Sunday, November 29, 2015

TAHUN 2016 SEBAGAI TAHUN KERAHIMAN ILAHI

Sebuah Pengantar

Penulis: P.Dedy.S

Tahun 2016 secara liturgi Gereja mencanangkan sebagai tahun Kerahiman Ilahi yaitu masa yang tepat bagi kita mengalami belaskasih Allah atas hidup di dunia ini. Ajakan ini untuk membuka hati dan sebagai usaha dalam memberi kesaksian tentang kerahiman atau belaskasih Allah kepada semua orang. Kerahiman Allah menjadi teladan bagi kita untuk tidak menghakimi siapapun, namun sebaliknya mengasihi dan mengampuni. Allah sebagai Sumber Kerahiman Ilahi selalu memperhatikan umat-Nya sekalipun dalam keadaan berdosa. Hal itu dilakukan oleh-Nya untuk menunjukkan akan betapa cinta-Nya kepada umat manusia sehingga Ia datang ke dunia untuk menyatakan Kerahiman-Nya. Itulah tanda kebaikan dan belaskasih Allah. Seberapapun besar kedosaan diri kita, namun Allah tiada pernah memperhitungkannya.

Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi akan dimulai tanggal 8 Desember 2015, pada Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda, dan akan berlangsung hingga 20 November 2016, yaitu Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Tahun Yubileum ini memberikan kesempatan bagi keuskupan-keuskupan di seluruh dunia untuk mengambil bagian dalam peristiwa itu dengan membuka Pintu Suci atau Pintu Kerahiman Ilahi, di katedral atau di gereja atau di tempat-tempat yang banyak dikunjungi peziarah termasuk tempat peziarahan. Seruan ini disampaikan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus kepada semua orang kristiani untuk meneruskan cita-cita evangelisasi baru dan sekaligus pembaharuan di dalam karya pastoral.

Sebagai logo digunakanlah Gembala yang baik sedang menggendong jiwa yang hilang dengan harapan semua yang melihat logo ini terdorong kepada ajakan “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapa-Mu adalah murah hati ” (Lukas 6:36), sebuah motto yang menjadi landasan dan sekaligus ajakan untuk mengalami kelimpahan kasih Allah lewat karya belaskasih-Nya.

Motto ini menjadi penting karena akar dari sebuah perdamaian dunia terletak pada sebuah pengampunan. Melalui pengampunan lahirlah sebuah kekuatan baru yang dapat menimbulkan banyak perubahan dari kehidupan lama yang sarat dengan dosa ke dalam kehidupan baru yang diliputi suasana hati damai sejahtera dan penuh sukacita. Bukan itu, melalui pengampunan akan ditanamkan benih-benih keberanian di dalam hati setiap orang, sehingga mampu melihat masa depan baru yang penuh dengan pengharapan.

Karena pentingnya tahun kerahiman Ilahi ini, maka aneka peristiwa akan menjadi bagian dari rentetan yang menyertai tahun penuh rahmat ini. Rentetan peristiwa itu sebagai berikut:
  1. Tanggal 19-21 Januari 2016 diperuntukkan bagi mereka yang terlibat dalam ziarah.
  2. Tanggal 3 April 2016 diperuntukkan bagi pertemuan umat beriman.
  3. Tanggal 24 April 2016 diperuntukkan bagi pertemuan orang muda untuk menyatakan imannya.
  4. Tanggal 29 Mei 2016 diperuntukkan bagi para diakon.
  5. Tanggal 3 Juni 2016 diperuntukkan bagi para imam.
  6. Tanggal 12 Juni 2016 diperuntukkan bagi penderita sakit dan orang cacat.
  7. Tanggal 4 September 2016 diperuntukkan bagirelawan dan orang-orang yang berkarya dalam amal kasih.
  8. Tanggal 25 September 2016 diperuntukkan bagi para katekis.
  9. Tanggal 9 Oktober 2016 diperuntukkan kepada spiritualitas Maria.
  10. Tanggal 6 November diperuntukkan bagi orang tahanan.

Doa Tahun Yubelium Kerahiman Ilahi

Tuhan Yesus Kristus,
Engkau telah mengajarkan kami bermurah hati seperti Bapa surgawi, dan telah mengatakan kepada kami bahwa barangsiapa melihat Engkau melihat-Nya.Tunjukkanlah kepada kami wajah-Mu dan kami akan diselamatkan. Tatapan-Mu yang penuh kasih membebaskan Zakeus dan Matius dari diperbudak oleh uang;
para pezinah dan Maria Magdalena dari mencari kebahagiaan hanya dalam benda-benda ciptaan;
membuat Petrus menangis setelah pengkhianatannya, dan memastikan Firdaus kepada penjahat yang bertobat.
Mari kita dengar, seolah-olah ditujukan kepada kita masing-masing, kata-kata yang Engkau katakan kepada perempuan Samaria:
"Jika engkau tahu tentang karunia Allah!"
Engkau adalah wajah yang kelihatan dari Bapa yang tak kelihatan, wajah Allah yang mewujudkan kuasa-Nya terutama dengan pengampunan dan kerahiman: biarkan Gereja menjadi wajah-Mu yang kelihatan di dunia, wajah Tuhannya yang bangkit dan dimuliakan.
Engkau menghendaki agar para pelayan-Mu juga akan mengenakan kelemahan agar mereka dapat merasa kasihan kepada mereka yang berada dalam ketidaktahuan dan kekeliruan: biarkan semua orang yang menjamah mereka merasa dicari, dikasihi, dan diampuni oleh Allah. Utuslah Roh-Mu dan kuduskanlah setiap orang dari kita dengan urapannya, sehingga Yubileum Kerahiman dapat menjadi sebuah tahun rahmat dari Tuhan, dan Gereja-Mu, dengan antusiasme yang diperbarui, dapat membawa kabar baik kepada orang miskin, memberitakan kebebasan untuk para tawanan dan orang tertindas,
dan memulihkan penglihatan bagi orang buta. Kami mohon ini melalui perantaraan Maria, Bunda Kerahiman, Engkau yang hidup dan memerintah bersama Bapa dan Roh Kudus untuk selama-lamanya.
Amin.


Saturday, November 28, 2015

MINGGU KEDUA ADVEN TAHUN C 2015

MEMBANGUN SIKAP TOBAT DAN PERCAYA KEPADA ALLAH

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Lukas 3:1-6

Dalam penyalaan lilin Adven yang kedua, diri kita diajak untuk membangun sikap tobat. Sikap tobat merupakan kebalikan dari sikap dosa. Kalau sikap dosa itu yang membuat diri kita terjauhkan dari belaskasih Allah, maka dengan sikap tobat berarti kita dituntun untuk mengalami kembali belaskasih Allah yang sempat hilang tersebut.

Untuk dapat menemukan jalan kembali ke dalam belaskasih Allah, dari dalam diri kita sendiri diharapkan mengalami keterbukaan hati. Hanya orang yang mau merendahkan hatinya yang dapat terbuka kepada Allah. Hanya orang yang terbuka hatinya yang mampu menaruh kepercayaan kepada Allah. Hanya orang yang percaya kepada pertolongan dan belaskasih Allah, akan  mendapatkan iman di dalam hatinya (Bdk. Barukh 5:1-9).

Agar iman mampu terjaga dan terpelihara dengan baik, maka diperlukan sikap tekun dalam membina iman, tahu bersyukur dan berterima kasih, ulet dan setia di dalam doa, hidup di dalam kebenaran dan bertahan di dalam kesucian. Inilah ciri-ciri orang yang percaya dan beriman akan Allah (Bdk. Filipi 1:4-6.8-11).

Sebelum kita menyuarakan dan mengajak orang lain untuk bertobat, maka seruan dan ajakan itu hendaknya mula-mula digemakan ke dalam diri kita masing-masing. Sebab tanpa tersadari, sesungguhnya di dalam diri kita masih banyak aneka penghalang yang membuat rahmat Tuhan Sang Kerahiman Sejati itu sulit menggapai diri kita. Maka aneka penghalang itu haruslah kita bongkar terlebih dahulu. Mula-mula dengan membangun niat, sikap sadar, tahu dan mau untuk bertobat. Lalu memberanikan diri datang kepada Allah dan dengan jujur di hadapan-Nya mengakui segala kedosaan dan kesalahan kita, sehingga dengan kuasa Roh-Nya diri kita dibersihkan dan disucikan kembali. Selanjutnya membuat silih atas penghapusan dosa kita. Setelah diri kita kembali menjadi suci dan murni, maka selanjutnya menjadi tugas kita untuk mengajak semua orang kembali kepada jalan yang Allah sudah tunjukkan. Kita sendiri harus menjadi perintis jalan bagi-Nya dan membukakan pintu keselamatan bagi siapa saja. Untuk semuanya itulah, diri kita dipanggil dan diutus-Nya (Bdk. Lukas 3:1-6).


Tuesday, November 24, 2015

MAKNA ADVEN

Ditinjau dari Katekese Liturgi

Penulis: P. Dedy.S

Kata Adven berasal dari Bahasa Latin adventus yang berarti kedatangan. Masa Adven adalah masa penantian penuh harapan dan sukacita akan kedatangan Tuhan. Masa ini ditempatkan sebelum Natal karena memiliki 2 tujuan yaitu:
  1. Melalui Masa Adven, kita mempersiapkan perayaan Natal.
  2. Melalui Masa Adven, kita mengarahkan hati dalam menantikan kedatangan Tuhan pada akhir jaman.

Warna liturgi Adven yang digunakan adalah warna ungu cerah yang memberikan makna tentang pertobatan dan pengharapan.

Ada tiga katekese pokok dalam kaitan dengan Adven, yaitu:
  1. Mengenangkan kedatangan Kristus yang pertama, yakni penjelmaan-Nya menjadi manusia (Inkarnasi).
  2. Menyiapkan kedatangan-Nya secara sakramental, yakni perayaan Natal.
  3. Menantikan kedatangan-Nya yang mulia, yakni kedatangan-Nya pada akhir zaman.
Yang terakhir ini menuntut supaya kita selalu menata diri, meningkatkan iman dan takwa agar bila Tuhan datang dengan mulia kita didapati pantas menyambut Dia dan berbahagia bersama-Nya.

Sudut Pandang Teologi

Adven mengingatkan ke dalam dimensi historis sakramental akan karya keselamatan Allah. Tuhan yang dinanti-nantikan itu adalah Tuhan yang sungguh-sungguh hadir secara nyata di dalam sejarah hidup manusia. Karya keselamatan Allah teraktualisasikan dalam realita sejarah perjalanan dan perjuangan hidup manusia di dunia ini.

Gereja sendiri mengalami hidupnya melalui proses yang panjang yaitu proses keberlangsungan akan karya keselamatan Allah yang sudah dan sementara sedang terwujud dan sedang dinantikan kepenuhannya.

Melalui Adven, mengingatkan Gereja akan tugas misionernya untuk mewartakan Sabda Allah kepada segala bangsa dan pula untuk menyongsong proses kepenuhannya di dalam pembangunan dan terselenggaranya Kerajaan Allah. Tindakan berjaga-jaga dan proses penantian itu hendaknya dilakukan tanpa dirasuki rasa takut, cemas atau was-was, melainkan dengan suasana gembira dan penuh dengan sukacita dan harapan, seperti yang dialami oleh Maria sendiri.


Sudut Pandang Spiritualitas

Selama masa Adven, Gereja mengajak seluruh umat beriman untuk menghayati keutamaan-keutamaan kristiani dengan kembali kepada semangat dasar itu sendiri. Semangat dasar yang dihayati selama masa Adven adalah pengharapan, takwa di dalam iman, membangun sikap tobat, berpaling kembali kepada Allah, membangun sikap berjaga-jaga senantiasa, membangun kemurnian hati dan melakukan penghargaan atas hak dan martabat bagi orang lain.


Makna Lingkaran Adven (Korona)

  1. Lingkaran terbuat dari rangkaian ranting hijau yang melambangkan hidup yang saling berjalinan: kita hidup dalam persekutuan jemaat yang saling berkaitan, ibarat banyak anggota dalam satu tubuh.
  2. Lilin melambangkan terang yang mengusir kegelapan; juga melambangkan Kristus Sang Cahaya. Lilin berjumlah empat menunjuk kepada empat Minggu dalam masa Adven. Penyalaan lilin secara bertahap mulai lilin 1, 2, 3, dan 4 yang menandakan cahaya hati kita semakin terang; juga menandakan bahwa kedatangan Sang Cahaya yakni Kristus semakin mendekat.


Monday, November 23, 2015

MINGGU I ADVEN TAHUN C 2015

MENYONGSONG KEDATANGAN SANG KERAHIMAN SEJATI

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Lukas 21:25-28, 34-36

Menyongsong, menanti dan berjaga-jaga merupakan ungkapan kata yang merujuk ke dalam sikap tekun, ulet dan sabar. Ketiga sikap keutamaan tersebut merupakan sikap dasar bagi seseorang yang sedang penuh harapan dan cinta kasih. Karena di balik ketiga keutamaan tersebut terdapat nilai pengorbanan diri yang menunjukkan kesetiaan terhadap sosok yang dinanti-nantikan akan kedatangannya.

Allah sebagai Sang Kerahiman Sejati telah berjanji untuk datang kembali memimpin kita menuju jalan kebenaran, keadilan dan perdamaian dengan dilandasi sikap welas asih ( bahasa Jawa) atau belaskasih. Karena itu setiap orang haruslah terlebih dahulu memiliki iman akan Allah, apabila dirinya sungguh-sungguh merindukan dan ingin mengalami belaskasih Allah (Bdk. Yeremia 33:14-16). Hanya satu hal yang perlu kita pegang, yakni: belaskasih itu haruslah tetap mengalir atau luber (Bahasa Jawa) kepada siapapun tanpa terkecuali.

Selain memiliki iman, kita juga perlu bertekun dan ulet di dalam doa, kebajikan, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran dan segenap peraturan-Nya, bertahan di dalam iman, teguh dalam pengharapan dan senantiasa memancarkan cinta kasih kepada sesama dengan terbebas dari segala bentuk eksklusivisme atau pengkhususan. Karena melalui cara itulah kita tetap tinggal di dalam kekudusan (Bdk. 1 Tesalonika 3:12-4:2).

Kedatangan Allah yang dinanti-nantikan saat ini merupakan bagian atau gambaran dari kerinduan diri kita akan kedatangan-Nya kembali di saat akhir jaman. Saat itulah diri kita masing-masing mempertanggungjawabkan iman, amal dan perbuatan kita. Apabila Allah mendapati semuanya itu masih ada, maka kita akan mengalami kerahiman atau belaskasih Allah yang sesungguhnya (Bdk. Lukas 21:25-28, 34-36). Karena itu mulai dari sekarang kita perlu berjaga-jaga dengan tetap tekun, ulet dan sabar di dalam iman, doa dan pengharapan. 



Friday, November 20, 2015

KEKUATAN KATA DAN SUARA

Penulis               : P. Dedy.S
Sumber             :  Hazrat Inayat Khan
Jenis file            : EPUB
Jumlah halaman : 494

Kata dan suara yang diungkapkan oleh setiap orang sama-sama memiliki kekuatannya masing-masing. Lewat kata walaupun tanpa terucapkan dapat memberikan 2 unsur di dalam diri kita yaitu unsur positif dan negatif.

Unsur positif yang diberikan lewat kata dapat berupa dukungan, kritikan, saran, usul, pujian dan masih banyak hal lain. Kesemuanya itu memberikan daya bangun di dalam diri kita. Sebaliknya unsur negatif yang ditujukan kepada setiap orang dapat membawa seseorang ke dalam sebuah permasalahan hidup yang dapat memperkeruh sebuah permasalahan, misalnya makian, hujatan, cemooh, kritik menjatuhkan dan kata-kata pedas lainnya. Bahkan ragam kejahatan dapat dilakukan hanya cukup dengan menggunakan rangkaian kata-kata tanpa harus bersuara.

Melalui kata-kata, kita dapat mengenal pribadi seseorang apabila kata-kata itu sungguh keluar dari dalam dirinya sendiri yang diungkapkan secara jujur. Akan lain halnya apabila setiap rangkaian kata itu muncul dari dirinya namun tidak secara jujur diungkapkan atau mengutip dari tempat lain. Maka, lewat dunia kata itu akan sulit bagi kita untuk mengenali pribadi yang sesungguhnya. Karena kebanyakan orang suka mengenakan “topeng” untuk menutupi keaslian dirinya sendiri. Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang seperti ini dapat dikenali lewat untaian katanya yang sesekali terloloskan.

Itulah cabang ilmu psikologi yang perlu kita pelajari untuk membantu kita mengenal orang lain walaupun hanya lewat sebuah untaian kata. Penjelasan lebih jauh dapat anda temukan dengan membaca dan memiliki buku ini: SPIRITUAL DIMENSIONS OF PSYCHOLOGY.

Buku ini dapat didownload di sini: Download buku


Apabila dalam smartphone atau Ipad terdapat aplikasi pendukung yang memampukan untuk membaca file EPUB, maka anda cukup mendownload buku ini dan membacanya.

Tetapi apabila di dalam gadget anda tidak mendukung terbacanya file EPUB, maka anda dapat mendownload aplikasi MOBI POCKET EBOOK di sini http://ancilladoministudio.blogspot.com lalu menginstalnya ke dalam komputer, laptop, netbook atau notebook anda.



Sunday, November 15, 2015

HARI RAYA KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM - TAHUN B 2015


KRISTUS SANG RAJA KERAHIMAN SEJATI 

Sumber :  Yohanes 18:33b-37
Penulis  : P. Dedy.S
Ketika kita mendengar kata “Raja”, pemahaman yang muncul pertama akan mengarahkan kita kepada sosok penguasa yang memerintah dengan kekuasaan atau tangan besi, duduk di atas singgasana yang megah dan bermahkotakan emas berlian. Ketika memandang Yesus, justru yang kita jumpai bukan seperti raja-raja dunia. Yesus justru bermahkotakan duri dan singgasana-Nya adalah salib. Segala perintah yang disampaikan bukan berupa kekuasaan, melainkan sebuah panggilan kepada pelayanan kasih yang mengarah kepada keadilan, kebenaran dan perdamaian. Maka timbullah pertanyaan “Benarkah Dia Raja?”
Raja-raja atau para pemimpin dunia kekuasaannya terbatas, sedangkan kekuasaan Allah dalam diri Yesus kekal abadi selamanya. Kekuasaan yang diterapkan-Nya terwujud di dalam pelayanan secara penuh (totalitas) dalam bentuk pengorbanan hidup bagi orang lain. Bukan mencari dan mengejar keselamatan bagi dirinya sendiri (Bdk. Daniel 7:13-14).

Kita pun mendapatkan gelar raja dan imam sejak dibaptis. Namun gelar yang kita terima tersebut bukanlah jabatan, melainkan tugas perutusan.  
Sebagai raja, kita diutus untuk rela dan tulus dalam melayani sesama. 
Sebagai imam, kita diutus untuk semakin bersemangatkan pengorbanan, terutama mengorbankan diri sendiri demi kepentingan dan kebaikan bersama. Segala bentuk pengorbanan itu disatukan dengan korban Yesus demi  keselamatan dunia. Agar dunia ini dipenuhi damai dan sukacita berlimpah (Bdk. Wahyu 1:5-8).

Dengan melaksanakan tugas sebagai raja dan imam, berarti kita turut menjadi saksi kebenaran. Kebenaran itu haruslah kita miliki lebih dahulu. Kebenaran itu sendiri adalah Allah Sumber Kerahiman Sejati atau Allah Yang Berbelaskasih. Kita dapat menghadirkan Allah Yang berbelaskasih itu melalui sikap rela berkorban bagi kepentingan bersama dan mengampuni kesalahan sesama. Sikap pengorbanan itu adalah wujud kasih. Kasih dan kebenaran itu saling terjalin satu sama lain. Maka, kalau kita mampu menunjukkan kasih kepada sesama, berarti kita pula menunjukkan kebenaran yang berasal dari Allah. Apabila setiap orang mengalami kasih dan kebenaran, berarti Kerajaan Allah sudah tercipta di dunia dan Allah sendiri akan merajai setiap manusia dengan kasih-Nya Yang Maha Rahim (Bdk. Yohanes 18:33b-37).


Friday, November 13, 2015

HIDUP DICURAHKAN

Sebuah Kesaksian Hidup

Penulis: P. Dedy. S

Di tahun 2015 ini banyak hal yang sulit untuk dimengerti. Mula-mula ketika munculnya nama saya terpilih sebagai ketua katekese. Saya sendiri tidak pernah mengajukan nama ke dalam pencalonan untuk sebuah kedudukan di dalam Gereja yaitu sebagai ketua katekese. Namun, secara tiba-tiba diri saya ditelepon oleh ketua bidang sumber Bapak Agustinus Edi Antoro dan diberikan ucapan selamat atas terpilihnya saya sebagai ketua katekese. Saat itu Pastor Paroki adalah RD. Damar Cahyadi. Reaksi pertamanya diri saya terkejut bukan main, karena tidak merasa mencalonkan diri. Karena semenjak diri saya kembali dari Manado ke Surabaya sudah tidak pernah berharap untuk terjun dan aktif dalam hidup menggereja, selain sebagai umat biasa. Karena itu setiap kali diundang bahkan ditarik-tarik oleh teman-teman dan umat di wilayah dan paroki, diri saya tetap saja menyibukkan diri dengan banyak perkara yang lain daripada perkara hidup menggereja. Karena tujuan saya waktu itu mau berfokus dulu di dunia ekonomi untuk memperbaiki ekonomi yang saya jalani untuk menghidupi ibu saya sebagai satu-satunya orangtua yang masih hidup. Sebab orangtua saya tidak mempunyai penghasilan apa-apa. Karena itu selama masih tinggal di Manado, hasil jerih payah selalu saya kirimkan ke ibu untuk memenuhi hidupnya sehari-hari dengan cara titip melalui seorang teman lewat rekeningnya di BCA. 

Semenjak saya berada di rumah bersama dengan ibu, tabungan makin lama semakin terkuras habis karena tidak mendapatkan pemasukkan sama sekali. Padahal setiap hari dan setiap bulan hidup terus berputar dan keperluan hidup semakin hari semakin banyak dan semakin mahal pula. Maka, tidak ada lagi tempat untuk bergantung, selain kemurahan dan kebaikan hati Tuhan saja. Sekarang saya sudah memasuki tahun ke empat semenjak tinggalkan Manado dengan kondisi ekonomi yang sama sekali tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik; justru semakin sulit dan mencekik. Namun herannya, kami selalu tercukupi dan tidak pernah berkekurangan. Padahal tidak ada sedikitpun uang di kantong, tetapi masih bisa menjalani hidup tanpa kekurangan suatu apapun. Lalu darimana sumber hidup itu sendiri? Secara logika, itu semua tidak mungkin. Kebutuhan listrik, kebutuhan air, kebutuhan tehnologi komunikasi tetap saja bisa berjalan apa adanya. Lalu darimana uang itu bisa datang, kalau bukan cara Tuhan sendiri. 

Karena seringnya saya duduk di post satpam Gereja Katedral setiap kali selesai mengikuti perayaan ekaristi, saya mempunyai kebiasaan mendengarkan segala kisah dan persoalan yang terjadi di seputar kepengurusan gereja; hati ini mulai perlahan-lahan tergerak ingin berbuat sesuatu bagi Tuhan melalui hidup menggereja lagi. Pada saat itu pula datang seorang teman mudika (muda-mudi Katolik) lama yaitu Bapak Sutrisno yang mulai menarik, merayu dan mencoba memotivasi diri saya untuk menyediakan diri terlibat di dalam hidup menggereja sebab dia katakan kalau diri saya dibutuhkan saat ini juga terutama di dalam pembinaan untuk anak-anak, remaja dan kaum muda. Bahkan dia meminta agar diri saya sesegera mungkin membagikan segala ilmu dan seluruh kemampuan yang saya miliki untuk semua orang terutama di lingkungan dan wilayah.
Keterlibatan pertama kalinya, saya hadir dalam rapat wilayah yang diselenggarakan setiap bulan. Saat itu rapat diselenggarakan di Wisma Keuskupan jalan Sam Ratulangi no 6 Surabaya. Pada saat rapat itu Bapak Ignatius Andy Oematan menyambut saya dengan mengucapkan “ Selamat datang dan Selamat Bergabung “. Setelah salam tersebut, beliau juga mengharapkan yang sama seperti yang diungkapkan oleh Bapak Sutrisno kepada saya. Semula saya diminta untuk sharing pengalaman termasuk mengapa keluar dari hidup membiara sebagai frater. Selanjutnya dimintakan persetujuan kepada seluruh yang hadir untuk keterlibatan diri saya dalam dunia pembinaan iman. Saya pun menerimanya walau dalam hati saya mengatakan “ Tuhan, inikah saatnya aku harus bertindak?” Tuhan belum memberikan jawaban, namun Bapak Ignatius Andy Oematan sudah mendahului dengan memberikan tugas kepada saya untuk menjadi seksi katekese dalam perayaan Paskah 2015. Semua tugas yang diberikan dan dipercayakan kepada saya, saat itu pula saya terima dengan baik penuh ketulusan hati.

Selama menjalankan tugas sebagai seksi katekese di dalam kepanitiaan Paskah, 2 kali harus berselisih paham dengan orang-orang dari wilayah 2. Salah satunya Sdr Wayan. Pertengkaran itu seharusnya tidak boleh terjadi, kalau si Wayan tahu diri siapa dia sesungguhnya. Karena dia memindahkan tempat sumbangan tanpa memberitahukan lebih dulu kepada saya sebagai penanggungjawab kotak tersebut. Inilah salah satu permasalahan yang terjadi di dalam kepengurusan gereja. Pertengkaran terjadi lagi di ruang legio dengan para petugas pembawa kotak sumbangan yang melakukan banyak protes dari tugas pembawa kotak sumbangan. Akhirnya sebagai penanggungjawab secara spontan saya kumpulkan seluruh panitia berkaitan dengan hal ini, dan diputuskan panitia akan menjaga kotak dari awal sampai akhir. Itu permasalah kedua yang terjadi di dalam kepengurusan gereja. Melalui kedua peristiwa itu Tuhan mau menunjukkan sesuatu kepada saya akan apa yang seharusnya saya bisa perbuat untuk memperbaiki kondisi kepengurusan gereja ini.

Dengan melihat kembali serangkaian peristiwa-peristiwa itu, sehari dua hari saya gelisah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan terpilihnya diri saya sebagai ketua katekese. Sungguh-sungguh kosong seluruh pandangan yang ada di dalam diri ini pada waktu itu. Mungkin sudah menjadi rencana dan jalan dari Tuhan untuk melibatkan diri saya ke dalam bidang ini. Sampai tulisan ini diangkat, masih saja hal ini menjadi pertanyaan refleksi di dalam diri saya, “Mengapa Tuhan harus memilih saya yang jelas-jelas orang yang tidak mampu secara ekonomi?” Biasanya mereka yang terjun menjadi pengurus atau mendapatkan kedudukan di Gereja adalah mereka yang mampu secara ekonomi, sehingga keaktifan selama di Gereja tidak akan menganggu kehidupan dan perekonomian orang tersebut. Namun, kenyataannya diri saya adalah orang miskin atau pra sejahtera, namun Tuhan menuntut saya untuk mengambil dan menjalankan tugas ini. Saya harus bagaimana lagi selain menerima dan menjalankan tugas ini semampu yang saya dapat lakukan hanya demi kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan.

Sebagai ketua katekese, diri saya dituntut untuk aktif terlibat secara penuh dalam tugas pewartaan dan pengajaran Gereja. Sehingga setiap hari selain harus belajar kembali, juga harus sering datang ke gereja untuk mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan tugas yang diberikan. Namun semuanya tidak mendatangkan upah sedikitpun. Saya sendiri menjadi heran, mengapa saya mau menerima dan menjalankan itu semua padahal saya sudah mengetahui bahwa pekerjaan itu tidak mendatangkan upah sedikitpun yang dapat menunjang hidup keseharian diri saya bersama dengan ibu satu-satunya orangtua yang menjadi tanggungjawab saya. Walaupun saya melaksanakan ini semua, namun hidup saya tetap tercukupi dan tidak merasa berkekurangan sedikitpun. Apa yang sesungguhnya diperbuat Tuhan terhadap diri saya dan hidup ibu saya? Semuanya serba tercukupi, padahal tidak ada uang sama sekali untuk menjalani hidup ini.

Untuk mendapatkan sesuap nasi dan keperluan hidup setiap hari, sudah berbagai macam pekerjaan saya lakukan termasuk membuka service komputer, tetapi hasil yang didapatkan belum dapat memenuhi kebutuhan setiap harinya. Sebab tidak setiap hari saya memperoleh pendapatan dari pekerjaan ini walau harus berkeliling kemana-mana dari pagi sampai pagi hari lagi. Walaupun demikian, saya masih dapat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena betapa baiknya Dia. Walaupun demikian tidak sedikitpun mengurangi keaktifan saya dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab di dalam hidup menggereja.

Belum lama juga saya terpilih dan terlibat dalam kegiatan persiapan AKSI PUASA PEMBANGUNAN 2016. Meskipun kedudukan saya sebagai ketua, namun saya masih belum berpengalaman. Maka seharusnya mereka yang lebih berpengalaman yang dipilih dan diberangkatkan. Namun realitanya ketua bidang sumber menunjuk saya untuk berangkat atas nama OMK (Orang Muda Katolik) kevikepan Surabaya Selatan. Karena diberi kepercayaan, maka saya persiapkan dengan baik. Begitu berangkat ke Puh Sarang Kediri tanggal 2-4 Oktober 2015 dan tiba saatnya giliran saya presentasi, ternyata hasil yang saya sudah lakukan mendapatkan apresiasi dari RD Aloysius Widya YN selaku pastor penanggungjawab APP 2016 dengan tugas selanjutnya diminta sesegera mungkin menghubungi Pastor Moderator OMK.

Untuk berjumpa dengan Pastor Moderator OMK sangatlah tidak mudah, sebab beliau mempunyai banyak kesibukan. Sehingga berkali-kali berusaha untuk menjumpainya. Setelah mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dan menyampaikan hasil yang saya dapatkan dari pertemuan progress report 1, saya menjadi lega dan hanya menunggu keputusan selanjutnya agar saya diperkenankan berjumpa dengan para OMK se-kevikepan. Sebulan lamanya saya menunggu dan berproses, akhirnya dengan usaha sendiri tanpa bantuan pastor moderator saya dapat berjumpa dengan para perwakilan OMK pada tanggal 12 November 2015, lalu memaparkan laporan kepada mereka. Usaha perjumpaan dengan OMK ini sungguh menjadi sebuah bukti bahwa sesungguhnya Allah itu murah hati dan tidak akan membiarkan setiap hamba-Nya mengalami kesulitan. Belaskasih yang Allah berikan tidak akan pernah berkesudahan sampai akhir jaman.


Thursday, November 12, 2015

SETIA SAMPAI AKHIR - HARI MINGGU BIASA XXXIII TAHUN B 2015

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber :  Markus 13:24-32

Kata “ Setia “ merupakan sebuah kata yang sangat pendek, namun untuk memperjuangkannya tidak begitu mudah. Karena untuk membangun kesetiaan membutuhkan ketekunan, keuletan dan kesabaran. Orang yang tekun, orang yang ulet dan orang yang sabar adalah orang-orang yang mempunyai harapan, selalu menyandarkan segenap hidupnya hanya kepada pertolongan Allah dan percaya bahwa Allah akan datang melepaskan dirinya dari segala penderitaan hidup,  membawa keselamatan dan sukacita baginya. Hanya orang yang mampu bertahan sampai akhir akan memperoleh keselamatan yang ditawarkan Allah kepadanya (Bdk. Daniel 12:1-3).

Mereka yang tetap dan mau setia bertahan sampai kesudahannya haruslah memiliki dan mengenakan keutamaan teologal. Karena kita tidak mengetahui kapan keselamatan itu akan diberikan kepada kita. Yang dimaksudkan dengan keutamaan teologal yaitu iman, harapan dan kasih. Ketiga keutamaan tersebut akan nampak di dalam hidup doa, kesatuan di dalam ekaristi dan sikap tobat. Dengan hidup doa, kita menjalin relasi dekat (intim)dengan Allah. Di dalam ekaristi, kita bersekutu dan mempersatukan kurban hidup dengan Allah dan sesama. Dengan sikap tobat, kita berdamai kembali dengan Allah, sesama dan lingkungan. Dengan melakukan itu semua, segala dosa kita diampuni oleh Allah, selanjutnya kita diperkenankan memperoleh keselamatan yang dijanjikan Allah (Bdk. Ibrani 10:11-14.18).

Kesetiaan itu tidak cukup hanya dikatakan, karena itu Allah kerap kali membawa orang-orang yang ingin tetap setia kepada-Nya ke dalam banyak hal seperti: percobaan atau penderitaan hebat, pergulatan batin, aneka kesulitan, aneka kenikmatan, kemewahan hidup dan berbagai hal lain. Melalui itu semua, Allah mau melihat sampai sejauhmana kesetiaan dan cara kita mengenakan ketiga keutamaan itu. Jika ternyata diri kita tidak siap siaga di dalam doa, maka sesungguhnya diri kita belum siap menerima dan menyongsong kedatangan Allah yang menyelamatkan itu. Dialah Allah yang empunya Kerahiman Ilahi (Bdk. Markus 13:24-32). 


Sunday, November 8, 2015

BUKU IBADAT ADVEN 2015 - BERJAGA-JAGA MENYONGSONG DATANGNYA JURU SELAMAT

Penulis Buku : P Dedy.S (Tim Katekese Kevikepan Surabaya Selatan)
Format Buku : Bookfold F4(Folio)
Type file        : PDF
Jenis Buku    : Bahan Ibadat Adven 2015
 

Buku ini masih dalam proses imprimature artinya masih masuk tahap pengesahan oleh Romo Kevikepan Surabaya Selatan.

Allah sebagai Sumber Kerahiman Ilahi selalu memperhatikan umat-Nya sekalipun dalam keadaan berdosa. Hal itu dilakukan oleh-Nya untuk menunjukkan akan betapa cinta-Nya kepada umat. Itulah tanda kebaikan dan belaskasih Allah. Seberapapun besar kedosaan diri kita, namun Allah tiada pernah memperhitungkannya.

Sesungguhnya Adven bukan hanya diperingati sebagai kenangan akan kedatangan Kristus pertama kali dan persiapan memasuki perayaan Natal sebagai kenangan akan lahirnya Sang Juru Selamat, melainkan juga bermakna eskatologis, artinya sebagai persiapan akan kedatangan-Nya kembali pada akhir jaman untuk mengantar kita menuju rumah Bapa dan mengalami persekutuan hidup bersama dengan Allah.

Tahun 2016 Gereja mencanangkan sebagai TAHUN KERAHIMAN ILAHI. Maka melalui Adven sebagai pembuka tahun liturgi, kita diajak untuk serta merta menyongsong kedatangan Allah sebagai yang empunya Kerahiman Ilahi. Karena itu tahun ini Adven bertemakan BERJAGA-JAGA MENYONGSONG DATANGNYA JURU SELAMAT. Melalui tema ini, kita diharapkan mampu dengan tekun dan setia menanti kedatangan Allah Yang Maha Rahim itu dengan berjaga-jaga dan siap sedia sambil berdoa dan membangun sikap tobat. Supaya ketika Allah itu hadir di dalam kehidupan kita, hati kita dipenuhi dengan sukacita melimpah seperti yang dialami hati Maria sebagai perawan pilihan Allah.

KATEKESE LITURGI ADVEN

1. Persiapan Ibadat

Lingkungan menyediakan Corona (Lingkaran Adven).
Pemimpin Ibadat menyiapkan petugas/pelayan sabda dan lagu-lagu yang akan dipakai dalam ibadat.
Membawa Kitab Suci.


2. Masa Adven

Adven atau adventus berarti kedatangan. Masa Adven adalah masa menantikan kedatangan Tuhan. Ada tiga kegiatan pokok dalam kaitan dengan Adven, yaitu:    
  • Mengenangkan kedatangan Kristus yang pertama, yakni penjelmaan-Nya menjadi manusia.
  • Menyiapkan kedatangan-Nya secara sakramental, yakni perayaan Natal.   
  • Menantikan kedatangan-Nya yang mulia, yakni kedatangan-Nya pada akhir zaman.
Yang terakhir ini menuntut supaya kita selalu menata diri, meningkatkan iman dan takwa agar bila Tuhan datang dengan mulia kita didapati pantas menyambut Dia dan berbahagia bersama-Nya.


3. Lingkaran Adven

Rangkaian ranting hijau melambangkan hidup yang saling berjalinan: kita hidup dalam persekutuan jemaat yang saling berkaitan, ibarat banyak anggota dalam satu tubuh.
Lilin melambangkan terang yang mengusir kegelapan; juga melabangkan Kristus Sang Cahaya. Lilin berjumlah empat menunjuk kepada empat Minggu dalam masa Adven. Penyalaan lilin secara bertahap mulai lilin 1, lalu 2, 3, dan akhirnya 4 menandakan cahaya hati kita semakin terang; juga menandakan bahwa kedatangan Sang Cahaya yakni Kristus semakin mendekat.

Download buku dan cover di sini:
Cover buku - download di sini
Buku - download di sini



Thursday, November 5, 2015

LAUDATO SI

SEBUAH PENGANTAR

Penulis: P. Dedy.S

Laudato Si merupakan sebuah Ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus. Ensiklik adalah sebuah surat pastoral yang berbentuk edaran kepada para uskup dan bersifat terbuka. Karena terbuka, maka ensiklik ini juga ditujukan kepada kita semuanya. LAUDATO SI berarti Puji bagi-Mu.

Surat ini dikeluarkan oleh Bapa Suci berkaitan dengan keprihatinan terhadap persoalan dasar tentang  ekologi. Ekologi adalah interaksi timbal balik antara manusia dengan semua makhluk hidup dan dunia sekitarnya. Dengan kata lain, melalui ensiklik ini kita semua diajak untuk melihat kembali ke dalam diri kita tentang arti sebuah keberadaan atau kehadiran dan nilai-nilai yang terkandung di dalam dasar kehidupan bersosial, lalu merenungkannya; agar kita dapat menjawab berbagai pertanyaan tentang makna hidup kita di dunia ini. Pertanyaan refleksinya sebagai berikut:

  1. Apa tujuan hidup kita di dunia ini?
  2. Apa tujuan dari karya kita dan seluruh upaya yang kita lakukan?
  3. Apa yang seharusnya perlu untuk dilakukan terhadap bumi milik kita ini?
  4. Dunia macam apa yang kita ingin tinggalkan bagi generasi mendatang termasuk anak-anak kita? Padahal bumi kita ini sedang teraniaya, tersiksa, meratap bahkan mengerang kesakitan. Erangannya itu berbaur dengan para generasi penerus yang akan kita tinggalkan, namun mereka yang akan menghadapi, menempati dan menanggung keerangan itu. Padahal semuanya berasal dari ulah kita masing-masing.

Dalam ensiklik ini juga mengkritik tentang budaya konsumerisme yang semakin merajalela, bukan saja pada golongan awam, bahkan biarawan pun terjebak di dalamnya. Selain itu, kritikan juga ditujukan kepada pembangunan yang tidak terkendali dengan baik, sehingga terjadilah kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Karena itu Bapa Paus mengajak kita semua tanpa terkecuali agar kita semua melakukan PERTOBATAN EKOLOGI, yaitu sebuah aksi global yang terpadu dan sesegera mungkin dilaksanakan. Sebab inilah salah satu cara kita membuktikan tanggung jawab kita terhadap penciptaan dan kepada Sang Penciptanya. Inilah bagian yang penting juga dalam iman.


Wednesday, November 4, 2015

HIDUP YANG BERKELIMPAHAN - MINGGU BIASA XXXII TAHUN B

Penulis   : P. Dedy.S
Sumber : Markus 12:38-44

Ketika mendengarkan kata “Berkelimpahan”, banyak orang mengkaitkan dengan hal materi atau BIOS. Sehingga timbul pandangan bahwa hanya mereka yang berlimpah materi dapat menyumbang untuk sosial. Padahal yang dimaksudkan oleh Yesus adalah ZOE atau memberikan HIDUP. Maka, untuk dapat mengalami kelimpahan dan bersolider dengan yang lain,  seseorang tidak harus menunggu dirinya menjadi orang kaya lebih dahulu. Apapun yang kita miliki sekalipun berasal dari kekurangan, namun apabila ada gerakan di dalam hati kita untuk sesama, kapanpun kita dapat berbagi dengan yang lain. Karena yang menjadi dasarnya adalah "tinarbuka lan katresnan" atau keterbukaan, cinta kasih dan kesetiaan.

Hidup yang berkelimpahan itu akan dapat kita alami kalau kita menjalin persekutuan dengan Allah dan sesama. Hanya keterbukaan dan cinta kasih yang menjadi dasar dan jalan untuk mencapainya. Tanpa keterbukaan, tidak akan lahir kepercayaan. Dimana tidak ada kepercayaan, di situ pula tidak pernah terlahirkan cinta kasih (Bdk.  1 Raja-Raja 17:10-16).

Hidup yang berkelimpahan itu juga tidak terlepas dari salib, artinya kita harus berani berkorban bagi sesama supaya dapat menjadi solider dengan yang lain. Sama seperti Yesus telah berkorban untuk kita sebagai tanda solider. Semakin kita sering berkorban, semakin diri kita dilimpahi rahmat dan berkat; apapun bentuk pengorbanan itu (Bdk. Ibrani 9:24-28).

Hidup yang berkelimpahan itu tidak memandang seberapa besar atau seberapa kecil bentuk pengorbanan itu. Ada yang jauh lebih penting dan mulia dari semuanya itu yakni seberapa kemurahan dan kerelaan hati itu kita miliki dan kita berikan untuk hidup sesama. Di sinilah iman kita dapat diuji dan dibuktikan (Bdk. Markus 12:38-44).