Wednesday, July 22, 2015

BERSYUKUR DAN BERBAGI

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Yohanes  6:1-15

Dalam memenuhi kehidupan kita sehari-hari perlu menyeimbangkan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan rohani. Tidaklah mungkin cukup dengan doa saja, rejeki akan datang; melainkan harus berusaha. Ketika rejeki itu diberikan kepada kita entah cukup ataupun secara melimpah, perlu ingat untuk senantiasa bersyukur dan rela berbagi kepada sesama melalui sedekah. Sebab sesungguhnya rejeki yang diterima itu bukanlah hasil jerih payah kita, melainkan tanda belaskasih Allah atas diri kita. Apabila kita melakukan hal itu, berarti kita melaksanakan EKARISTI.

Berbagi dengan sesama tidaklah harus menunggu sampai diri kita diberikan oleh Alllah rejeki secara berlimpah, karena batasan berlimpah antara pandangan Allah dan pandangan kita itu berbeda. Kita kerap kali merasakan kalau rejeki yang kita terima itu belum cukup, sehingga kita selalu jatuh kepada ketidakpuasan akan rejeki dan kebaikan Allah. Sehingga dalam hati kita selalu muncul keinginan untuk menuntut Allah agar memberikan rejeki secara lebih berlimpah; Ada yang oleh Allah dengan sengaja dikabulkan untuk menguji apakah dengan kelimpahan itu kita mengetahui cara untuk bersyukur yang tidak hanya terucapkan, melainkan nyata tercetus dalam segala tindakan dan perbuatan melalui semangat hidup berbagi dengan sesama terutama yang miskin dan hina dina. Ada juga yang oleh Allah permohonan itu tidak dikabulkan sama sekali karena Allah mau menguji batas kesetiaan kita terhadap-Nya, sekaligus untuk melihat apakah kebaikan Allah itu hanya diukur dari rejeki saja. Dalam keadaan keterbatasan pun kita diharapkan mau dan rela berbagi. Maka, di luar kemampuan dan kesadaran kita bahwa sesungguhnya Allah akan menggandakan dari segala yang kita sudah bagikan itu sekalipun berasal dari segala keterbatasan  (Bdk. 2Raja-Raja 4:42-44). Sebab Allah tidak melihat keterbatasan itu sebagai penghalang bagi kita untuk membangun sikap berbagi dan peduli kepada sesama, melainkan Allah melihat hati yang dipenuhi dengan sukacita, kemauan dan kerelaan yang menjadi dasar dari sikap belaskasih. Dengan mau dan rela berbagi sesungguhnya sudah menunjukkan rasa syukur kita atas rejeki yang Allah telah berikan.

Ekaristi yang hidup bukanlah yang kita rayakan setiap kali datang dan mengikuti misa atau perayaan perjamuan syukur di gereja, melainkan ketika kita mempunyai kemauan, kesadaran, keterbukaan dan kerelaan untuk berbagi dengan sesama tanpa pandang bulu. Kalau kita datang ke gereja dan mengikuti Ekaristi, perayaan yang kita ikuti itu baru awal dari Ekaristi. Ekaristi yang sesungguhnya akan terjadi ketika kita meninggalkan gedung gereja dan melakukan perjumpaan dengan sesama. Selama di dalam perayaan ekaristi di gereja, kita pun sudah dituntut untuk rela berbagi, namun apakah kita sudah menyadari hal tersebut? Ataukah kita masih terlalu sibuk dengan diri kita sendiri, sehingga tidak menyadari kehadiran sesama dalam perjamuan tersebut. Dengan mau berbagi berarti kita turut mengambil bagian dalam hidup persekutuan yang menyatukan seluruh umat Allah menjadi satu Roh, satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, satu pengharapan, satu pembaptisan dan satu Allah Bapa di dalam Yesus Kristus (Bdk. Efesus 4:1-6). Kalau dalam hati kita belum terlahir rasa syukur melalui berbagi dengan sesama, berarti kita belum menerima Yesus dengan sepenuh hati. Karena diri kita belum bersatu dengan umat Allah.

Kesadaran dalam hidup persekutuan haruslah terlebih dahulu muncul dari dalam diri kita, selanjutnya Allah yang akan membimbing. Untuk memunculkannya kita perlu mempunyai sikap peduli dalam gerakan belaskasih melalui semangat hidup berbagi dari segala apa yang ada di dalam diri kita sekalipun berasal dari keterbatasan. Lima roti dan dua ikan merupakan lambang keterbatasan yang kita miliki, namun semuanya telah digandakan oleh Allah agar kita menjadi percaya bahwa Allah tidak memperhitungkan akan segala keterbatasan yang kita miliki; Allah hanya melihat niat dan kemauan kita dalam berbagi dengan sesama. Percayalah di dalam iman, mukjizat itu nyata. Karena itu marilah kita peduli dan membangun sikap rela berbagi, maka Allah akan mengubah segala yang terbatas menjadi berlimpah ruah (Bdk. Yohanes 6:1-15). Itu tandanya kita merayakan dan melaksanakan EKARISTI.


Thursday, July 16, 2015

TUGAS KEGEMBALAAN

Penulis  : P. Dedy. S
Sumber : Markus 6:30-34

Kepemimpinan dalam Gereja hampir mempunyai kesamaan dengan kepemimpinan dalam pemerintahan. Perbedaan yang mencolok dalam kepemimpinan terletak pada cara setiap pemimpinnya dalam memimpin warga atau rakyatnya; kalau pemerintah lebih banyak memerintah dengan kekuasaan atau tangan besi, sedangkan pemimpin umat Allah atau Gereja memerintah dengan cinta kasih. Perbedaan ini dapat terjadi karena pemimpin Gereja dibimbing langsung oleh Roh Kudus, sehingga tugasnya menjadi tugas penggembalaan.

Dalam Gereja memang mempunyai pemimpin untuk melanjutkan tugas penggembalaan yang dilakukan oleh Yesus setelah kenaikan-Nya ke surga. Yesus telah mendahului dengan mempersiapkan para rasul pilihan-Nya sebagai pemimpin atas  para murid lainnya. Sekarang tugas penggembalaan yang diwariskan oleh Yesus itu hadir dalam diri para pemimpin Gereja. Pemimpin Gereja yang dimaksudkan adalah Paus, Uskup dan Imam. Mereka ini dikatakan pemimpin Gereja karena berkat tahbisan Imamat yang diterimakan kepada mereka. Dengan demikian mereka mempunyai hak seperti yang Yesus lakukan. Bukan berarti hanya mereka yang berhak atas tugas penggembalaan, kitapun yang disebut Gereja, entah sebagai umat biasa maupun pengurus lingkungan atau wilayah wajib melaksanakan tugas penggembalaan atas kawanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita; salah satunya adalah keluarga. Memang cara dan teknik penggembalaan yang dilakukan antara kaum tertahbis dan kaum awam sangat berbeda. Perbedaan itu dikarenakan masing-masing memiliki batasan-batasan dalam melaksanakan tugas penggembalaan.

Sebagai penggembala kita mempunyai kewajiban utama yaitu BERTANGGUNG JAWAB atas kawanan yang dipercayakan. Bentuk pertanggungjawaban itu antara lain: MEMPERSATUKAN SELURUH UMAT,  MENCARI DAN MENEMUKAN UMAT YANG HILANG DARI PERSEKUTUAN, MEMPERHATIKAN KEHIDUPAN UMAT dan berbagai tugas penggembalaan lainnya (Bdk. Yeremia 23:1-6). Banyak pemimpin yang tidak bertanggungjawab dan membiarkan umatnya tercerai berai dan sama sekali tidak memberikan perhatian kepada umat yang dipercayakan kepadanya. Seharusnya yang dilakukan oleh seorang pemimpin itu hadir di tengah seluruh jemaat dan menanamkan jiwa persatuan kepada umat, agar umat hidup tidak terkotak-kotak dengan berdasarkan kesukuan atau hal lainnya. Sebab Kristus sendiri tidak pernah membeda-bedakan orang dan kelompok, hanya manusia sendiri yang cenderung hidup terkotak-kotak dan berusaha mencari zona aman. Memang untuk melaksanakan semua itu membutuhkan pengorbanan yang amat besar terutama waktu. Namun, apabila melakukannya dengan sepenuh hati, tidak akan ada kata sulit. Semuanya akan dipermudah oleh Allah.

Satu hal yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin atau penggembala yaitu SEMANGAT PENGORBANAN, bukan menjadikan orang lain sebagai korban demi kepentingan pribadi. Sebab Kristus tidak mengejar kepentingan-Nya sendiri, melainkan telah meneladankan hidup-Nya yang mau dan rela berkorban demi keselamatan banyak orang, bukan atas nama kelompok tertentu (Bdk Efesus 2:13-18). Maka, apabila diri kita enggan bahkan tidak mau berkorban bagi Allah melalui karya umat, apakah tidak merasa malu apabila melihat pengorbanan Allah yang begitu besar kepada diri kita.

Dalam tugas penggembalaan, kita tetap perlu kembali kepada Allah sebagai Gembala Utama untuk mendapatkan penyegaran dan bimbingan rohani, mengalami belaskasih-Nya, mencurahkan segala apa yang telah kita laksanakan, mendapatkan pembelajaran yang baru dan menggali kekuatan dalam pelaksanaan tugas selanjutnya (Bdk. Markus 6:30-34). Karena tanpa kembali kepada Allah, kita tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi.



Tuesday, July 14, 2015

KEMURIDAN DAN PERUTUSAN

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Markus  6:7-13

Menjadi murid bukan berarti harus bersikap duduk manis saja dan menerima saja segala apa yang diberikan oleh gurunya. Menjadi murid itu bukanlah bertindak demikian,  melainkan menerapkan dan menjalankan segala yang telah diterimanya sendiri. Dengan melaksanakan segala yang didapat, akan membuat diri kita bukan lagi menjadi murid lagi, melainkan berubah menjadi pribadi yang bertugas sebagai seorang utusan dan sekaligus sebagai penyambung lidah guru. Inilah yang dinamakan RASUL.

Setiap orang yang telah dibaptis dan menerima Sakramen Krisma telah mengambil peran sebagai murid yang harus dengan berani mempertanggungjawabkan segala karunia yang Allah sudah berikan kepada diri sendiri. Sebab dengan baptis dan krisma, setiap orang telah dimeteraikan oleh Allah. Karena itu oleh Allah telah digolongkan ke dalam jajaran orang-orang yang dipanggil dan diutus-Nya pula. Tentu dalam melaksanakan tugas sebagai murid dan sekaligus utusan, Tuhan tidaklah pernah salah dalam memilih orang-orang yang dipanggil dan dikehendaki untuk melaksanakan tugas-tugas itu. Hanya cara Tuhan memanggil dan menghendaki orang-orang dipilih-Nya menggunakan cara yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Tugas utama sebagai seorang murid dan sekaligus utusan yaitu MEWARTAKAN SABDA TUHAN, MEMBERI KESAKSIAN, MEMBUKA PINTU PERTOBATAN bagi banyak orang dan MENGHIMPUNNYA dalam persekutuan dengan YESUS SEBAGAI IMAM AGUNG. Dalam melaksanakan tugas pewartaan dan pertobatan ini, bukanlah harus mengetuk dari satu pintu ke pintu yang lain sambil menyerukan pertobatan, melainkan mewartakan dan menyerukannya melalui sikap dan perbuatan diri sendiri yang dapat menjadi tanda kehadiran Allah dalam diri setiap orang yang dijumpai. Mewartakan dari apa yang kita dengar dan baca itu mudah, tetapi ketika diri kita diminta untuk membuktikan sendiri segala apa yang telah kita katakan itu ke dalam perbuatan dan sikap, itu yang tidak mudah untuk dilakukan. Semuanya membutuhkan proses yang panjang dan perjuangan yang berat. Semuanya itu akan dapat dilakukan jikalau ada di dalam diri kita kemauan untuk mulai dan dengan serius melaksanakannya. Jadi, kalau kita menyerukan pertobatan bagi banyak orang, haruslah diri kita sendiri yang sadar dan mau mengawalinya lebih dulu yaitu melakukan pertobatan. Bagaimana mungkin kita mampu menyerukan pertobatan, namun diri kita sendiri tidak mau bertobat dan berbenah diri. Kalau hal ini yang terjadi, maka bukan pewartaan yang kita lakukan, melainkan kemunafikan.

Di satu sisi kita juga patut bersyukur karena Roh Allah sendiri yang memilih kita sebagai murid dan orang-orang yang diutus-Nya; di sisi lain kita harus siap menghadapi segala ketidakenakan dalam hati karena mengalami penolakan, pengusiran dan berbagai hal yang dapat melemahkan semangat sebagai seorang utusan Allah (Bdk Amos 7:12-15). Banyak hal yang membuat diri kita ditolak, diusir dan diremehkan dalam menjalankan tugas perutusan, di antaranya: faktor pendidikan, faktor status, faktor latar belakang keluarga, faktor kepopuleran dan faktor-faktor lainnya. Melalui peristiwa penolakan itu, sesungguhnya Allah mau memberikan pembelajaran kepada diri kita, agar kita menjadi lebih sabar dan rendah hati dalam menjalankan tugas sebagai seorang utusan. Sebab kesabaran dan kerendahan hati merupakan kunci utama dalam pewartaan; karena yang menjadi pusat pewartaan adalah Allah sendiri, bukan diri kita. Maka, kalau kita ditolak bahkan diusir hanya karena pewartaan, sesungguhnya demikianlah Allah terlebih dahulu mengalaminya. Dengan demikian, kita akan mengalami bagaimana perasaan hati Allah yang juga mengalami penolakan dan pengusiran dari hadapan mahkluk ciptaan-Nya.

Ketika semangat kita mulai mengalami kelunturan akibat penolakan dan pengusiran di saat menjalankan tugas perutusan, maka sebaiknya marilah kita kembali kepada Allah yang tetap mengasihi diri kita dan yang telah pula memilih dan menetapkan kita sesuai dengan kehendak-Nya. Sebab kita menjadi murid karena kehendak Allah, bukan kehendak diri kita sendiri. Melalui kehendak-Nya, Allah ingin menguduskan diri kita dan mengangkat diri kita menjadi anak-anak-Nya berkat darah Yesus (Bdk. Efesus 1:3-14).

Maka sebagai murid dan seorang utusan, kita diharapkan mempunyai sikap LEPAS BEBAS dari segala hal yang menghalangi dan membebani, terutama hal keduniawian dalam melaksanakan tugas perutusan tersebut; supaya hanya kuasa Allah yang menyertai kita (Bdk. Markus 6:7-13). Selama diri kita belum mampu bersikap LEPAS BEBAS dari segala keduniawian, maka kuasa Allah akan sulit juga tinggal di dalam diri kita, sebab segala pikiran dan hati hanya terpusat pada kebutuhan dan urusan duniawi, sehingga melupakan hal-hal yang berkaitan dengan kerohanian termasuk peran dan campur tangan Allah di dalam segala tugas yang kita laksanakan. Inilah yang dapat memicu diri kita jatuh ke dalam kegagalan di dalam tugas pewartaan. Dengan sikap LEPAS BEBAS, kita akan menjadi orang yang tidak terikat dan terbebas dari segala kelekatan yang suatu waktu dapat membuat diri kita terlena dan jatuh pada kebutuhan duniawi semata. Memang tidaklah dapat dipungkiri bahwa kebutuhan duniawi dan rohani sama pentingnya, namun kita haruslah bijaksana dalam menggunakannya. Sebab kebutuhan duniawi itu tidak akan pernah memberikan kepuasan di dalam diri kita. Hanya Allah dan segala kuasa-Nya yang dapat memberikan kita kelegaan dan kepuasaan dari segala apa yang kita butuhkan. Sebab Allah sudah melihat sendiri apa yang kita butuhkan sebelum kita memohonkannya kepada Allah. Karena itu, kita perlu menyerahkan segalanya hanya kepada Allah dan membiarkan kuasa Allah bekerja atas diri kita.


Wednesday, July 1, 2015

TUGAS KENABIAN

Penulis  : P. Dedy. S
Sumber : Markus  6:1-6

Ketika mendengar kata Nabi, rata-rata semua orang akan berpikir tentang sosok pemuka agama di jaman dulu. Sosok ini mempunyai kontak langsung dengan Allah, sehingga pesan dari Allah ini langsung diterima dan dijalankan, sehingga tidak mustahi kalau mereka disebut sebagai orang yang berhati suci karena dipilih Allah untuk dapat melihat-Nya melalui aneka ragam perwujudan.

Sedangkan di era jaman sekarang, apakah masih ada orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi seorang Nabi? Dengan kata lain, orang yang dalam pandangan Allah masih dapat dikatakan menjalani hidupnya di dalam kesucian. Apa sesungguhnya ukuran kesucian dalam pandangan Allah? Belum tentu yang di mata manusia nampak dipenuhi dengan dosa, tetapi di mata Allah pun dipandang demikian. Manusia cenderung melihat dosa karena perbuatannya bukan serta merta dengan hal yang melatarbelakanginya. Namun, lain manusia lain pula Allah. Allah mempunyai ukuran dan kriteria sendiri dalam mengakui tingkat kesucian dan kedosaan setiap manusia. Ukuran dan kriteria ini tidak dapat diketahui oleh seorang manusia pun. Hanya Allah melalui pewahyuan-Nya menyampaikan dan mengajarkan kepada manusia segala hal yang dapat membuat manusia menjadi suci karena mampu menghadapi segala hal yang menjatuhkannya, bukan menghindarinya. Karena orang yang berani menghadapi tantangan, kesulitan, ketidakenakan,; dialah yang akan mendapatkan banyak pembelajaran untuk masuk dalam himpunan orang tersuci-Nya. Sebaliknya, yang cenderung menghindari segala tantangan dan godaan, sewaktu-waktu dapat terjatuh dengan sendirinya tanpa disadari. Maka, usaha penghindaran yang dilakukannya akan menjadi sia-sia.

Dengan petunjuk dan nasehat Allah yang kita dapat dari ajaran agama dan keimanan, itulah yang menjadi jalan menuju kepada kesucian. Semakin tekun melaksanakan segala perintah dan kehendak-Nya, semakin pula kita akan dihadapkan dengan berbagai hal yang mengguncang-guncangkan iman dan keyakinan kita. Bahkan hati kita sendiri dikoyak-koyak. Bagi yang mampu bertahan, dialah yang akan beroleh kemurahan dari tangan Allah. Sebaliknya, bagi yang kehilangan kemampuan untuk bertahan, dialah yang akan jatuh pada penghakiman.

Sebenarnya setiap saat Allah itu melihat ke arah manusia untuk mengetahui siapa saja di antara manusia di dunia ini yang dapat dipercaya untuk diangkat-Nya sebagai perpanjangan tangan dan lidah Allah. Begitu Allah mengetahui dan menemukannya, orang yang dipilih-Nya ini akan banyak beroleh kemurahan dari tangan-Nya. Orang-orang yang telah dipilih-Nya, inilah yang juga dipanggil-Nya.

Tugas Kenabian bukanlah tugas kaum tertahbis dan biarawan biarawati saja, melainkan tugas semua orang yang sudah dibaptis dan telah menerima Sakramen Krisma. Ketika diri kita memutuskan diri MAU dibaptis dan MAU pula menerima sakramen krisma, berarti kita sudah dengan berani MAU menanggapi panggilan Tuhan dan melaksanakan tugas perutusan-Nya yakni TUGAS KENABIAN. Dengan menjalankan tugas kenabian, berarti kita telah ikut ambil bagian dalam salah satu dari TRI TUGAS KRISTUS (NABI, IMAM dan RAJA). Tugas kenabian yang dimaksudkan adalah MEWARTAKAN SABDA TUHAN dengan penuh penghayatan akan hidup dan tetap mengalami kemesraan dengan Tuhan. Karena itu sebelum melaksanakan tugas kenabian tersebut, setiap dari kita diharapkan terlebih dahulu MAU belajar dari sumber utama yakni KITAB SUCI, dan MAU dibimbing oleh Roh dalam menghidupi Sabda tersebut. Inilah yang dinamakan SIKAP SEORANG MURID.

Dalam melaksanakan tugas kenabian, diri kita akan dihadapkan dengan banyak perkara, rintangan dan kesulitan; baik yang berasal dari dalam diri sendiri (Faktor internal) maupun dari luar diri sendiri (Faktor eksternal). 

Secara Faktor internal, kita ditantang untuk berani terbuka terhadap rahmat dan bimbingan Tuhan dan mengambil peran sebagai murid dengan semangat rela berkorban terutama hati dan waktu untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan hidup di dalam persekutuan dengan hadir pada setiap pertemuan di lingkungan dan wilayah.

Sedangkan Faktor eksternal, kita akan menjumpai ragam orang dengan ragam latar belakang dan karakternya; yang sewaktu-waktu dapat menciutkan hati kita, karena adanya penolakan, memandang rendah, pencibiran dan segala macam tantangan lainnya yang akhirnya membuat diri kita terasa gagal dalam tugas pewartaan itu. Namun, apabila kita bekerja sama dengan rahmat Tuhan, kegagalan tidak akan pernah menimpah diri kita (Bdk. Yehezkiel 2:2-5).

Agar tidak timbul kegagalan dalam pewartaan, kita perlu menghindari sikap iri terhadap kelebihan orang lain, lalu belajar menerima kekurangan diri. Sebab justru di balik kelemahan dan kekurangan yang kita miliki, di sana Tuhan melebihkan diri kita dengan segala ragam kelebihan yang menjadi kekhasan diri kita sendiri. Namun, jangan sampai kita menjadi terlena dan terjatuh oleh kebanggaan diri sendiri, melainkan berbangga karena Kristus yang berkarya di dalam diri kita (Bdk. 2 Korintus 12:7-10). Karena itu setiap tugas kenabian perlu kembali kepada Sabda Tuhan dan senantiasa terbuka akan bimbingan Roh, sebab Sabda Tuhan itulah yang kita wartakan bukan diri kita sendiri. Karena itu setiap orang perlu mempunyai WIBAWA ILAHI yang dapat diperoleh dengan cara banyak melakukan refleksi, introspeksi dan merenungkan segala tingkah laku sehari-hari serta menerima Sabda Allah dengan sepenuh iman di dalam hati tanpa melihat siapa yang diutus oleh Allah dalam menyampaikan Firman-Nya ( Bdk. Markus 6:1-6). Dengan berani masuk ke dalam diri dan melakukan refleksi, introspeksi dan merenung, kita akan semakin dimampukan oleh Allah untuk mengenal apa sejatinya kehendak-Nya dalam diri kita. Karena tidak semua kepahitan yang kita alami menjadi awal dari kegagalan dalam melaksanakan tugas kenabian, justru di situlah diri kita makin ditantang; apakah dengan iman, kita tetap berani mengambil konsekuensi dari tugas kenabian yang dipercayakan Allah kepada diri kita?