Thursday, May 21, 2015

HARI RAYA PENTAKOSTA

Penulis : P. Dedy. S

Sembilan hari kita bertekun dalam doa dan laku tapa melalui DOA NOVENA ROH KUDUS. Selama novena, tiada hentinya kita berharap penuh penantian akan datang dan turunnya Roh Kudus atas diri kita sama seperti turunnya Roh Kudus atas para rasul. Bukan itu saja, kita juga berharap berbagai karunia Roh dicurahkan ke dalam diri kita. Kini saat yang kita tunggu bersama itu telah tiba yakni peristiwa TURUNNYA ROH KUDUS ke atas diri kita masing-masing sesuai dengan karunia Roh yang kita mohonkan selama NOVENA. Hanya sekarang yang menjadi masalahnya, apakah kita telah menyadari dengan sepenuhnya bahwa Allah telah mencurahkan karunia Roh Kudus itu ke dalam diri kita masing-masing? Sebab tidak sedikit di antara kita yang masih menyangsikan akan penganugerahan karunia Roh ini, mungkin salah satunya adalah diri kita sendiri.

Kata PENTAKOSTA sendiri terdapat pada Kitab Suci terutama Kisah Para Rasul 2:1. Kata PENTAKOSTA dipakai oleh para rasul untuk memberikan istilah HARI KELIMA PULUH. Hitungan kelima puluh itu dihitung sejak Yesus bangkit dari kematian yaitu pada HARI MINGGU yang disebut PASKAH. Namun dalam perkembangan, kata PENTAKOSTA diartikan TURUNNYA ROH KUDUS yang terjadi atas para rasul dalam rupa lidah api. Peristiwa ini tidak hanya merayakan akan rangkaian dari perayaan PASKAH, tetapi juga merayakan peristiwa lahirnya GEREJA. Perlu dipahami bahwa kata Gereja di sini bukan berarti gedung, melainkan kumpulan umat beriman akan Yesus Kristus. Roh Kudus yang turun atas para rasul menjadi jiwa GEREJA. Di saat inilah perutusan kita dimulai melalui talenta dan karunia Roh yang telah dicurahkan ke dalam diri setiap pribadi di dalam keluarga.

Peristiwa PENTAKOSTA juga merupakan manifestasi dari Umat Baru yang dilahirkan oleh Roh Kudus yang tidak lain adalah Roh Kristus sendiri. Dalam peristiwa Pentakosta, Allah menyatakan kepada dunia, bahwa persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus adalah persekutuan yang dijiwai dan dibimbing oleh Roh Kudus menjadi Umat Baru, Umat Allah, Umat Perjanjian Baru dalam Yesus Kristus sebagai satu kesatuan. Ide ini sudah lama hadir di dalam Perjanjian Lama (Bdk. Kejadian 2:2-3; 12:2; 15:18; Keluaran 19; 24:1-8; Ulangan 32:9-10), yang semuanya akhirnya terlaksana secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Memang untuk itulah Yesus datang, yaitu untuk menggenapi apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Umat Baru yang lahir dari Roh Kudus inilah yang disebut GEREJA, Yesus sendiri sebagai Kepalanya. Dari sinilah lahirnya paham mengenai TUBUH MISTIK KRISTUS.

Pertanyaannya sekarang, apakah Roh Kudus dan segala karunia-Nya yang sudah diterimakan itu tinggal diam ataukah bergerak aktif dalam diri setiap orang? Roh Kudus yang sudah diterima bukannya tinggal diam, melainkan hidup dan aktif dalam seluruh kehidupan diri setiap orang. Dalam hal ini Roh Kudus sangat berperan penting dalam hidup Gereja dan seluruh anggotanya. Ada beberapa buah yang dihasilkan oleh karena peran Roh Kudus, di antaranya sebagai berikut:

1. Membangkitkan hidup persekutuan orang beriman yang disebut Gereja

Dalam peristiwa Pentakosta telah menunjukkan bukti akan awal kebangkitan hidup persekutuan orang beriman (Kisah Para Rasul 2:1-13). Dalam peristiwa ini semua orang yang hadir mengalami pencurahan Roh yang berasal dari satu Roh yang sama yaitu Roh Kudus yang merupakan manifestasi Gereja Kristus untuk dunia. Roh yang dicurahkan itu bekerja secara dinamis, bukan statis. Kedinamisan ini nampak bahwa Roh Kudus ini telah mengubah hati mereka yang lama menjadi hati yang baru (Kisah Para Rasul 2:4b), sebuah hati yang diliputi sukacita penuh, hati yang dibimbing dan mampu mewartakan kebenaran (Kisah Para Rasul 2:4c). Berkat Roh Kudus, mereka menjadi bersatu dalam persekutuan.


2.. Mencurahkan karunia-karunia Roh kepada setiap anggota dalam pembangunan Gereja

Dalam pencurahan, Roh Kudus mengalirkan berbagai karunia kepada setiap orang sesuai dengan kemampuan orang tersebut. Setiap orang mendapatkan karunia yang berbeda ( I Korintus 12:7-10), agar mereka semua menjadi satu kesatuan, sebab walau karunia itu berbeda namun tetap berasal dari Roh yang satu dan sama. Semuanya itu demi pembangunan dan masa depan Gereja.


3. Menjadikan setiap orang sebagai anak-anak Allah yang semakin hari semakin dewasa dalam iman

Setiap orang yang secara resmi menjadi anggota Gereja, mereka pula mengambil bagian dalam keanggotaan keluarga bersama dengan Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Untuk dapat memasukinya, setiap orang tidaklah mampu mengandalkan kekuatannya sendiri. Hanya bersekutu dengan Allah akan memampukan seseorang. Untuk itu harus mengalami kelahiran kembali. Ini bukan berarti harus masuk kembali ke rahim ibu, melainkan terlahir dari Roh Kudus (Yohanes 3:5). Kelahiran baru itu sendiri melalui Sakramen baptis. Selanjutnya menuju ke tahap berikutnya yakni proses pendewasaan iman. Hal ini pula tidak dapat terjadi begitu saja, perlu pendampingan dan bimbingan langsung dari Allah melalui kuasa Roh Kudus yang dicurahkan dalam Sakramen Krisma atau Penguatan. Demikian orang tersebut dapat mengalami peralihan dari hidup menurut kemauan sendiri menuju hidup yang dituntun oleh Roh dan hanya mengikuti kemauan Roh.

Kalau selama novena Roh Kudus, kita memohonkan karunia Roh dan pada hari ini kita telah menerimanya, agar Roh yang kita terima menjiwai diri kita, maka perlu bagi kita untuk hidup sesuai dengan keinginan Roh, bukan lagi mengikuti segala keinginan diri sendiri. Sebab keinginan Roh dan keinginan diri kita sendiri itu berbeda dan saling bertentangan ( Bdk. Galatia 5:16-25). Setiap perbuatan apakah itu berasal dari keinginan Roh atau diri sendiri, setiap orang akan dapat dengan mudah mengenalnya dengan melihat dari buah yang dihasilkannya. Apabila kita belum mampu mengenalnya atau membedakannya, maka lebih baik kita memohon kembali kepada Allah supaya diri kita diberikan karunia Roh untuk mampu membedakannya. Karunia Roh itu dapat kita baca dan temukan dalam Kitab Nabi Yesaya 11:2 atau I Korintus 12:4-11.
Dengan karunia Roh itu, diharapkan dari dalam diri kita ada kemauan untuk memberi kesaksian tentang kebaikan Allah dan segala kebenaran-Nya. Untuk dapat menjadi saksi kebenaran, maka diri kita haruslah lebih dahulu hidup di dalam seluruh kebenaran bersama dan di dalam Dia (Bdk. Yohanes 15:26-27.16:12-15).

“ Ya Allah, sabda-Mu adalah kebenaran, tuntunlah kami selalu di dalam jalan kebenaran dengan kuasa Roh Kudus-Mu sendiri “



Thursday, May 14, 2015

DASAR HISTORIS BIBLIS NOVENA PENTAKOSTA

Penulis : P. Dedy. S


Setelah merayakan HARI RAYA KENAIKAN TUHAN, Gereja Katolik mengadakan peribadatan SEMBILAN HARI yang disebut Novena Pentakosta. Peribadatan ini bukanlah hasil perkembangan Gereja dalam menumbuh-kembangkan HIDUP DOA, ibadat ini justru berasal dari tradisi yang dilakukan oleh Jemaat Perdana.

Jemaat Perdana adalah jemaat yang pertama-tama menjadi pengikut Yesus Kristus, yang lahir dari Roh Kudus. Mereka inilah yang mempelopori atau penerus dalam pengembangan ajaran Kristiani. Hari lahirnya di saat peristiwa PENTAKOSTA atau yang sering disebut HARI KELIMA PULUH setelah KEBANGKITAN YESUS atau yang disebut PASKAH.

Ibadat ini dilakukan oleh Jemaat Perdana selama SEMBILAN HARI setelah Yesus naik ke surga. Kalau kita membaca Kitab Suci terutama setelah peristiwa kenaikan Yesus ke surga, kita tidak akan mungkin dapat menemukan kata SEMBILAN HARI. Ini dikarenakan memang Kitab Suci tidak menuliskan secara jelas tentang kata SEMBILAN HARI ini, namun sesungguhnya para rasul menyadari dan menerima pesan ini dari Yesus sendiri supaya pergi ke Yerusalem dan menunggu pemenuhan janji-Nya selama sembilan hari dan pada hari kesepuluh janji itu dilaksanakan. Karena pesan itu berasal dari Yesus sendiri sebelum naik ke surga, maka mereka pun melaksanakannya.

Dahulu para rasul selama sembilan hari berkumpul, bersatu dan bertekun dalam doa dan laku tapa sambil menantikan kedatangan Roh Kudus seperti yang telah dijanjikan oleh Yesus sendiri. Mereka yang hadir dan bersatu di dalam doa bukan hanya para rasul, melainkan juga para murid yang lain termasuk Maria Bunda Yesus (Bdk. Kisah Para Rasul 1:9-14). Kebiasaan ini bermula dari pelaksanaan pesan Yesus setelah naik ke surga, namun dalam perkembangan selanjutnya berubah menjadi tradisi yang harus terus menerus dirayakan setiap setelah 40 hari dan menjelang perayaan hari KELIMA PULUH. Maka sebagai pewaris, kita patut melaksanakannya dengan bertekun dalam doa dan laku tapa sambil menantikan Roh Kudus yang dicurahkan bukan hanya ke dalam diri kita, melainkan juga dalam diri setiap orang yang percaya akan Yesus Putra Allah. Doa sembilan hari inilah yang disebut NOVENA.

Dikatakan NOVENA PENTAKOSTA karena doa sembilan hari ini diperuntukkan dalam menyambut PERAYAAN PENTAKOSTA. PENTAKOSTA sendiri sekarang dipahami sebagai HARI RAYA MENGENANG PERISTIWA TURUNNYA ROH KUDUS ATAS PARA RASUL. Sedangkan pengertian asli dari PENTAKOSTA berarti HARI KELIMA PULUH setelah PASKAH. 40 hari setelah PASKAH, Yesus naik ke surga, sepuluh hari kemudian Yesus menggenapi janji-Nya yaitu mengirimkan dan mencurahkan Roh Kudus sebagai tanda perutusan dan penyertaan dalam mewartakan Kabar Sukacita. Karena pada hari kesepuluh akan terjadi peristiwa Pentakosta, maka sembilan hari sebelumnya dijadikan sebagai pekan penantian. Selama penantian itu para rasul berharap mendapatkan pencurahan ragam karunia Roh namun berasal dari Roh yang sama yaitu Roh Kudus. Seperti yang dipesankan oleh Yesus, maka selama sembilan hari itu mereka berkumpul untuk bertekun dalam doa dan laku tapa.

Karunia Roh yang dinantikan oleh para rasul itu disebut 7 karunia Roh ( Bdk. I Korintus 12: 1-11) yang meliputi:
  1. Roh untuk bernubuat
  2. Roh untuk mengadakan mukjizat
  3. Roh untuk pengetahuan
  4. Roh yang memampukan untuk menafsirkan dan membedakan ragam bahasa Roh
  5. Roh yang menyembuhkan
  6. Roh untuk berkata dalam hikmat
  7. Roh yang memberikan iman

Kata Pentakosta itu sendiri berasal dari kalangan para rasul untuk menyebut istilah HARI KELIMA PULUH (Bdk. Kisah Para Rasul 2:1-11). Peristiwa PENTAKOSTA yang terjadi pada saat itu diresmikan sebagai HARI BERDIRINYA GEREJA PERDANA, yang menjadi cikal bakal Gereja sampai jaman sekarang yaitu sebuah Gereja yang dibangun atas dasar para rasul dan mendapatkan berkat dari kuasa Roh Kudus. Karena itu Gereja menjadi hidup bukan karena banyaknya pengikut, melainkan karena Gereja sendiri dijiwai oleh Roh Kudus. Karena adanya Roh Kudus yang menjiwai Gereja, maka Novena Pentakosta ini juga sekarang diselenggarakan bersama dengan Perayaan Ekaristi selama sembilan hari itu, sebab keduanya, baik ekaristi maupun novena merupakan satu bagian yang tidak dapat terpisahkan.



Wednesday, May 6, 2015

KENAIKAN TUHAN

Penulis : P. Dedy. S

Di dalam budaya masyarakat terutama di Indonesia terdapat tradisi untuk memperingati keluarga atau kerabat yang sudah meninggal dunia. Peringatan itu seperti  3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya. Beragam tata cara dilakukan oleh setiap suku dalam merayakan peringatan itu. Ada yang hanya dengan sembahyangan dan ada yang dengan upacara tertentu. Tradisi peringatan seperti ini tidak hanya terdapat dalam budaya daerah, melainkan juga terdapat di dalam kebudayaan Gereja. Tradisi yang dimiliki Gereja ini pun mempunyai kebiasaan kultural yang sama untuk merayakan misteri keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus. Salah satu perayaan itu adalah KENAIKAN TUHAN.

Gereja mendapatkan tradisi perayaan ini dari Gereja Perdana atau Jemaat yang pertama-tama menjadi pengikut Kristus yang menjalin persekutuan dengan para murid Yesus. Tradisi ini untuk memperingati 40 hari setelah Yesus bangkit dari antara orang mati atau yang disebut PASKAH. Gereja Perdana melakukan tradisi ini dengan maksud dan tujuan untuk mengenangkan kembali akan peristiwa agung dan mulia yang mereka alami bersama dengan Yesus, teristimewa ketika mereka sendiri menjadi saksi mata akan kenaikan Yesus menuju surga secara jiwa dan raga-Nya. Selain itu juga untuk mengenangkan kembali akan pesan dan janji Yesus kepada para murid. Sebab pesan dan janji ini harus diteruskan sampai akhir jaman. Peristiwa kenaikan inilah yang dijadikan tanda kemenangan Kristus dan sekaligus kemuliaan bagi diri kita. Maka perlu bagi kita untuk merayakan hari kemenangan dan kemuliaan ini. Ini pula yang menjadi dasar iman kita, bahwa Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Melalui kenaikan ke surga, Yesus sendiri ingin meneguhkan iman setiap orang yang percaya dan berimankan akan Dia, agar iman dan kepercayaan yang dimiliki tidak sia-sia, melainkan makin hari makin diteguhkan dan dikuatkan.

Sebelum terangkat ke surga, Yesus telah meninggalkan pesan kepada para murid yang disebut-Nya Rasul agar :

  1. Mewartakan Kabar Sukacita ( Injil) ke seluruh dunia
  2. Membaptis banyak orang dan menjadikan semua orang menjadi murid Tuhan dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

Sebelum terangkat pun, Yesus memberikan janji-Nya kepada para murid termasuk kepada diri kita dan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Janji-janji itu seperti:

  1. Tuhan berjanji akan menyertai kita sampai akhir jaman
  2. Akan mengirimkan seorang penghibur sebagai tanda penyertaan Tuhan atas diri kita. Penghibur itu adalah Roh Kudus.
  3. Sebagai tanda penyertaan, Tuhan berjanji pula akan memberikan tanda-tanda istimewa sebagai tanda perlindungan Tuhan atas diri kita dalam menjalankan tugas sebagai seorang murid Kristus yaitu IMAM, RAJA dan NABI (Bdk. Markus 16:15-20). Ketiga tugas itu terdapat dalam PANCA TUGAS GEREJA yang meliputi: KOINONIA (persekutuan), LITURGIA (peribadatan), DIAKONIA (pelayanan), KERYGMA (pewartaan) dan MARTYRIA (kesaksian hidup). Tanda penyertaan yang diberikan kepada para murid termasuk kita seperti: mampu mengusir setan (menghalau kekuatan jahat), mampu menginjak ular (mampu melawan tindakan jahat), minum racun tidak mati (terbebas dari budak kejahatan)

Kenaikan Yesus menuju rumah Bapa di surga memang disaksikan sendiri oleh para Rasul, sedangkan kita sendiri tidak melihat langsung (Bdk. Kis 1:1-11). Hal ini bukan berarti tugas kesaksian hanya tugas para rasul, justru kita harus berani memberi kesaksian walau kita sendiri bukan saksi mata. Namun segala apa yang telah kita dengar dan kita alami dalam hidup sehari-hari, itulah yang menjadi kesaksian hidup berkat campur tangan Tuhan di dalam keseluruhan hidup kita. Selama kita memberikan kesaksian, Roh Kudus akan menyertai dengan menuntun setiap cara yang kita pakai dalam kesaksian.

Yesus sendiri terangkat ke surga untuk mempersiapkan tempat bagi kita dan orang-orang yang dengan imannya percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Dengan iman itu, Yesus berjanji akan membawa keselamatan atas diri orang yang percaya sekalipun tidak melihat (Bdk. Ef 4:1-13). Percaya dengan iman yang Yesus maksud bukanlah hanya berupa seruan dan pengakuan, melainkan bagaimana iman dan kepercayaannya kepada Yesus yang adalah Anak Allah itu benar-benar nyata di dalam segala tindakannya. Sama seperti dengan apa yang Rasul Paulus katakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Maka, agar iman itu tidak mati atau mengalami kemandulan, perlu dilaksanakan. Apabila diri kita sanggup melaksanakannya, itu pertanda diri kita ikut dipermuliakan bersama dengan Kenaikan Yesus ke surga.

Tentu banyak kesulitan, tantangan, rintangan bahkan ancaman selama memberi kesaksian. Namun itulah resiko yang harus kita berani hadapi, sebab Yesus sendiri memberikan teladan bagaimana Dia hadapi semuanya itu dengan segala apa yang dimiliki seperti kesabaran, kelemah lembutan, kerendahan hati, kesederhanaan dan pengorbanan diri. Namun, pada akhirnya Yesus mampu melewati itu semua berkat campur tangan Allah. Maka, dalam memberi kesaksian hidup kita pun diharapkan bersandar kepada Allah sebagai sumber kekuatan, jangan pernah gunakan kekuatan sendiri, karena kekuatan yang ada di dalam diri kita ini sangat terbatas.


Monday, May 4, 2015

CINTA ITU PERLU PENGORBANAN

Penulis  : P. Dedy. S
Sumber : Yohanes 15:9-17

Dari dahulu sampai kapanpun setiap orang selalu membicarakan tentang cinta dengan berbagai ragam masalahnya. Bahkan digambarkan atau disimbolkan. Sebenarnya dalam persoalan cinta, bukanlah cinta yang menjadi penyebab persoalannya, namun diri kita sendiri yang kurang memahami apa sejatinya cinta itu. Banyak orang berbicara tentang cinta namun bukanlah pelaku cinta itu sendiri. Kalau hanya mengatakan, semua orang pasti bisa. Begitu banyak buku-buku dituliskan dan diterbitkan yang berisi tentang cinta, juga film-film yang mengungkapkan sebuah cinta. Namun, apakah itu sebuah jawaban untuk cinta? Sebab cinta itu tidaklah cukup hanya dikatakan, cinta itu perlu tindakan nyata.

Di dalam keluarga, kerap kali cinta dijadikan alasan percekcokan, bahkan lebih ironisnya hanya karena cinta, keluarga menjadi hancur lebur. Hal ini dapat terjadi karena cinta yang dialami tidak mendapatkan ruang untuk pendalaman, tidak direfleksikan secara mendalam dan direnungkan. Banyak pasangan saling mentuntut bukti cinta yang begitu besar, sedangkan bentuk cinta yang kecil dan sederhana tidak dipandangnya. Bahkan tidak jarang banyak orang yang menyamakan ukuran cinta dengan materi atau kekayaan. Padahal seberapapun ukuran bentuk cinta itu, itulah yang dinamakan pengorbanan.

Pengorbanan tidak harus dinilai dari segi materi, tetapi dapat juga dilihat dari sudut pandang lain seperti: tenaga, waktu, senyuman, sapaan dan berbagai cara yang sangat kecil dan sederhana. Namun semuanya itu sering kali tidak dilihat, sebab kecenderungan yang ada selalu melihat ungkapan cinta dalam bentuk yang besar terutama secara nominal atau kekayaan. Kalau diri kita tidak mampu melihat cinta yang kecil dan sederhana dari orang di sekitar kita, mana mungkin dapat merasakan dan mengalami cinta Allah yang terus menerus dicurahkan ke dalam diri kita.

Setiap saat Allah tidak pernah berhenti mencurahkan cinta kasih-Nya ke dalam diri setiap orang. Namun inipun kerap kali tidak disadari oleh kebanyakan orang, karena dalam pandangan banyak orang, diharapkan cinta Allah itu nyata melalui pengabulan segala doa dan keinginannya. Kalau doa dan keinginannya belum terkabulkan kerap kali dilihat bahwa Allah tidak sungguh mencintainya, bahkan seolah-olah Allah telah meninggalkannya seorang diri, bahkan membiarkannya. Inilah pandangan yang keliru tentang cinta Tuhan.  Dari sudut pandang itu, sebenarnya bukannya Allah tidak mengabulkannya, melainkan Allah menunda pencurahan itu karena Allah terlebih dahulu melihat apa yang sesungguhnya kita perlukan, apalagi permohonan dan keinginan itu tidak selaras dengan kehendak Allah sendiri. Kita harus yakin dan percaya di dalam iman, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi diri kita tepat pada waktunya.

Benarkah Allah mencurahkan segenap cinta-Nya ke dalam diri setiap orang setiap saat? Mari kita melihat dari kehidupan sehari-hari:
  1. Mulai dari kita bangun dari tidur lalu membuka mata, melihat sekeliling dan bernafas. Siapakah yang memberikan itu semua.
  2. Mari kita lihat dari apa yang kita pakai, dari pakaian yang murah sampai yang paling mahal tentunya dapat kita raih karena mempunyai keuangan pribadi yang didapat dari kerja atau usaha atau pemberian orang lain. Kalau kita mau melihat lebih dalam, semua keuangan itu didapat darimana? Benarkah dari orang lain? Orang lain itu mendapatkannya darimana?
  3. Mari kita lihat dari apa yang kita makan. Kita dapat dengan mudah memperolehnya entah dengan menanam, beternak, berjualan, membeli di beberapa tempat. Dari siapa dan dari manakah sumber semuanya itu? Memang ada yang mengusahakan makanan yang dimakan itu dengan kerja keras dan menikmatinya secara berkecukupan, namun ada pula yang sampai berlebihan. Coba mari kita lihat, siapa yang mengadakan semuanya itu?
  4. Mari kita lihat dalam kesehatan: Ketika badan sehat atau mengalami kesembuhan dari sakit, siapakah dokter yang memberikan kesembuhan? Benarkah itu karena pengaruh obat atau jasa seorang dokter?
  5. Mari kita lihat dari sumber tenaga: Kita mampu berjalan, mengendarai kendaraan dan melakukan segala aktivitas. Siapakah yang membuat kita mampu melakukan itu semua?
  6. Mari kita lihat dari segi pertolongan: Setiap hari dan setiap saat kita tentu menjumpai orang-orang yang selalu menolong diri kita : petugas bahan bakar kendaraan, penunjuk jalan, polisi yang mengatur perjalanan diri kita, mereka yang menyapa kita di jalan dan orang-orang yang kita jumpai. Siapakah mereka sesungguhnya? Kebaikan itu semua berasal darimana?

Masih ada banyak hal yang dapat dilihat dan ditemukan dari kehidupan sehari-hari yang membuktikan bahwa sesungguhnya Allah itu tidak berdiam diri. Allah itu selalu mencurahkan kasih-Nya kepada kita dengan cara-Nya sendiri. Apa yang dicurahkan itu tidak pernah berhenti, melainkan selalu mengalir seperti air ke dalam diri setiap orang dan setiap saat.

Dalam pencurahan cinta kasih-Nya, Allah sendiri tidak pilih-pilih, tidak peduli kaum pendosa maupun kaum yang memandang diri benar. Justru kalau kita mau menengok lebih dalam, sebenarnya Allah lebih banyak memberikan cinta-Nya kepada kaum pendosa, agar mereka sadar dan kembali bertobat. Sedangkan mereka yang selama ini hidup di jalan Tuhan, kerap kali mengalami kekurangan dalam pencurahan cinta Allah, yang tentunya Allah mempunyai maksud dan tujuan, yaitu untuk melihat sampai sejauhmana iman kita akan Allah itu mampu bertahan. Apabila kita yang hidup di jalan Tuhan mampu bertahan di dalam iman, kita akan mendapatkan anugerah yang sangat besar. Sebaliknya, kita akan mengalami kemandulan iman, dan menjadi lebih jauh dari Allah sendiri. Seberapapun pengalaman kita akan cinta Allah, maka kita perlu membagikan cinta itu kepada siapapun tanpa pamrih. Apabila masih pilih-pilih, itu namanya egoisme bukan cinta. Itulah yang juga terdapat dalam pandangan umat di Kaisarea. Mereka berpandangan bahwa Allah itu hanya mengasihi mereka dan mencurahkan Roh Kudus-Nya hanya kepada mereka pula, bukan kepada semua orang dan semua bangsa. Namun sejak Petrus hadir dan mengajarkan kebenaran tentang cinta Tuhan, maka umat Kaisarea pun menjadi tersadarkan bahwa sesungguhnya Allah itu mencintai setiap orang dan setiap bangsa tanpa memandang siapapun orang dan bangsa itu (Bdk Kis 10:25-26.34-35.44-48).

Tidak dapat dipungkiri bahwa ada pula yang menempatkan motivasi lain di balik cinta. Cinta yang seperti ini bukanlah berasal dari Allah. Cinta yang berasal dari Allah itu bersifat tulus, jujur, ikhlas, murni, penuh kepercayaan, penuh kesabaran, penuh pengorbanan, penuh kerendahan dan kelembutan hati. Setiap orang yang membagikan cinta yang berasal dari Allah, dialah yang sungguh mengenal Allah, sebab Allah itulah Sang Cinta yang mencintai setiap orang dengan Cinta Kasih (Bdk I Yoh 4:7-10). Perintah untuk berbagi cinta itu sendiri berasal dari Allah. Maka siapapun yang mengatakan bahwa dirinya mencintai Allah dan mengenal Allah, haruslah melaksanakan perintah Allah yaitu mencintai setiap orang sebagai mana kita mencintai Allah dan diri sendiri. Karena Yesus sendiri menjadi korban cinta-Nya bagi semua orang, maka kita pun wajib memiliki semangat dan kerelaan untuk mengorbankan diri sebagai bukti cinta kita akan sesama (Bdk. Yoh 15:9-17). Mari kita ungkapkan cinta kasih yang berasal dari Allah itu pertama-tama ke dalam keluarga sebelum kita membagikannya kepada orang di sekitar kita. Kalau kita mampu menunjukkan cinta dengan berkorban dalam keluarga, kita akan dimampukan untuk mencintai dan berkorban bagi orang lain.

“Ya Allah ajarilah aku untuk mencintai sesamaku sebagaimana aku mencintai Engkau dan diriku sendiri dengan cinta yang berasal dari-Mu “