Monday, January 19, 2015

KEMURAHAN HATI ALLAH

Penulis : P. Dedy. S

Berlangsungnya MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) 2015 sebenarnya belum siap dialami oleh Bangsa Indonesia. Sebab belum semua rakyat mengalami perbaikan ekonomi. Justru dengan berlangsungnya MEA ini, membawa anjlok perekonomian negara terutama pengusaha dan pedagang kecil. Ini pertanda bahwa pemerintah Indonesia belum memiliki kebijakan. Perekonomian dan dukungan pemerintah Indonesia masih berpihak kepada pengusaha besar dan sukses, tanpa melihat ke bawah kepada para pengusaha dan pedagang kecil.

Perekonomian yang makin anjlok ini, akhirnya membuat pasar pun mulai sepi, namun benderaku tidak pernah turun, tetap berkibar semampu mungkin. Itulah gambaran bagaimana aku tetap berjuang di tengah krisis ekonomi saat ini. Benderaku menjadi sedikit berayun ketika seorang teman telah membantu untuk mempromosikan usahaku. Berkat dukungan teman dan usaha mempromosikan usahaku ini, lalu menyebabkan adanya salah satu dari  temannya yang ingin mendapatkan service laptop dariku. Laptopnya saat itu mengalami Windows Victim dan dijangkiti beragam virus. Temanku sempat bertanya tentang berapa tarif yang aku harus minta padanya, aku pun menjawab bahwa tarifnya Rp 100.000.

Setetes harapan itu sempat lenyap ketika temanku itu menyampaikan informasi, kalau rencana itu tidak jadi alias batal. Pembatalan disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya terkesan terlalu mahal. Tetesan harapan itu mulai kembali menetes, ketika temanku itu kembali membawa informasi, kalau temannya ternyata melanjutkan keinginannya untuk  mendapatkan pelayanan service dariku.

Setelah aku dan teman yang dimaksud itu tersambung kontak, akhirnya Sabtu 17 Januari 2015 pukul 15.30 bertemu. Ketika bertemu, orang yang meminta pelayananku itu tidak menghendaki aku datang ke rumahnya, tetapi dia sendiri  yang  datang menjumpaiku dan ingin mendapatkan pelayananku di tempat kerjaku alias counter. Ketika dia bertanya tentang berapa lama proses servicenya, aku pun menjawab bahwa service laptop akan berlangsung antara 4 sampai 5 jam. Orang inipun menerimanya. Orang ini tidak rela meninggalkan laptopnya untuk aku perbaiki, sehingga dia terus menemani sambil mengamat-amati cara kerjaku. Aku sendiri mengetahui bahwa hal itu bukan karena dia tidak percaya padaku, melainkan dia  ingin melihat kualitas kerjaku dan kejujuranku.

Dalam pelayanan, aku selalu berprinsip "Berikan yang terbaik dari semua yang terbaik". Ternyata pelayanan yang aku telah  berikan menyita waktu lebih dari 5 jam. Tepat pukul 22.30 semuanya usai. Sementara orang itu tetap tidak mau meninggalkan tempatku bekerja. Begitu service selesai aku berikan, akupun hanya mengenakan padanya tarif sebesar  Rp 50.000 karena selain banyak software yang dia bawa sendiri walau bajakan, juga karena dia datang sendiri ke tempat kerjaku atau counter. Faktor pelambatan proses kerja itu, banyak dipicu oleh kepingan DVD yang mengalami banyak goresan dan lambatnya proses pada DVD drive dalam membaca DVD. Itulah yang membuat lama proses kerja.

Ketika orang itu akan meninggalkan tempat kerjaku, ternyata justru orang itu tidak membayarku Rp 50.000, melainkan lebih banyak dari itu. Bahkan yang paling mengherankan, sepulangnya dia dari tempat kerjaku pukul 23.00, dia sempat SMS dan melarangku untuk makan malam, dia memintaku untuk menunggunya. Akupun menunggunya di depan jalan. Begitu dia kembali ke tempat kerjaku, ternyata sebungkus "cap cai" diberikan padaku untuk makan malam sambil menginformasikan bahwa dia akan mempromosikan usahaku ke teman-temannya. Saat itu pula hatiku penuh syukur  sebab semua ini tidak mungkin serba kebetulan, melainkan semua kebaikan ini berasal dari kemurahan hati Allah. Allah sendiri yang menggerakkan hati temanku maupun orang ini. Karena itu sebelum tidur, akupun bersyukur sambil berdoa memohon berkat atas kebaikan teman dan orang tersebut. Bahkan Hari Minggu sore saat misa, aku membawa nama mereka satu per satu ke hadapan Allah untuk aku memohonkan berkat dan rahmat berlimpah.

Di dalam gereja, aku selalu memandangi salib dan tidak terasa kalau air mataku menetes, sebab Allah masih memperhatikan diriku dan mencurahkan kemurahan hati di saat ekonomi memperpuruk keadaanku. Aku tidak mampu lagi menahan isak tangis melihat dan mengalami betapa baiknya Allah di dalam perjalanan hidupku, padahal sesungguhnya diriku ini sangat tidak layak bagi-Nya dan di hadapan-Nya. Namun, Allah masih mengasihi diriku dan memberikan kesejukan ketika aku sedang membutuhkan uluran tangan kasih-Nya.

Pengalaman seperti ini tentunya bukan hanya diriku yang mengalaminya. Masih banyak orang yang mengalami kemurahan hati Allah yang serupa dengan yang aku alami. Mungkin pengalaman banyak orang lebih baik dariku tentang pengalaman akan kemurahan hati Allah. Aku berharap kemurahan hati Allah ini terus tercipta di muka bumi, sehingga makin banyak orang mengetahui bagaimana harus bersyukur atas kebaikan Allah. Bukan hanya itu, melalui kemurahan hati Allah ini akan menyadarkan bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah meninggalkan setiap orang, sekalipun orang itu hina dina dan berlumuran akan dosa. Sebab Allah tidak melihat kesemuanya itu, Allah hanya melihat hati seseorang seberapa dalam cinta seseorang akan Allah.



Thursday, January 15, 2015

ANTARA SAKIT DAN DOSA

Penulis  : P. Dedy. S
Sumber : Markus 2:1-12

Tidaklah sedikit orang yang menyangkut pautkan antara penderitaan atau sakit yang dialami oleh seseorang dengan akibat dosa yang ditimpahkan kepada orang tersebut. Padahal belum tentu segala penderitaan atau derita sakit yang dialami merupakan hukuman dari Allah akibat segala dosanya. Sebab banyak penyakit timbul karena berbagai hal, dan memang tanpa dipungkiri bahwa sakit yang diderita dapat pula disebabkan oleh akibat kesalahannya sendiri seperti kurang menjaga kesehatan, kurang berolah raga, kurang menjaga kebersihan dan tidak mengontrol makanan yang dikonsumsi. Maka dengan derita atau sakit itu diharapkan lahirlah kesadaran dalam diri orang tersebut. Namun tidaklah semua sakit dan derita timbul akibat kelalaian dan pengontrolan diri, dapat juga timbul akibat orang lain atau perubahan cuaca yang tidak siap dihadapi oleh orang tersebut.

Penyakit kusta kerap kali dipandang banyak orang sebagai penyakit kutukan akibat dosa bawaan keluarga atau dosanya sendiri yang lebih sering disebut KARMA. Padahal penyakit kusta itu bukanlah karena keturunan ataupun kutukan, melainkan akibat virus yang tidak jelas darimana datangnya. Akibatnya korban menderita luka yang menjijikan bagi orang lain. Diri orang tersebut akhirnya menjadi terisolasi dan tersisikan, karena tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya karena takut tertular. Sebenarnya penyakit ini tidaklah begitu mudah menular seperti anggapan banyak orang, kalau setiap orang tidak mengalami sugesti. Kalau setiap orang menyadari bahwa penyakit ini tidak akan menular, maka penyakit itupun  tidak akan menular, apalagi kalau setiap orang tahu bagaimana cara menjaga diri.

Demikian pula dengan para penderita sakit yang lain seperti kelumpuhan. Banyak para penderita kelumpuhan yang dialami sejak kecil, sehingga diri orang seperti ini menjadi kurang pergaulan dan tersisikan dari lingkungan masyarakat. Penyakit ini pun banyak dinilai bahwa derita ini akibat dosa dan karma. Padahal semuanya itu belum tentu. Banyak hal dapat menjadi pemicu kelumpuhan seperti terlambatnya pemberian vaksinasi, kurangnya konsumsi makanan atau minuman yang bervitamin. Salah satu dari penderita itu adalah anak dari family saya. Sejak kecil menderita kelumpuhan kaki, sehingga tidak mampu berbuat apa-apa selain duduk sambil berjalan yakni menggeserkan pantatnya untuk menuju tempat yang dikehendaki. Kurang lebih 8 tahun lamanya menderita seperti ini. Namun, dalam perkembangan dan pertumbuhan badannya, akhirnya kelumpuhan itu dapat tersembuhkan tanpa obat apapun dan tanpa dokter manapun. Hanya terapi yang sering dilakukan. Ini membuktikan bahwa kelumpuhan fisik masih dapat disembuhkan.

Kelumpuhan tidak harus terjadi pada kaki, kelumpuhan dapat terjadi pada anggota tubuh yang lain. Kelumpuhan yang paling berbahaya untuk diderita setiap orang adalah kelumpuhan pada hati. Kalau kelumpuhan pada kaki masih dapat disembuhkan, entah dengan obat, vitamin maupun terapi. Namun kalau kelumpuhan pada hati, tidak akan mampu disembuhkan oleh siapapun selain oleh dirinya sendiri. Karena mereka yang sedang menderita kelumpuhan hati, hidupnya diwarnai dengan sirik, penuh jurang pemisah, berteman pilah pilih, hilangnya toleransi, hidup diwarnai kesukuan dan kurang adanya pembauran dengan yang lain, penuh negatif thinking terhadap sesamanya, menaruh kebencian terhadap seseorang, menolak pandangan orang, meremehkan orang lain, memandang rendah sesamanya dan masih banyak lagi. Kalau penyakit dan derita seperti ini terus menerus dipelihara, mana mungkin dapat mengalami dan merasakan betapa baiknya Allah. Mungkin kebaikan Allah dialami, namun hanya sejauh pikiran dan rasa belaka, padahal dirinya jauh dari Allah. Inilah yang sebenarnya penyakit timbul akibat dosa. Dosa yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Tidak ada yang akan mampu menyembuhkannya selain dirinya sendiri dan Allah. Hanya melalui pertobatan dan niat sadar diri yang akan sedikit demi sedikit akan menyembuhkannya dari segala faktor penyebab kelumpuhan itu sendiri.

Semua penyakit apapun dapat disembuhkan kalau dalam diri kita tertanam niat dan kemauan untuk hidup lebih baik yang didasari oleh kedekatan diri dengan Allah dan segala kehendak-Nya. Obat dan dokter hanyalah sarana, namun tidak semuanya itu menjamin akan membawa kepada kesembuhan. Pembawa kesembuhan sejati hanyalah di tangan Allah, sebab Dia-lah dokter dari segala dokter yang mempunyai obat manjur dan cocok buat masing-masing orang.

Jikalau dalam diri setiap orang lahir kemauan untuk bertobat, berubah dan membangun niat baik di hadapan Allah, apapun derita dan sakit yang dideritanya akan mengalami kesembuhan, apalagi dosa. Sekali saja kita memberanikan diri untuk datang kepada Allah dalam kondisi dan situasi apapun, untuk memohon ampun dan bertobat, maka tidak ada kata mustahil bagi Allah, apabila Allah akan mencurahkan rahmat dan kebaikan hati-Nya secara melimpah kepada yang mau dan berkenan datang kepada-Nya. Maka kalau semula kita lumpuh karena penyakit ataupun dosa, Allah pasti akan menyembuhkannya, sebab Allah itu sungguh murah hati dan berbelas kasih. Tidak ada yang mampu melampaui kasih dan kemurahan hati Allah, selain Allah sendiri yang mempunyai segala-galanya. Sekarang yang patut kita tanyakan di dalam diri kita, apakah kita mau dipulihkan dari segala kelumpuhan dan sakit penyakit? Kalau mau maka syarat utama diri kita tidak ada yang lain selain bertobat dan membangun niat baik bagi siapa saja tanpa pandang bulu, sekalipun itu adalah orang yang membenci diri kita.



Tuesday, January 13, 2015

TUHAN, ENGKAULAH SEGALANYA

Penulis  : P. Dedy. S
Sumber : Markus 1:29-39
Ketika seseorang mengalami penderitaan, sakit dan segala kepahitan pasti akan datang kepada Allah untuk memohon pelepasan dari semuanya itu. Namun, apa yang terjadi ketika semuanya itu berlalu atau tidak menimpah diri seseorang, adakah ingat dan timbul kemauan untuk datang kepada Allah walau hanya sekedar untuk bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya atas segala kebaikan dan kemurahan hati yang telah diberikan-Nya? Mungkin itulah yang menjadi kecenderungan dalam diri kebanyakan orang dan mungkin hal itu juga menjadi penyakit dalam diri kita.

Allah selama ini hanya menjadi tempat pelarian atas segala kerumitan, persoalan dan penderitaan. Seolah-olah kita melupakan-Nya ketika kemujuran menghampiri diri kita. Walaupun kita lupa akan Allah, namun sesungguhnya Allah tak pernah melupakan diri kita walau hanya selangkah saja. Allah selalu membayangi diri kita kemanapun kita pergi dan berada, hanya diri kita sajalah yang kerap kali tidak menyadari akan segala kehadiran-Nya, bahkan tidak menyadari akan segala keterlibatan-Nya dalam tugas keseharian diri kita.

Kalau kita sungguh manusia beriman, tentunya kita selalu sadar diri dan ingat akan Allah yang tak pernah meninggalkan kita walau dosa menghimpit diri kita. Maka sebagai manusia beriman semestinya kita senantiasa datang kepada-Nya di dalam keadaan untung dan malang. Walaupun sepanjang perjalanan hidup tidak pernah ditimpahkan kemalangan ataupun kesulitan di dalam diri kita, bukan berarti kita tak perlu datang kepada Allah. Justru dengan tidak ditimpahkannya kesulitan di dalam diri kita, sebenarnya Allah sangat mengasihi diri kita. Dengan keadaan mujur itu, kita diharapkan menjadikan hidup kita menjadi hidup yang penuh rasa syukur. Bukan hanya itu saja, dengan kemujuran yang diterima, kita mempunyai kewajiban untuk membagi kemujuran itu kepada banyak orang, agar setiap orang yang mengalami kemujuran itu turut serta mengalami kebaikan dan kemurahan hati Allah yang terjadi atas dirinya.

Sesungguhnya Allah bukanlah tempat pelarian, melainkan tempat awal dan akhir dari perjalanan hidup kita termasuk awal dan akhir dari segala aktivitas kita seharian. Hal ini semestinya disadari banyak orang, sebab di awal memulai aktivitas kita mengharapkan berkat dan rahmat Allah atas tugas dan aktivitas yang kita lakukan, sehingga ketika kesulitan tiba-tiba datang menghampiri, Allah tidak segan-segan datang menolong tepat pada waktunya tanpa kita meminta-Nya, sebab kasih Allah tiada batas. Demikian pula ketika kita mengakhiri segala aktivitas pada hari itu, alangkah baiknya kita pun datang sujud menyembah kepada-Nya sambil bersyukur dan memuji atas segala kebesaran rahmat-Nya yang telah menyertai selama seharian. Sebab tanpa kehadiran dan berkat kasih-Nya, sangatlah mustahil kita mampu menjalani hidup dan segala aktivitas sepanjang hari itu. Itulah mengapa Allah menjadi segala-galanya bagi diri dan hidup kita. Namun berapa persen dari sekian banyak manusia yang tersadarkan akan hal ini.

Kesadaran diri sangat diharapkan senantiasa tumbuh berkembang di dalam diri kita, terutama sadar bahwa Allah adalah segalanya bagi diri dan hidup kita. Karena hanya Allah yang tahu dan mengerti sepenuhnya diri kita. Pandangan mata-Nya selalu mengamati setiap gerak gerik diri kita. Ketika kita sakit dan menderita, tangan-Nya selalu terbuka menyambut kedatangan diri kita. Bahkan tidak segan-segan Allah datang melawati diri kita ketika ketidakmampuan melumpuhkan kita dari segala aktivitas. Pendengaran-Nya yang tajam selalu mendengarkan segala keluh kesah dan segala rintihan diri kita. Apakah yang menjadi kekurangan-Nya? Tidakkah Allah sudah melebihkan kemurahan hati-Nya untuk diri kita, tetapi mengapa kita masih cenderung melupakan-Nya, bahkan seolah tiada peduli akan kehadiran-Nya?

Sesungguhnya banyak cara dipakai Allah untuk menunjukkan segala kemurahan hati-Nya, lawatan-Nya, sapaan-Nya dan segala belaskasih-Nya. Allah dapat menggunakan tangan siapapun untuk mengulurkan berkat kasih dan rahmat-Nya, namun berapa dari diri kita yang sadar akan semuanya itu. Kecenderungan dalam diri manusia selalu pilah pilih untuk menerima uluran tangan. Padahal sesungguhnya Allah menggunakan setiap orang yang dipilih-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya. Maka marilah kita mulai membangun sadar diri akan kemurahan hati Allah ini yang senantiasa menjadi segala-galanya bagi diri dan hidup kita. Kapankah kita mau mulai kalau bukan mulai dari sekarang ini.



Monday, January 12, 2015

ZELUS ANIMARUM (PENYELAMATAN JIWA-JIWA)

Penulis : P. Dedy.S

Betapa bangganya ketika seorang team SAR berhasil menyelamatkan seseorang, padahal yang berhasil ditolong hanyalah jasad orang itu bukan pertolongan atas nyawa dan kehidupan orang yang ditolongnya. Sehingga rasa bangga itu digembar gemborkan dengan memproklamirkan akan keberhasilannya. Padahal  penyelamatan yang dilakukan sesungguhnya bukanlah keberhasilan, melainkan kegagalan total. Penyelamatan jiwa seseorang dapat dikatakan berhasil, jikalau nyawa orang yang diselamatkan mendapatkan pertolongan, dan hak hidupnya diperoleh. Namun, jikalau yang terjadi justru sebaliknya yakni tewasnya seseorang karena keterlambatan dalam mendapatkan pertolongan, itu namanya kegagalan total bukan lagi keberhasilan. Dalam realitanya pertolongan selalu datangnya terlambat dengan segala macam alasan yang diberikan. Jikalau pertolongan datangnya tidak mengalami keterlambatan, tentunya penyelamatan jiwa-jiwa masih dapat dilakukan, sekalipun jiwanya menjadi taruhannya. Namun yang terjadi di lapangan, keselamatan jiwa orang lain kurang mendapatkan tempat di dalam diri setiap orang. Setiap orang masih cenderung mencari dan mengejar keselamatan untuk dirinya sendiri tanpa peduli dengan jiwa sesamanya. Bahkan tidak jarang, unsur kesengajaan dibalik menjadi topeng belaka sekedar untuk pembenaran diri.

Hal serupa juga terjadi terhadap hukuman mati bagi seseorang yang belum tentu memberikan jaminan akan kesalahan terhadap orang itu. Sesungguhnya nyawa seseorang sangat bernilai dan berharga, tak ada yang akan mampu menggantikannya sekalipun dibayar milyaran bahkan triliunan. Namun yang terjadi di dunia ini betapa mudahnya hukuman mati dijatuhkan kepada seseorang tanpa melihat nilai kebenaran di baliknya. Seolah-olah nilai nyawa dan hidup seseorang tiada artinya lagi. Seharusnya sebelum hukuman mati dijatuhkan, kebenaran terhadap seorang narapidana harus benar-benar terbuktikan bahwa orang tersebut sungguh pantas menerimanya. Dalam realita, hal ini tidak mendapatkan tempatnya. Hukuman mati cenderung ditimpahkan kepada orang yang tidak bersalah, bahkan terjadi salah tangkap atau seseorang yang dipaksa untuk mengakui dan menerima hukuman mati itu. Proses penangkapan dan penjatuhan hukuman seharusnya perlu ditelaah dengan baik, apalagi penjatuhan hukuman mati terhadap mereka yang sungguh murni tidak bersalah. Apapun alasannya, jiwa dan hidup seseorang perlu saling dijaga dan dihargai, sebab hanya Tuhan yang mempunyai hak atas hidup seseorang. Sedangkan antara sesama manusia alangkah baiknya saling memelihara hidup dan jiwa seseorang, agar masing-masing memperoleh hidupnya.

Begitu mudahnya seseorang mengejar pamor, harga diri dan nama baik, sementara di balik semuanya betapa banyak nyawa orang dikorbankan. Betapa enggan seseorang berani dan rela mengorbankan dirinya daripada harus mengorbankan orang lain. Memang untuk dapat menolong sesama, diri sendiri perlu mendapatkan tempat duluan, karena jikalau diri sendiri belum terselamatkan, mana mungkin mampu menyelamatkan orang lain, namun dalam realitanya betapa banyak orang yang masih cenderung mengejar dan mencari selamat untuk diri sendiri dan melupakan pertolongan terhadap jiwa dan hidup orang lain. Bahkan tidak sedikit orang yang berani menyelamatkan diri di atas penderitaan jiwa dan hidup orang lain. Orang yang demikian ini belum mempunyai keutamaan Zelus Animarum, belum mampu menghargai hidup. Mereka tentunya masih dihantui oleh ego sendiri, kurang membuka akan rahmat Allah yang senantiasa menolong semua orang. Hanya pribadi yang mampu menjadi ALTAR ALLAH yang akan mampu menghadirkan diri sebagai MESIAS atau PENYELAMAT bagi jiwa dan hidup setiap orang.

Manusia yang bijak dan penuh kesadaran diri adalah manusia yang mampu mengajak setiap orang untuk bersama-sama selamat dari maut dan kehilangan jiwa karena kesia-siaan. Manusia yang bijak mengejar keselamatan hidup dan jiwa bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua orang tanpa memandang siapapun orang itu. Manusia yang bijak mengutamakan hidup dan keselamatan orang lain dan dirinya tanpa memikirkan jasa dan populeritas diri. Manusia yang bijak itu mampu menghargai hidup siapapun dan tidak akan membiarkan orang lain kehilangan hak hidupnya, melainkan terus menerus memperjuangkan kehidupan dan kelayakan setiap orang. Mengapa demikian? Sebab orang yang bijak tahu dan sadar bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak atas jiwa dan hidup setiap orang. Sedangkan kita hanya mempunyai hak dan kewajiban untuk saling menjaga jiwa dan kehidupan baik diri sendiri maupun untuk sesama kita. Apakah anda sudah termasuk di antaranya? Semoga refleksi keutamaan ini lebih membantu menyadarkan setiap orang untuk lebih menciptakan dalam diri keutamaan untuk mencintai hidup sesama dan diri sendiri melalui karya ZELUS ANIMARUM.



Sunday, January 4, 2015

PEMBERIAN ALLAH TERBAIK BAGIKU

Penulis :  Yohanes Setiaboedi

Tiada satupun dari manusia yang hidup di dunia ini sama sekali tidak pernah mengalami kebaikan yang berasal dari kemurahan hati Allah. Sekecil apapun, Allah pasti selalu memberikan yang terbaik bagi kita, sekalipun hal itu tidak pernah kita mintakan kepada-Nya dan tanpa pernah kita sadari pula. Namun Allah selalu mengetahui apa yang sesungguhnya kita perlukan, Dia selalu memperhitungkannya sesuai dengan batas kemampuan diri kita masing-masing. Apapun pemberian Allah itu, semuanya hanyalah semata demi kebaikan dan tanda cinta kasih Allah terhadap diri kita, yang tentunya begitu istimewa dalam pandangan Allah. Hanya sekarang kembali ke dalam diri kita masing-masing, adakah rasa syukur timbul spontan dari dalam hati kita sebagai tanggapan kita atas segala kebaikan hati Allah itu.

Pemberian Allah ini sungguh saya alami ketika menjelang penerimaan Sakramen Krisma (Sakramen Penguatan), tepatnya tahun 1990. Pada waktu itu masing-masing calon penerima Sakramen diminta menentukan nama yang akan diberikan Sakramen sebagai tanda penguatan dari Allah. Semua teman dekat, guru, pastor bahkan orangtua yang saya minta tentang nama yang cocok dengan diri saya, sama sekali tidak memberikannya selain menganjurkan agar saya berdoa dan memohon kepada Allah sendiri. Mereka menyarankan demikian, sebab semuanya yakin bahwa hanya Allah satu-satunya yang mampu memberikan yang terbaik bagi diri sendiri.
Semenjak mendapatkan saran tersebut, saya akhirnya datang kepada Allah dan memohon nama yang terbaik bagiku. Kebiasaan saya berdoa selalu menempatkan Kitab Suci dalam keadaan tertutup di depan Salib di antara dua lilin yang bernyala, lalu mengambil sikap duduk bersila, masuk ke ruang hati dan berkomunikasi dengan Allah. Seketika itu juga Kitab Suci terbuka dengan sendirinya pada Kitab Injil Yohanes dan cahaya lilin hanya menerangi bagian dari Yohanes 15:16 yang berbunyi

 " Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu ".

Melihat jawaban yang Allah sudah berikan, saya pun segera menyudahi doa saat itu sambil tiada hentinya bersyukur, bersujud menyembah dan memuji nama Allah, sebab kebaikan-Nya telah diturunkan kepada hamba-Nya yang hina dina.
Setelah memperoleh nama itu, saya segera datang kepada orangtua dan pastor paroki untuk menyampaikan nama yang sesuai dengan kehendak dan pemberian Allah. Sebagai konsekuensi atas nama itu, saya pun mencoba hidup sesuai dengan nama yang Allah sudah berikan, walau dipenuhi manis dan getir namun itulah yang terbaik menurut Allah bagiku. Oleh karena itu mengapa nama saya YOHANES, sebab hanya dialah murid yang paling dikasihi dan berkenan di hati Allah.

Pemberian terbaik dari Allah ini tentunya juga dialami oleh banyak orang tanpa terkecuali dan tanpa melihat siapa orang itu, dan apapun bentuk pemberian itu. Mungkin pemberian-Nya nampaknya tidak berarti dan terkesan sepeleh, namun itulah yang sudah Allah tentukan dan itu pula pilihan terbaik bagi kita menurut pandangan Allah. Apabila rahmat pemberian itu kita pelihara dengan baik, bahkan kita hidupi, maka tidaklah mustahil apabila suatu saat Allah membukakan mata hati, sehingga melihat apa yang semula terkesan tak berarti menjadi sangat berharga bagi keseluruhan hidup kita selama di dunia. Sebab melalui berbagai pemberian itu, sesungguhnya Allah mau menunjukkan bahwa diri-Nya tidak pernah jauh dari diri kita, Allah selalu hadir di dekat diri kita, bahkan Allah bersemayam di dalam lubuk hati kita sendiri. Hanya bagaimana cara kita membuat Allah menjadi tersenyum, kembali kepada cara kita masing-masing.


Saturday, January 3, 2015

PETUNJUK TUHAN

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Matius 2:1-12

" Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu agar kumampu melangkah dan melangkah, bersyukur dan bersyukur sebab kehadiran-Mu menyelamatkan dan senantiasa membimbing jalanku "
Dalam kondisi dan situasi apapun, kerap kali manusia lupa akan Tuhan, namun tidaklah demikian dengan Tuhan. Tuhan tetap akan menemani dan menyertai manusia dalam segala situasi dan kondisi. Bahkan kerap kali Tuhan berbisik lembut ke dalam diri manusia dan memberikan tanda-tanda akan kehadiran serta keterlibatan Tuhan dalam banyak hal. Hanya diri manusia yang kerap kali tidak mampu melihat dan mengalaminya. Akhirnya lupa untuk bersyukur, bersujud dan menyembah-Nya. Banyak hal yang membuat manusia kehilangan akan sikap tanggap dan lemahnya respon terhadap petunjuk Allah ini, salah satunya adalah kebebalan hati.
Cara Allah memberikan petunjuk beragam bentuknya, sebab bukan sarana yang dipakai Allah sebagai petunjuk ini yang memiliki nilai terpenting, namun peran dan kehadiran Allah di dalam setiap aktivitas, situasi dan kondisi itulah yang jauh lebih penting untuk disadari dan dialami. Apapun sarana dan tandanya, semuanya hanyalah simbol bahwa Allah tak pernah meninggalkan kita manusia, Allah selalu beserta kita sampai kapanpun. Hanya pertanyaannya sekarang, apakah kita tersentuh, sadar dan mau datang kembali menyembah-Nya sambil tiada pernah berhenti melantunkan pujian hanya kepada-Nya walaupun Allah sendiri tidak pernah meminta kepada kita untuk memuji-Nya. Namun hanya diri kita sendirilah yang musti tahu dan sadar diri, bagaimana cara kita memberi persembahan terbaik bagi Allah.
Dengan petunjuk yang diberikan kepada kita, sesungguhnya Allah ingin mengajari dan membekali diri kita akan pengalaman yang kaya rohani bersama-Nya. Dengan demikian, relasi antara diri kita dan Allah menjadi dekat, yang akhirnya membuat diri kita dapat kembali bersyukur dan bersujud sambil memuji dan menyembah-Nya.
Kepekaan dan sikap tanggap kita terhadap petunjuk Allah dapat terbiasa, kalau kita sendiri terus menerus belajar dan belajar untuk menyadari segala tanda yang dipakai oleh Allah untuk memberikan petunjuk-Nya kepada kita. Beragam latihan rohani yang dapat digunakan sebagai sarana untuk belajar lebih peka dan tanggap terhadap petunjuk Allah ini seperti meditasi, membaca bacaan rohani (Lectio Devina), membaca Kitab Suci, melakukan renungan, rajin berkomunikasi dengan Allah lewat doa setiap saat, ikut retreat atau rekoleksi dan segala macam latihan rohani.
Kalau latihan rohani belum juga memampukan diri kita untuk mengenali petunjuk Allah, maka perlu bagi kita untuk masuk ke dalam diri dan melakukan introspeksi diri, agar mampu melihat aneka faktor yang menjadi penghalangnya. Kalau sudah menemukannya, alangkah baiknya penghalang itu dilenyapkan dan selanjutnya diri kita dijaga agar jangan sampai ada penghalang lagi yang datang yang akhirnya cenderung membutakan mata hati kita untuk melihat dan menemukan petunjuk Allah ini yang tiada pernah ada hentinya diberikan kepada kita entah untuk membukakan jalan bagi persoalan hidup ataupun dalam keperluan diri sendiri.


Semoga demikian, Amin. Tuhan memberkati.