecewa, boleh bersedih, boleh apa saja namun janganlah pernah lupa untuk senantiasa bersyukur kepada Allah. Banyak hal yang membuat tiap orang kecewa, sedih dan segala macam rasa dalam hati, kalau sudah mengalami hal ini kecenderungan dalam diri setiap orang adalah menyalahkan Allah, seolah-olah semuanya sudah digariskan atau sudah ditakdirkan. Padahal tidak semua hal itu berasal dari Allah, justru kalau berani melongok ke dalam diri sendiri, banyak hal yang sesungguhnya menimbulkan kekecewaan itu berasal dari kesalahan diri sendiri karena melupakan akan segala pertolongan yang berasal dari Allah. Allah tiada hentinya memberikan pertolongan, tentu dengan cara Allah sendiri. Namun, kitalah yang kurang peka, atau mungkin terlalu mengabaikan sapaan dan pertolongan belas kasih Allah ini, bahkan terlalu cuek kepada-Nya, lalu cenderung menggunakan kekuatan manusiawi sendiri untuk mencapainya. Padahal saat itu kita sedang lemah dan membutuhkan pertolongan dan pendampingan Allah sendiri.

Allah sesungguhnya tiada pernah meninggalkan diri kita, Dia selalu menyertai kita sampai akhir jaman. Maka sudah selayak dan sepantasnyalah apabila peran dan campur tangan Allah ini kita syukuri dengan sepenuh hati dan jiwa, bila perlu ungkapan rasa syukur ini ditunjukkan kepada siapapun dan dengan cara kita sendiri, supaya setiap orang yang melihat kegembiraan dan luapan rasa syukur ini, turut serta bersyukur sambil memuji kebesaran dan kemuliaan nama Allah.
Perlu diingat, janganlah kita hanya bersyukur di saat mengalami kemujuran saja, alangkah baiknya dalam setiap peristiwa entah yang mengenakkan maupun yang memiluhkan hati tetap bersyukur sambil memuji Allah. Sebab di dalam rentetan dan rangkaian setiap peristiwa hidup yang terjadi setiap saat merupakan cara Allah menyapa diri kita,bahkan memberi pelajaran yang berguna bagi pendewasaan iman kita sendiri.
Melalui pengalaman getir dan pahit, sesungguhnya Allah mau memberikan kekuatan dan pelajaran yang sangat bermanfaat bagi diri kita terutama bagi pertumbuhan iman. Supaya dengan pengalaman tersebut, kita dimampukan untuk mengajar setiap orang dengan segala nilai dan pengalaman hasil belajar kita. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah kita tetap bersyukur kepada-Nya karena diperbolehkan merasakan dan mengalami semuanya itu yang dapat menuntun kita masuk ke dalam ruang pertobatan.
Melalui pengalaman manis dan menyenangkan, sebenarnya Allah mau mengajarkan agar kita jangan sampai terlelap dalam kemabukan diri lalu lupa dengan dunia sekitarnya. Kita harus tersadar diri dan ingat masih banyak orang yang perlu mendapatkan perhatian dari diri kita, sekaligus menerima kebaikan Allah yang telah dianugerahkan ke dalam diri kita.
Perlu dihindari pula, janganlah sampai kemujuran itu menjatuhkan diri kita kepada kesombongan diri, lalu bermegah di atas penderitaan orang lain. Kita mustinya tetap rendah hati dan hidup rela berbagi kepada sesama tanpa pamrih dan tanpa menonjolkan diri.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita berani bersyukur setiap saat dan dalam setiap peristiwa, baik pahit, getir, manis dan menyenangkan? Atau kita masih mempunyai kecenderungan untuk lari dari semuanya itu, dan hanya maunya yang enak dan menyenangkan diri sendiri lalu melupakan dunia sekitar kita? Mari kita senantiasa bersyukur baik dalam kemujuran maupun dalam kegagalan, karena semuanya itu seni ukiran tangan Allah yang ingin menyapa dan melimpahkan kasih karunia-Nya, sehingga setiap makhluk kembali memuji Allah.
Semoga demikian, Amin. Tuhan memberkati


ANTARA KASIH KARUNIA DAN PERUTUSAN

Sumber : Lukas 1:26-38
Penulis  : P. Dedy.S

Rasa takut, gentar dan terkejut kerap kali dialami setiap orang apabila dirinya mengalami sesuuatu yang bagi dirinya serba baru dan hal tersebut tidak biasa dialaminya. Perasaan ini memang wajar bagi setiap orang, namun hal ini akan menjadi kehilangan kewajaran apabila perasaan itu dipendam dan dibiarkan berlarut-larut tanpa sebuah solusi sedikitpun. Tentu saja, siapapun orangnya apabila mengalami perasaan seperti ini akan menjadi ganjalan dan menghambat seluruh aktifitasnya, maka rasa damai diperlukan bagi yang  mengalaminya.
Damai dapat berasal dari diri sendiri, tapi dapat pula berkat adanya penghiburan yang berasal dari Allah  entah secara langsung maupun tidak langsung. Darimanapun datangnya rasa damai ini, semuanya merupakan TANDA DAN BERKAT KASIH KARUNIA ALLAH bagi setiap orang. Banyak cara dipakai oleh Allah untuk menyapa diri setiap orang dan membagikan kasih karunia-Nya tersebut. Tentu saja Allah pun berharap agar kasih karunia ini terus diwartakan dan dibagikan bagi semua orang tanpa terkecuali, apapun agamanya, apapun suku bangsanya, semua harus mengalami damai sejahtera yang berasal dari kasih karunia Allah ini. Inilah misi dan sekaligus tujuan Allah hadir menyapa kita manusia dan segenap makhluk hidup.
Setiap orang yang telah memperoleh berkat kasih karunia Allah ini, alangkah baiknya tidak memendamnya untuk dirinya sendiri, melainkan dibagi-bagikan kepada semua orang dan segenap makhluk hidup, agar di dunia ini tercipta dan hadirlah kedamaian dan persatuan, sehingga tak ada lagi peperangan, pertikaian, perselisihan dan segala hal yang memicu dan terhambatnya proses kedatangan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Inilah misi kita, inilah tugas perutusan kita masing-masing.
Kesanggupan dalam pelaksanaan tugas misi ini, berarti satu langkah bagi diri setiap orang untuk menjadikan diri sebagai hamba Allah yang dengan sepenuh hati mengabdi hanya kepada-Nya saja (SOLI DEO). Maka ada beberapa sikap yang perlu kita miliki dalam mengemban tugas misi ini yakni KERENDAHAN HATI, KESEDERHANAAN, KELEMAH - LEMBUTAN, PENGUASAAN DIRI dan KEBERANIAN.

Dengan KERENDAHAN HATI, kita akan dimampukan oleh Allah dalam pelaksanaan tugas ini karena di dalam kerendahan hati kita turut serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah dan segala kuasa-Nya, seperti yang diungkapkan Maria " Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu ". Hanya pribadi yang sungguh mampu berserah diri ke dalam tangan dan kuasa Allah, yang akan mampu melaksanakan segala kehendak-Nya. Memang hal ini sulit, namun itulah cara Allah membahagiakan setiap orang.

Dengan KESEDERHANAAN, kita akan dimampukan oleh Allah untuk terus membuka diri akan segala pertolongan dan perlindungan yang berasal dari-Nya. Karena dengan membangun pribadi yang sederhana kita seperti anak-anak yang selalu berpaut pada kehendak Allah dan menaruh kepercayaan imannya hanya kepada-Nya.

Dengan KELEMBUTAN HATI, kita akan dimampukan oleh Allah untuk menyapa setiap orang sebagai cara kita dalam menyapa Allah sendiri. Sebab Allah selalu hadir dalam diri ciptaan-Nya yakni sesama kita. Maka kalau kita mampu bersikap lembut hati terhadap sesama, maka kepada Allah pun kita akan berlembut hati.

Dengan PENGUASAAN DIRI, kita akan dimampukan oleh Allah untuk melepaskan diri dari  kecenderungan pesimistis yang hanya menuruti kemauan diri sendiri lalu lupa untuk berpeka terhadap lingkungan sekitar.  Melalui penguasaan diri ini, kita menjadi lebih terbuka untuk menerima siapapun yang datang melawati diri kita dalam segala situasi dan kondisi.

Dengan KEBERANIAN, kita akan dimampukan Allah untuk mampu tampil di depan umum dengan segala keadaan dan kemampuan yang kita miliki dengan segala keterbatasan dan kelebihannya. Segala konsekuensi yang dialami merupakan cara Allah memberi pengalaman yang dapat digunakan untuk belajar dan memperkaya kerohanian diri sendiri dan semua orang.

Pertanyaannya sekarang, apakah setiap orang mau dan bersedia untuk melakukan semuanya ini? Apakah berani mati terhadap segala keegoan diri? Apakah berani membongkar diri dan lebih berserah diri hanya kepada kehendak-Nya saja? Kalau semuanya ini mampu dijalani walau harus berproses, tentu dunia baru yang diidamkan semua orang akan tercipta. Semoga demikian. Amin, Tuhan memberkati.