Tuesday, January 13, 2015

TUHAN, ENGKAULAH SEGALANYA

Penulis  : P. Dedy. S
Sumber : Markus 1:29-39
Ketika seseorang mengalami penderitaan, sakit dan segala kepahitan pasti akan datang kepada Allah untuk memohon pelepasan dari semuanya itu. Namun, apa yang terjadi ketika semuanya itu berlalu atau tidak menimpah diri seseorang, adakah ingat dan timbul kemauan untuk datang kepada Allah walau hanya sekedar untuk bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya atas segala kebaikan dan kemurahan hati yang telah diberikan-Nya? Mungkin itulah yang menjadi kecenderungan dalam diri kebanyakan orang dan mungkin hal itu juga menjadi penyakit dalam diri kita.

Allah selama ini hanya menjadi tempat pelarian atas segala kerumitan, persoalan dan penderitaan. Seolah-olah kita melupakan-Nya ketika kemujuran menghampiri diri kita. Walaupun kita lupa akan Allah, namun sesungguhnya Allah tak pernah melupakan diri kita walau hanya selangkah saja. Allah selalu membayangi diri kita kemanapun kita pergi dan berada, hanya diri kita sajalah yang kerap kali tidak menyadari akan segala kehadiran-Nya, bahkan tidak menyadari akan segala keterlibatan-Nya dalam tugas keseharian diri kita.

Kalau kita sungguh manusia beriman, tentunya kita selalu sadar diri dan ingat akan Allah yang tak pernah meninggalkan kita walau dosa menghimpit diri kita. Maka sebagai manusia beriman semestinya kita senantiasa datang kepada-Nya di dalam keadaan untung dan malang. Walaupun sepanjang perjalanan hidup tidak pernah ditimpahkan kemalangan ataupun kesulitan di dalam diri kita, bukan berarti kita tak perlu datang kepada Allah. Justru dengan tidak ditimpahkannya kesulitan di dalam diri kita, sebenarnya Allah sangat mengasihi diri kita. Dengan keadaan mujur itu, kita diharapkan menjadikan hidup kita menjadi hidup yang penuh rasa syukur. Bukan hanya itu saja, dengan kemujuran yang diterima, kita mempunyai kewajiban untuk membagi kemujuran itu kepada banyak orang, agar setiap orang yang mengalami kemujuran itu turut serta mengalami kebaikan dan kemurahan hati Allah yang terjadi atas dirinya.

Sesungguhnya Allah bukanlah tempat pelarian, melainkan tempat awal dan akhir dari perjalanan hidup kita termasuk awal dan akhir dari segala aktivitas kita seharian. Hal ini semestinya disadari banyak orang, sebab di awal memulai aktivitas kita mengharapkan berkat dan rahmat Allah atas tugas dan aktivitas yang kita lakukan, sehingga ketika kesulitan tiba-tiba datang menghampiri, Allah tidak segan-segan datang menolong tepat pada waktunya tanpa kita meminta-Nya, sebab kasih Allah tiada batas. Demikian pula ketika kita mengakhiri segala aktivitas pada hari itu, alangkah baiknya kita pun datang sujud menyembah kepada-Nya sambil bersyukur dan memuji atas segala kebesaran rahmat-Nya yang telah menyertai selama seharian. Sebab tanpa kehadiran dan berkat kasih-Nya, sangatlah mustahil kita mampu menjalani hidup dan segala aktivitas sepanjang hari itu. Itulah mengapa Allah menjadi segala-galanya bagi diri dan hidup kita. Namun berapa persen dari sekian banyak manusia yang tersadarkan akan hal ini.

Kesadaran diri sangat diharapkan senantiasa tumbuh berkembang di dalam diri kita, terutama sadar bahwa Allah adalah segalanya bagi diri dan hidup kita. Karena hanya Allah yang tahu dan mengerti sepenuhnya diri kita. Pandangan mata-Nya selalu mengamati setiap gerak gerik diri kita. Ketika kita sakit dan menderita, tangan-Nya selalu terbuka menyambut kedatangan diri kita. Bahkan tidak segan-segan Allah datang melawati diri kita ketika ketidakmampuan melumpuhkan kita dari segala aktivitas. Pendengaran-Nya yang tajam selalu mendengarkan segala keluh kesah dan segala rintihan diri kita. Apakah yang menjadi kekurangan-Nya? Tidakkah Allah sudah melebihkan kemurahan hati-Nya untuk diri kita, tetapi mengapa kita masih cenderung melupakan-Nya, bahkan seolah tiada peduli akan kehadiran-Nya?

Sesungguhnya banyak cara dipakai Allah untuk menunjukkan segala kemurahan hati-Nya, lawatan-Nya, sapaan-Nya dan segala belaskasih-Nya. Allah dapat menggunakan tangan siapapun untuk mengulurkan berkat kasih dan rahmat-Nya, namun berapa dari diri kita yang sadar akan semuanya itu. Kecenderungan dalam diri manusia selalu pilah pilih untuk menerima uluran tangan. Padahal sesungguhnya Allah menggunakan setiap orang yang dipilih-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya. Maka marilah kita mulai membangun sadar diri akan kemurahan hati Allah ini yang senantiasa menjadi segala-galanya bagi diri dan hidup kita. Kapankah kita mau mulai kalau bukan mulai dari sekarang ini.



Monday, January 12, 2015

ZELUS ANIMARUM (PENYELAMATAN JIWA-JIWA)

Penulis : P. Dedy.S

Betapa bangganya ketika seorang team SAR berhasil menyelamatkan seseorang, padahal yang berhasil ditolong hanyalah jasad orang itu bukan pertolongan atas nyawa dan kehidupan orang yang ditolongnya. Sehingga rasa bangga itu digembar gemborkan dengan memproklamirkan akan keberhasilannya. Padahal  penyelamatan yang dilakukan sesungguhnya bukanlah keberhasilan, melainkan kegagalan total. Penyelamatan jiwa seseorang dapat dikatakan berhasil, jikalau nyawa orang yang diselamatkan mendapatkan pertolongan, dan hak hidupnya diperoleh. Namun, jikalau yang terjadi justru sebaliknya yakni tewasnya seseorang karena keterlambatan dalam mendapatkan pertolongan, itu namanya kegagalan total bukan lagi keberhasilan. Dalam realitanya pertolongan selalu datangnya terlambat dengan segala macam alasan yang diberikan. Jikalau pertolongan datangnya tidak mengalami keterlambatan, tentunya penyelamatan jiwa-jiwa masih dapat dilakukan, sekalipun jiwanya menjadi taruhannya. Namun yang terjadi di lapangan, keselamatan jiwa orang lain kurang mendapatkan tempat di dalam diri setiap orang. Setiap orang masih cenderung mencari dan mengejar keselamatan untuk dirinya sendiri tanpa peduli dengan jiwa sesamanya. Bahkan tidak jarang, unsur kesengajaan dibalik menjadi topeng belaka sekedar untuk pembenaran diri.

Hal serupa juga terjadi terhadap hukuman mati bagi seseorang yang belum tentu memberikan jaminan akan kesalahan terhadap orang itu. Sesungguhnya nyawa seseorang sangat bernilai dan berharga, tak ada yang akan mampu menggantikannya sekalipun dibayar milyaran bahkan triliunan. Namun yang terjadi di dunia ini betapa mudahnya hukuman mati dijatuhkan kepada seseorang tanpa melihat nilai kebenaran di baliknya. Seolah-olah nilai nyawa dan hidup seseorang tiada artinya lagi. Seharusnya sebelum hukuman mati dijatuhkan, kebenaran terhadap seorang narapidana harus benar-benar terbuktikan bahwa orang tersebut sungguh pantas menerimanya. Dalam realita, hal ini tidak mendapatkan tempatnya. Hukuman mati cenderung ditimpahkan kepada orang yang tidak bersalah, bahkan terjadi salah tangkap atau seseorang yang dipaksa untuk mengakui dan menerima hukuman mati itu. Proses penangkapan dan penjatuhan hukuman seharusnya perlu ditelaah dengan baik, apalagi penjatuhan hukuman mati terhadap mereka yang sungguh murni tidak bersalah. Apapun alasannya, jiwa dan hidup seseorang perlu saling dijaga dan dihargai, sebab hanya Tuhan yang mempunyai hak atas hidup seseorang. Sedangkan antara sesama manusia alangkah baiknya saling memelihara hidup dan jiwa seseorang, agar masing-masing memperoleh hidupnya.

Begitu mudahnya seseorang mengejar pamor, harga diri dan nama baik, sementara di balik semuanya betapa banyak nyawa orang dikorbankan. Betapa enggan seseorang berani dan rela mengorbankan dirinya daripada harus mengorbankan orang lain. Memang untuk dapat menolong sesama, diri sendiri perlu mendapatkan tempat duluan, karena jikalau diri sendiri belum terselamatkan, mana mungkin mampu menyelamatkan orang lain, namun dalam realitanya betapa banyak orang yang masih cenderung mengejar dan mencari selamat untuk diri sendiri dan melupakan pertolongan terhadap jiwa dan hidup orang lain. Bahkan tidak sedikit orang yang berani menyelamatkan diri di atas penderitaan jiwa dan hidup orang lain. Orang yang demikian ini belum mempunyai keutamaan Zelus Animarum, belum mampu menghargai hidup. Mereka tentunya masih dihantui oleh ego sendiri, kurang membuka akan rahmat Allah yang senantiasa menolong semua orang. Hanya pribadi yang mampu menjadi ALTAR ALLAH yang akan mampu menghadirkan diri sebagai MESIAS atau PENYELAMAT bagi jiwa dan hidup setiap orang.

Manusia yang bijak dan penuh kesadaran diri adalah manusia yang mampu mengajak setiap orang untuk bersama-sama selamat dari maut dan kehilangan jiwa karena kesia-siaan. Manusia yang bijak mengejar keselamatan hidup dan jiwa bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua orang tanpa memandang siapapun orang itu. Manusia yang bijak mengutamakan hidup dan keselamatan orang lain dan dirinya tanpa memikirkan jasa dan populeritas diri. Manusia yang bijak itu mampu menghargai hidup siapapun dan tidak akan membiarkan orang lain kehilangan hak hidupnya, melainkan terus menerus memperjuangkan kehidupan dan kelayakan setiap orang. Mengapa demikian? Sebab orang yang bijak tahu dan sadar bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak atas jiwa dan hidup setiap orang. Sedangkan kita hanya mempunyai hak dan kewajiban untuk saling menjaga jiwa dan kehidupan baik diri sendiri maupun untuk sesama kita. Apakah anda sudah termasuk di antaranya? Semoga refleksi keutamaan ini lebih membantu menyadarkan setiap orang untuk lebih menciptakan dalam diri keutamaan untuk mencintai hidup sesama dan diri sendiri melalui karya ZELUS ANIMARUM.



Sunday, January 4, 2015

PEMBERIAN ALLAH TERBAIK BAGIKU

Penulis :  Yohanes Setiaboedi

Tiada satupun dari manusia yang hidup di dunia ini sama sekali tidak pernah mengalami kebaikan yang berasal dari kemurahan hati Allah. Sekecil apapun, Allah pasti selalu memberikan yang terbaik bagi kita, sekalipun hal itu tidak pernah kita mintakan kepada-Nya dan tanpa pernah kita sadari pula. Namun Allah selalu mengetahui apa yang sesungguhnya kita perlukan, Dia selalu memperhitungkannya sesuai dengan batas kemampuan diri kita masing-masing. Apapun pemberian Allah itu, semuanya hanyalah semata demi kebaikan dan tanda cinta kasih Allah terhadap diri kita, yang tentunya begitu istimewa dalam pandangan Allah. Hanya sekarang kembali ke dalam diri kita masing-masing, adakah rasa syukur timbul spontan dari dalam hati kita sebagai tanggapan kita atas segala kebaikan hati Allah itu.

Pemberian Allah ini sungguh saya alami ketika menjelang penerimaan Sakramen Krisma (Sakramen Penguatan), tepatnya tahun 1990. Pada waktu itu masing-masing calon penerima Sakramen diminta menentukan nama yang akan diberikan Sakramen sebagai tanda penguatan dari Allah. Semua teman dekat, guru, pastor bahkan orangtua yang saya minta tentang nama yang cocok dengan diri saya, sama sekali tidak memberikannya selain menganjurkan agar saya berdoa dan memohon kepada Allah sendiri. Mereka menyarankan demikian, sebab semuanya yakin bahwa hanya Allah satu-satunya yang mampu memberikan yang terbaik bagi diri sendiri.
Semenjak mendapatkan saran tersebut, saya akhirnya datang kepada Allah dan memohon nama yang terbaik bagiku. Kebiasaan saya berdoa selalu menempatkan Kitab Suci dalam keadaan tertutup di depan Salib di antara dua lilin yang bernyala, lalu mengambil sikap duduk bersila, masuk ke ruang hati dan berkomunikasi dengan Allah. Seketika itu juga Kitab Suci terbuka dengan sendirinya pada Kitab Injil Yohanes dan cahaya lilin hanya menerangi bagian dari Yohanes 15:16 yang berbunyi

 " Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu ".

Melihat jawaban yang Allah sudah berikan, saya pun segera menyudahi doa saat itu sambil tiada hentinya bersyukur, bersujud menyembah dan memuji nama Allah, sebab kebaikan-Nya telah diturunkan kepada hamba-Nya yang hina dina.
Setelah memperoleh nama itu, saya segera datang kepada orangtua dan pastor paroki untuk menyampaikan nama yang sesuai dengan kehendak dan pemberian Allah. Sebagai konsekuensi atas nama itu, saya pun mencoba hidup sesuai dengan nama yang Allah sudah berikan, walau dipenuhi manis dan getir namun itulah yang terbaik menurut Allah bagiku. Oleh karena itu mengapa nama saya YOHANES, sebab hanya dialah murid yang paling dikasihi dan berkenan di hati Allah.

Pemberian terbaik dari Allah ini tentunya juga dialami oleh banyak orang tanpa terkecuali dan tanpa melihat siapa orang itu, dan apapun bentuk pemberian itu. Mungkin pemberian-Nya nampaknya tidak berarti dan terkesan sepeleh, namun itulah yang sudah Allah tentukan dan itu pula pilihan terbaik bagi kita menurut pandangan Allah. Apabila rahmat pemberian itu kita pelihara dengan baik, bahkan kita hidupi, maka tidaklah mustahil apabila suatu saat Allah membukakan mata hati, sehingga melihat apa yang semula terkesan tak berarti menjadi sangat berharga bagi keseluruhan hidup kita selama di dunia. Sebab melalui berbagai pemberian itu, sesungguhnya Allah mau menunjukkan bahwa diri-Nya tidak pernah jauh dari diri kita, Allah selalu hadir di dekat diri kita, bahkan Allah bersemayam di dalam lubuk hati kita sendiri. Hanya bagaimana cara kita membuat Allah menjadi tersenyum, kembali kepada cara kita masing-masing.


Saturday, January 3, 2015

PETUNJUK TUHAN

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Matius 2:1-12

" Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu agar kumampu melangkah dan melangkah, bersyukur dan bersyukur sebab kehadiran-Mu menyelamatkan dan senantiasa membimbing jalanku "
Dalam kondisi dan situasi apapun, kerap kali manusia lupa akan Tuhan, namun tidaklah demikian dengan Tuhan. Tuhan tetap akan menemani dan menyertai manusia dalam segala situasi dan kondisi. Bahkan kerap kali Tuhan berbisik lembut ke dalam diri manusia dan memberikan tanda-tanda akan kehadiran serta keterlibatan Tuhan dalam banyak hal. Hanya diri manusia yang kerap kali tidak mampu melihat dan mengalaminya. Akhirnya lupa untuk bersyukur, bersujud dan menyembah-Nya. Banyak hal yang membuat manusia kehilangan akan sikap tanggap dan lemahnya respon terhadap petunjuk Allah ini, salah satunya adalah kebebalan hati.
Cara Allah memberikan petunjuk beragam bentuknya, sebab bukan sarana yang dipakai Allah sebagai petunjuk ini yang memiliki nilai terpenting, namun peran dan kehadiran Allah di dalam setiap aktivitas, situasi dan kondisi itulah yang jauh lebih penting untuk disadari dan dialami. Apapun sarana dan tandanya, semuanya hanyalah simbol bahwa Allah tak pernah meninggalkan kita manusia, Allah selalu beserta kita sampai kapanpun. Hanya pertanyaannya sekarang, apakah kita tersentuh, sadar dan mau datang kembali menyembah-Nya sambil tiada pernah berhenti melantunkan pujian hanya kepada-Nya walaupun Allah sendiri tidak pernah meminta kepada kita untuk memuji-Nya. Namun hanya diri kita sendirilah yang musti tahu dan sadar diri, bagaimana cara kita memberi persembahan terbaik bagi Allah.
Dengan petunjuk yang diberikan kepada kita, sesungguhnya Allah ingin mengajari dan membekali diri kita akan pengalaman yang kaya rohani bersama-Nya. Dengan demikian, relasi antara diri kita dan Allah menjadi dekat, yang akhirnya membuat diri kita dapat kembali bersyukur dan bersujud sambil memuji dan menyembah-Nya.
Kepekaan dan sikap tanggap kita terhadap petunjuk Allah dapat terbiasa, kalau kita sendiri terus menerus belajar dan belajar untuk menyadari segala tanda yang dipakai oleh Allah untuk memberikan petunjuk-Nya kepada kita. Beragam latihan rohani yang dapat digunakan sebagai sarana untuk belajar lebih peka dan tanggap terhadap petunjuk Allah ini seperti meditasi, membaca bacaan rohani (Lectio Devina), membaca Kitab Suci, melakukan renungan, rajin berkomunikasi dengan Allah lewat doa setiap saat, ikut retreat atau rekoleksi dan segala macam latihan rohani.
Kalau latihan rohani belum juga memampukan diri kita untuk mengenali petunjuk Allah, maka perlu bagi kita untuk masuk ke dalam diri dan melakukan introspeksi diri, agar mampu melihat aneka faktor yang menjadi penghalangnya. Kalau sudah menemukannya, alangkah baiknya penghalang itu dilenyapkan dan selanjutnya diri kita dijaga agar jangan sampai ada penghalang lagi yang datang yang akhirnya cenderung membutakan mata hati kita untuk melihat dan menemukan petunjuk Allah ini yang tiada pernah ada hentinya diberikan kepada kita entah untuk membukakan jalan bagi persoalan hidup ataupun dalam keperluan diri sendiri.


Semoga demikian, Amin. Tuhan memberkati.