Wednesday, October 21, 2015

BERKUASA ITU MELAYANI DENGAN KELUBERAN

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Markus 10:35-45

Sejak penciptaan, Allah telah memberikan tugas kepada manusia; salah satu tugas itu adalah memiliki kekuasaan atas makhluk hidup yang lain. Namun maksud Allah dengan kekuasaan itu bukanlah menguasai seluruh ciptaan termasuk sesamanya manusia. Justru yang dimaksudkan oleh Allah dengan berkuasa yaitu melayani, memelihara, menjaga, melestarikan dan menggunakan semuanya itu dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan. Namun, kenyataannya manusia sering jatuh ingin menguasai manusia lainnya. Berkuasa atau memiliki  kuasa berarti pula  memiliki kemauan dan kesediaan untuk memberikan dan membangun kekuatan dari, bersama dan untuk orang lain. Bukan memanfaatkan bahkan  memeras daya  dan kemampuan hidup orang lain hanya demi kepentingan diri sendiri; justru sebaliknya menambahkan daya hidup bagi orang lain yang berkekurangan,  supaya  orang lain itu dapat mengalami  hidup damai sejahtera. Dengan kata lain, Berkuasa berarti memiliki dan menggunakan kemampuan diri untuk ikut serta memberikan sumber hidup kepada orang lain secara rela, cuma-cuma dan tanpa perhitungan. Itulah yang dinamakan LUBER atau BERKELIMPAHAN.

Untuk menjadi manusia yang mampu melayani dengan segala kelimpahan, dari dalam diri kita sendiri dituntut penyerahan diri secara total kepada Allah dan mengambil peran sebagai hamba. Dengan demikian, kita akan mendapatkan hikmat yang berasal dari Allah untuk membenarkan banyak orang, mampu memaafkan kesalahan orang lain dan memperoleh kekuatan dalam menanggung segala macam penderitaan (Bdk. Yesaya 53:10-11). Untuk mencapai kesemuanya itu hanya ada satu sikap yang diperlukan yaitu kerendahan hati.

Yesus adalah model pelayanan hidup kita. Sebagai Imam Agung berbeda dengan para imam pada umumnya. Ia sama dengan kita yaitu mengalami pencobaan dan tantangan yang luar biasa, namun tidak berdosa. Bahkan rela menanggung  kehinaan  dan penderitaan, serta mati di salib. Semuanya itu hanya bertujuan untuk menyelamatkan kita. Ia memasuki nasib kita, agar bersama Dia, kita dapat diangkat kembali menjadi ahli waris surgawi (Bdk. Ibrani 4:14-16).

Kita mungkin sering mempermasalahkan dan memperebutkan kedudukan yang diwarnai materialistis dan egoistis. Bagi Yesus, berkuasa itu bukanlah memerintah melainkan melayani dengan segala bentuk pengorbanan bukan demi kepentingan pribadi ataupun golongan, melainkan demi kepentingan bersama. Agar tak seorangpun mengalami kekurangan, sebaliknya agar setiap pribadi mengalami kelimpahan atau keluberan (Bdk. Markus 10:35-45).


Thursday, October 8, 2015

JALAN MENUJU HIDUP KEKAL

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Markus 10:17-30

Di masyarakat kerap kali berpandangan bahwa yang terpenting dan menjamin seseorang untuk hidup adalah pekerjaan, kekayaan dan status. Kekayaan atau harta materiil kerap kali dilihat sebagai puncak kekuatan dan kebanggaan, yang harus dicapai manusia. Memang demikianlah pandangan dan sikap orang duniawi, seolah-olah orang hanya ingin hidup di dunia ini saja, maka sikapnya materialistis.

Tujuan  hidup itu sebenarnya bukan untuk yang hanya bersifat sementara, melainkan yang menuju ke dalam hidup kekal. Untuk mencapai dan memperolehnya, setiap orang perlu perjuangan dalam menekuni hidup rohani dan menggunakan kekayaannya secara bijaksana yang bukan melulu menguntungkan dirinya sendiri, melainkan berguna bagi sesamanya. Karena itu doa dan kebijaksanaan haruslah mendapatkan tempat di dalam diri kita, agar kita mampu memilah-milah antara kebutuhan hidup di dunia dan hidup kekal (Bdk. Kebijaksanaan 7:7-11).

Selain doa dan kebijaksanaan, kita juga memerlukan santapan rohani yaitu Sabda Tuhan. Semakin sering kita duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan Dia bersabda, secara otomatis diri kita akan dibimbing oleh Sabda itu dan akan diingatkan ketika kita mulai salah jalan. Sebab Sabda Allah itu hidup dan penuh daya. Agar Sabda itu sungguh-sungguh menghidupi diri kita dan senantiasa membawa kita ke dalam persekutuan dengan Allah, maka dari dalam diri kita diharapkan ada keterbukaan hati dan kemauan untuk memiliki Sabda Allah itu di dalam diri dan hati kita (Bdk. Ibrani 4:12-13).

Jalan menuju hidup kekal itu tidaklah cukup hanya melakukan kesepuluh perintah Allah, tanpa mempunyai kemauan untuk bersikap lepas bebas dari hidup keduniawian. Sebab segala yang duniawi tidak menjamin akan membawa kita ke dalam hidup kekal. Yesus mau menyadarkan kita, bahwa kekayaan atau harta yang disediakan dan diberikan oleh Allah, baik dan perlu. Namun bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan bagi sesama juga. Sebab harta atau kekayaan mempunyai kekuatan untuk menghalangi orang untuk menjadi murid Yesus sejati. Karena itu dituntut kesediaan untuk melepaskan diri seutuhnya dari ikatan milik pribadi. Sebab kekayaan duniawi dapat memusatkan hati kita hanya kepada dunia ini saja. Sedangkan keselamatan adalah anugerah dan rahmat yang berasal dari Allah yang berpusat pada kehendak dan kepentingan Allah. Keselamatan itu merupakan ukuran nilai bukan ukuran harga (Bdk. Markus 10:17-30). 


Thursday, October 1, 2015

CINTA SUAMI ISTRI LAMBANG CINTA KASIH ALLAH

Penulis : P. Dedy. S
Sumber: Markus 10:2-16

Dalam kitab suci banyak diberikan simbol tentang hubungan ikatan kesatuan antara Allah dan kita manusia. Salah satu simbol yang menunjukkan relasi kesatuan itu adalah kesatuan kasih antara suami dan istrinya. Hanya kasih yang dapat menyatukan hubungan kita dengan Allah; sama seperti yang dicurahkan dan diungkapkan oleh suami dan istri. Tentu saja tiada bentuk kasih yang sangat besar selain pengorbanan. Karena itu untuk mencapai kesatuan itu dari diri kita sendiri harus berani meninggalkan segalanya, seperti halnya suami dan istri harus berani meninggalkan orangtuanya, keegoannya dan segalanya untuk bersatu menjadi satu daging dan hidup tak terpisahkan atau terceraikan. Bagaimana dengan kasih yang ada di dalam diri kita? Masih adakah kasih itu?

Karena kepedulian Allah, maka Ia menunjukkan kasih-Nya kepada kita, sehingga setiap orang tidak dibiarkannya hidup seorang diri. Allah memberikan seorang penolong bagi diri kita masing-masing, supaya dengan mengalami pertolongan yang datang dari sesama, kita dapat mengalami perjumpaan dengan Allah dan mengalami kasih-Nya. Sama seperti Adam manusia pertama yang tidak dibiarkan oleh Allah sendirian, melainkan diberikan seorang teman dan sekaligus partner yang sepadan, sederajat dan semartabat. Agar keduanya dapat saling kerja sama. Karena itu lelaki dan perempuan pada dasarnya adalah sederajat, karena keduanya saling melengkapi dan saling mengungkapkan cinta kasih Allah. Maka kunci kasih yang harus diungkapkan adalah saling bertanggungjawab (Bdk. Kejadian 2:18-24).

Penjelmaan Allah dalam diri Yesus sebenarnya mau menjadi perantara relasi antara kita dengan Allah dan relasi kita dengan sesama, karena Allah yang ada dalam diri Yesus melihat kerenggangan hubungan itu yang terlahir oleh karena ego yang kita bangun bukan kasih. Karena alasan itulah Yesus memilih tidak menikah dan tidak berkeluarga supaya Ia tidak membatasi kasih secara khusus kepada hanya satu orang saja. Kasih-Nya mutlak kepada semua orang yang mau dikasihi-Nya (Bdk. Ibrani 2:9-11). Kasih Kristus yang penuh dan utuh kepada umat-Nya itulah yang harus menjadi lambang persatuan perkawinan umat kristiani sejati.

Sebuah perkawinan janganlah dilihat keindahannya dari pesta atau segala kenikmatannya, melainkan yang utama adalah kesungguhan dan kesetiaan dalam diri kedua mempelai di hadapan Tuhan untuk saling mengasihi dan bertanggungjawab. Karena itu janji setia perkawinan di hadapan Allah harus mencerminkan dan mempersatukan kasih antar keduanya untuk selamanya dalam suka maupun duka. Karena itu ditegaskan “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia”. Karena itu sebelum memutuskan perkawinan, haruslah lebih dahulu mampu saling mengenal kelebihan dan kekurangannya lalu berusaha saling meneguhkan secara tulus ikhlas dan penuh kasih setia seperti halnya Allah yang selalu mengenal diri kita dan senantiasa meneguhkan hati kita (Bdk. Markus 10:2-16). 


Saturday, September 5, 2015

SABDA YANG MENYELAMATKAN

Penulis  : P. Dedy. S
Sumber : Markus 7:31-37

Untuk memenuhi kebutuhan fisik, setiap orang perlu bekerja. Tetapi untuk kebutuhan rohani, setiap pribadi perlu mendengarkan Sabda Allah, menerima di dalam hatinya, merenungkannya dan melaksanakan Sabda itu. Sebab bukan kebutuhan fisik yang dapat membawa diri kita kepada keselamatan kekal, melainkan kebutuhan rohani dan kerinduan untuk selalu dekat dengan Tuhan melalui mendengarkan Sabda-Nya dan dengan tekun pula melaksanakannya.

Bulan ini kita memasuki BULAN KITAB SUCI NASIONAL yang menjadi kesempatan bagi kita untuk meluangkan waktu secara lebih untuk mendengarkan Sabda Allah dan membiarkan Sabda itu meresap dan merajai seluruh diri kita. Semakin kita memberikan waktu bagi Allah untuk bersabda kepada kita, maka lambat laun Allah pun akan membuat diri kita mampu melihat kebesaran dan kehadiran Allah. Tentu kemampuan itu akan terjadi, jikalau dari dalam diri kita sendiri sudah mulai mau membuka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan Allah bersabda. Dengan demikian kita akan dimampukan oleh Allah bukan hanya melihat keagungan dan kehadiran Allah saja, justru akan makin membuat diri kita mampu memuji Allah dengan seluruh perkataan dan perbuatan diri kita (Bdk, Yesaya 35:4-7a).

Sesungguhnya Allah tidak pernah pilih-pilih dalam menyampaikan Sabda-Nya. Hanya semua kembali ke dalam diri kita, apakah mau menerima Sabda itu atau masih setengah-setengah. Alangkah baiknya dari dalam diri kita hendaknya mempunyai motivasi murni penuh ketulusan hati dalam menerima Sabda Allah itu. Sebab hanya orang yang bermotivasi di dalam hatinya secara murni dan penuh ketulusan hati yang terus menerus berharap tanpa henti untuk mendengarkan Allah bersabda sampai Sabda itu memperkaya diri dan imannya, sehingga nantinya dapat menjadi ahli waris dalam Kerajaan Allah (Bdk, Yakobus 2:1-5). Tentu saja, perbuatan kitalah sebagai penentunya. Sebab dari perbuatan itu akan nampak cara kita melihat dan mendengarkan Sabda Allah itu.

Maka, kalau selama ini diri kita menutup diri terhadap Sabda Allah, sehingga kita menjadi buta, tuli dan bisu karenanya. Sekarang inilah kesempatan bagi kita untuk bangkit dan bertobat lalu mulai membangkitkan niat baru untuk lebih terbuka dan tekun dalam membaca, mendengarkan dan mewartakan Sabda Allah. Niscaya, Sabda Allah itu bukan hanya menyembuhkan segala keterbatasan diri kita, bahkan menyelamatkan hidup kita, sehingga kita dimampukan oleh Allah untuk menjadi saksi-Nya (Bdk, Markus 7:31-37).