Saturday, August 29, 2015

MENJADI PELAKSANA SABDA

Penulis : P. Dedy.S
Sumber: Markus 7:1-8a.14-15.21-23

Seperti halnya agama-agama yang ada di dunia ini memiliki sumber imanya, demikian pula sebagai umat Katolik, kita mempunyai sumber untuk pertumbuhan iman kita. Salah satu sumber itu adalah Kitab Suci. Kitab Suci yang kita miliki bukan hanya berisi sejarah tentang lahir dan terbentuknya bangsa Israel sebagai bangsa terpilih oleh Allah, melainkan juga sejarah keselamatan seluruh bangsa berkat kedatangan Yesus Kristus. Karena itu Kitab Suci disebut BUKU IMAN.

Sebagai BUKU IMAN, Kitab Suci berisi WARTA SUKACITA yang berasal dari Allah yang berusaha mencintai kita dengan membawa KABAR KESELAMATAN di dalam dan bersama dengan Yesus Kristus. Oleh karena itu Kitab Suci disebut juga SABDA ALLAH. Dengan membaca kitab suci berarti diri kita turut dalam mendengarkan Tuhan bersabda. Di dalam sabda-Nya, Tuhan memperkenalkan diri-Nya, Allah mewahyukan Diri. Yesus sendiri adalah Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Maka, setiap kali kita membaca Kitab Suci sama halnya kita berjumpa dengan Yesus sendiri.

Kitab Suci bukanlah langsung turun dari langit, Kitab Suci itu ditulis oleh manusia yang dalam hal ini disebut para rasul. Namun ketika menuliskan setiap Sabda itu bukan secara asal-asalan, melainkan dibimbing langsung oleh Roh Kudus. Dengan demikian, apa yang tertuliskan bukanlah semata-mata hasil daya pikir para rasul, melainkan hasil dari pewahyuan Allah. Allah yang menghendaki Sabda itu sampai kepada semua orang tanpa terkecuali. Semunya itu dilakukan Allah agar setiap manusia mengenal-Nya dan berbakti hanya kepada-Nya saja.

Ketika Sabda itu dituliskan, para rasul menuliskannya dengan pavirus di atas daun lontar atau kulit binatang, karena pada waktu itu belum dikenal teknologi kertas. Maka dapat dibayangkan seberapa banyak mereka harus menuliskannya, apabila dibandingkan dengan Kitab Suci yang sekarang sudah dapat kita miliki yang sudah berasal dari teknologi kertas. Itupun belum tentu kita menyentuh, membuka dan membacanya. Kalau ketiga hal tersebut belum terlaksana, bagaimana mungkin kita dapat menjadi pelaksana Sabda. Mungkin di antara kita sudah membacanya,namun belum tentu kita mengambil peran sebagai pelaksana Sabda itu sendiri.

Kitab Suci tidak cukup hanya dibaca, segala apa yang tersabdakan dalam Kitab Suci perlu kita laksanakan. Sebab di dalamnya kita dapat menemukan kebijaksanaan untuk menjalani hidup. Melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan itu sesungguhnya Allah mau menyertai dan menuntun hidup kita sampai akhir jaman. Sehingga hidup kita di dunia ini bukan melulu membuat kita hidup semata-mata hanya duniawi, melainkan mengantar kita kepada JALAN KESELAMATAN. Oleh karena itu di dalam sabda-Nya, Allah memberikan segenap perintah dan segala hukum-hukum-Nya yang bertujuan membuat diri kita menjadi tertata sesuai dengan kehendak  dan rencana Allah (Bdk, Ulangan 4:1-2.6-8).

Sebagai dasar hidup kita, Sabda Allah telah ditaburkan di dalam diri dan hati kita, terutama saat diri kita dibaptis. Pada saat itulah awal keselamatan sudah ditawarkan kepada kita melalui Gereja-Nya. Maka, agama dan peraturannya bukanlah sebuah formalitas lahir belaka, bukan pula suatu bentuk pemikiran, melainkan sungguh menjadi akar kehidupan dengan mentaati sabda-Nya. Karena itulah kita diharapkan hidup menjadi pelaksana sabda bukan cuma pembaca sabda (Bdk, Yakobus 1:17-18.21b-22.27).

Sebagai pelaksana sabda, kita akan sering pula mengalami keterbenturan dengan berbagai aturan dan norma yang berlaku di tengah masyarakat termasuk masalah najis dan tidak najis. Namun, apabila kita berpegang kepada sabda Tuhan dan mengikuti segala perintah-Nya bahkan membatinkan sabda itu, maka Allah akan memberikan kebijaksanaan tersendiri dalam menghadapi norma dan hukum yang berlaku, sehingga diri kita dijauhkan dari segala kemunafikan dan dipindahkan ke dalam hidup yang dituntun oleh Roh dan Kebenaran (Bdk, Markus 7:1-8a.14-15.21-23).

Saturday, August 15, 2015

TANDA DAN SARANA KEHADIRAN TUHAN

Sumber : Yohanes 6:24-35
Penulis: P. Dedy.S

Dalam setiap agama memiliki tanda dan sarana yang digunakan sebagai kehadiran Tuhan. Melalui tanda dan sarana itu diharapkan setiap penganutnya dapat mengalami kehadiran Tuhan di dalam segenap hidupnya. Di Gereja Katolik ada banyak simbol dan tanda yang dijadikan sebagai sarana kehadiran Allah, salah satunya adalah roti dan anggur yang digunakan di dalam perayaan Ekaristi. Dalam roti dan anggur menjadi perwujudan Tubuh dan Darah Yesus setelah melalui proses yang disebut Konsekrasi. Perubahan yang terjadi bukan sekedar simbolis semata, melainkan sungguh-sungguh mengalami perubahan yang sungguh nyata. Banyak peristiwa yang telah membuktikan perubahan tersebut; salah satunya yang terjadi pada seorang wanita yang bernama Yulia dari Naju – Korea Selatan. Wanita ini tidak hanya mengalami tanda dan perubahan wujud dari hosti menjadi tubuh dan darah Yesus sendiri, melainkan melalui banyak tanda dan peristiwa. Melalui tanda-tanda itu kita diharapkan dapat mengalami kehadiran Allah secara nyata; bukan saja selama perayaan itu berlangsung, melainkan mengalami-Nya di dalam seluruh perjalanan hidup kita. Karena itu perlu penghayatan dan pembaharuan akan iman yang dimiliki secara terus menerus.

Dalam hidup sehari-hari kita cenderung melihat dan memandang rejeki itu hanya sebatas materi, sehingga lupa bahwa kesehatan merupakan juga rejeki termahal untuk kita miliki. Percuma apabila kita memiliki banyak materi, namun kerap kali menjadi langganan rumah sakit; walaupun materi yang diterima sedikit atau tidak terlalu banyak, tetapi kesehatan prima; itu sudah namanya rejeki yang paling besar dari Tuhan sebagai tanda cinta dan kasih-Nya kepada diri kita. Kesehatan juga rejeki dari Tuhan sekaligus sebagai tanda kehadiran Allah yang melawati diri kita. Rejeki yang berupa materi itu mudah musna dan bersifat fana. Rejeki yang tidak dapat musnah adalah rejeki rohani yang diberikan Allah untuk hidup kekal. Dengan memberikan semuanya itu, Allah ingin melihat diri kita apakah tetap setia kepada-Nya dan selalu mengandalkan-Nya dalam segala hal (Bdk. Keluaran 16:2-4.12-15).

Dengan menerima dan melaksanakan hukum dan peraturan Tuhan saja belum dapat dikatakan bahwa kita sudah setia kepada-Nya jika kita belum mengenakan Kristus di dalam seluruh hidup kita. Mengenakan Kristus berarti mau diarahkan kepada kehidupan baru yang kita terima melalui sakramen-sakramen. Karena sakramen-sakramen itu menjadi tanda kehadiran Allah yang kita rayakan; yang siap membawa kita ke dalam KEHIDUPAN BARU. Dengan makin sering kita menerima sakramen tobat dan ekaristi, hidup dan diri kita semakin diperbaharui setiap hari (Bdk. Efesus 4:17.20-24).

Sebagai orang beriman jangan hanya mementingkan kebutuhan duniawi, melainkan mari mengutamakan kebutuhan rohani. Sebab kebutuhan duniawi saja tidak menjamin kita ke dalam kehidupan kekal. Hanya kebutuhan rohani yang memberikan jaminan ke dalam kehidupan yang kekal yang diberikan Allah dan diperuntukkan bagi kita. Untuk mencapai ke dalam kehidupan kekal, perlu bagi kita untuk menanggalkan manusia lama yang cenderung duniawi dan berpindah diri menjadi manusia baru dengan mengenakan Kristus sebagai ROTI HIDUP melalui seringnya menerima sakramen-sakramen seperti tobat dan ekaristi yang menjadi sarana dan tanda kehadiran-Nya di dalam hidup dan diri kita (Bdk. Yohanes 6:24-35).


Wednesday, July 22, 2015

BERSYUKUR DAN BERBAGI

Penulis  : P. Dedy.S
Sumber : Yohanes  6:1-15

Dalam memenuhi kehidupan kita sehari-hari perlu menyeimbangkan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan rohani. Tidaklah mungkin cukup dengan doa saja, rejeki akan datang; melainkan harus berusaha. Ketika rejeki itu diberikan kepada kita entah cukup ataupun secara melimpah, perlu ingat untuk senantiasa bersyukur dan rela berbagi kepada sesama melalui sedekah. Sebab sesungguhnya rejeki yang diterima itu bukanlah hasil jerih payah kita, melainkan tanda belaskasih Allah atas diri kita. Apabila kita melakukan hal itu, berarti kita melaksanakan EKARISTI.

Berbagi dengan sesama tidaklah harus menunggu sampai diri kita diberikan oleh Alllah rejeki secara berlimpah, karena batasan berlimpah antara pandangan Allah dan pandangan kita itu berbeda. Kita kerap kali merasakan kalau rejeki yang kita terima itu belum cukup, sehingga kita selalu jatuh kepada ketidakpuasan akan rejeki dan kebaikan Allah. Sehingga dalam hati kita selalu muncul keinginan untuk menuntut Allah agar memberikan rejeki secara lebih berlimpah; Ada yang oleh Allah dengan sengaja dikabulkan untuk menguji apakah dengan kelimpahan itu kita mengetahui cara untuk bersyukur yang tidak hanya terucapkan, melainkan nyata tercetus dalam segala tindakan dan perbuatan melalui semangat hidup berbagi dengan sesama terutama yang miskin dan hina dina. Ada juga yang oleh Allah permohonan itu tidak dikabulkan sama sekali karena Allah mau menguji batas kesetiaan kita terhadap-Nya, sekaligus untuk melihat apakah kebaikan Allah itu hanya diukur dari rejeki saja. Dalam keadaan keterbatasan pun kita diharapkan mau dan rela berbagi. Maka, di luar kemampuan dan kesadaran kita bahwa sesungguhnya Allah akan menggandakan dari segala yang kita sudah bagikan itu sekalipun berasal dari segala keterbatasan  (Bdk. 2Raja-Raja 4:42-44). Sebab Allah tidak melihat keterbatasan itu sebagai penghalang bagi kita untuk membangun sikap berbagi dan peduli kepada sesama, melainkan Allah melihat hati yang dipenuhi dengan sukacita, kemauan dan kerelaan yang menjadi dasar dari sikap belaskasih. Dengan mau dan rela berbagi sesungguhnya sudah menunjukkan rasa syukur kita atas rejeki yang Allah telah berikan.

Ekaristi yang hidup bukanlah yang kita rayakan setiap kali datang dan mengikuti misa atau perayaan perjamuan syukur di gereja, melainkan ketika kita mempunyai kemauan, kesadaran, keterbukaan dan kerelaan untuk berbagi dengan sesama tanpa pandang bulu. Kalau kita datang ke gereja dan mengikuti Ekaristi, perayaan yang kita ikuti itu baru awal dari Ekaristi. Ekaristi yang sesungguhnya akan terjadi ketika kita meninggalkan gedung gereja dan melakukan perjumpaan dengan sesama. Selama di dalam perayaan ekaristi di gereja, kita pun sudah dituntut untuk rela berbagi, namun apakah kita sudah menyadari hal tersebut? Ataukah kita masih terlalu sibuk dengan diri kita sendiri, sehingga tidak menyadari kehadiran sesama dalam perjamuan tersebut. Dengan mau berbagi berarti kita turut mengambil bagian dalam hidup persekutuan yang menyatukan seluruh umat Allah menjadi satu Roh, satu tubuh, satu Tuhan, satu iman, satu pengharapan, satu pembaptisan dan satu Allah Bapa di dalam Yesus Kristus (Bdk. Efesus 4:1-6). Kalau dalam hati kita belum terlahir rasa syukur melalui berbagi dengan sesama, berarti kita belum menerima Yesus dengan sepenuh hati. Karena diri kita belum bersatu dengan umat Allah.

Kesadaran dalam hidup persekutuan haruslah terlebih dahulu muncul dari dalam diri kita, selanjutnya Allah yang akan membimbing. Untuk memunculkannya kita perlu mempunyai sikap peduli dalam gerakan belaskasih melalui semangat hidup berbagi dari segala apa yang ada di dalam diri kita sekalipun berasal dari keterbatasan. Lima roti dan dua ikan merupakan lambang keterbatasan yang kita miliki, namun semuanya telah digandakan oleh Allah agar kita menjadi percaya bahwa Allah tidak memperhitungkan akan segala keterbatasan yang kita miliki; Allah hanya melihat niat dan kemauan kita dalam berbagi dengan sesama. Percayalah di dalam iman, mukjizat itu nyata. Karena itu marilah kita peduli dan membangun sikap rela berbagi, maka Allah akan mengubah segala yang terbatas menjadi berlimpah ruah (Bdk. Yohanes 6:1-15). Itu tandanya kita merayakan dan melaksanakan EKARISTI.


Thursday, July 16, 2015

TUGAS KEGEMBALAAN

Penulis  : P. Dedy. S
Sumber : Markus 6:30-34

Kepemimpinan dalam Gereja hampir mempunyai kesamaan dengan kepemimpinan dalam pemerintahan. Perbedaan yang mencolok dalam kepemimpinan terletak pada cara setiap pemimpinnya dalam memimpin warga atau rakyatnya; kalau pemerintah lebih banyak memerintah dengan kekuasaan atau tangan besi, sedangkan pemimpin umat Allah atau Gereja memerintah dengan cinta kasih. Perbedaan ini dapat terjadi karena pemimpin Gereja dibimbing langsung oleh Roh Kudus, sehingga tugasnya menjadi tugas penggembalaan.

Dalam Gereja memang mempunyai pemimpin untuk melanjutkan tugas penggembalaan yang dilakukan oleh Yesus setelah kenaikan-Nya ke surga. Yesus telah mendahului dengan mempersiapkan para rasul pilihan-Nya sebagai pemimpin atas  para murid lainnya. Sekarang tugas penggembalaan yang diwariskan oleh Yesus itu hadir dalam diri para pemimpin Gereja. Pemimpin Gereja yang dimaksudkan adalah Paus, Uskup dan Imam. Mereka ini dikatakan pemimpin Gereja karena berkat tahbisan Imamat yang diterimakan kepada mereka. Dengan demikian mereka mempunyai hak seperti yang Yesus lakukan. Bukan berarti hanya mereka yang berhak atas tugas penggembalaan, kitapun yang disebut Gereja, entah sebagai umat biasa maupun pengurus lingkungan atau wilayah wajib melaksanakan tugas penggembalaan atas kawanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita; salah satunya adalah keluarga. Memang cara dan teknik penggembalaan yang dilakukan antara kaum tertahbis dan kaum awam sangat berbeda. Perbedaan itu dikarenakan masing-masing memiliki batasan-batasan dalam melaksanakan tugas penggembalaan.

Sebagai penggembala kita mempunyai kewajiban utama yaitu BERTANGGUNG JAWAB atas kawanan yang dipercayakan. Bentuk pertanggungjawaban itu antara lain: MEMPERSATUKAN SELURUH UMAT,  MENCARI DAN MENEMUKAN UMAT YANG HILANG DARI PERSEKUTUAN, MEMPERHATIKAN KEHIDUPAN UMAT dan berbagai tugas penggembalaan lainnya (Bdk. Yeremia 23:1-6). Banyak pemimpin yang tidak bertanggungjawab dan membiarkan umatnya tercerai berai dan sama sekali tidak memberikan perhatian kepada umat yang dipercayakan kepadanya. Seharusnya yang dilakukan oleh seorang pemimpin itu hadir di tengah seluruh jemaat dan menanamkan jiwa persatuan kepada umat, agar umat hidup tidak terkotak-kotak dengan berdasarkan kesukuan atau hal lainnya. Sebab Kristus sendiri tidak pernah membeda-bedakan orang dan kelompok, hanya manusia sendiri yang cenderung hidup terkotak-kotak dan berusaha mencari zona aman. Memang untuk melaksanakan semua itu membutuhkan pengorbanan yang amat besar terutama waktu. Namun, apabila melakukannya dengan sepenuh hati, tidak akan ada kata sulit. Semuanya akan dipermudah oleh Allah.

Satu hal yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin atau penggembala yaitu SEMANGAT PENGORBANAN, bukan menjadikan orang lain sebagai korban demi kepentingan pribadi. Sebab Kristus tidak mengejar kepentingan-Nya sendiri, melainkan telah meneladankan hidup-Nya yang mau dan rela berkorban demi keselamatan banyak orang, bukan atas nama kelompok tertentu (Bdk Efesus 2:13-18). Maka, apabila diri kita enggan bahkan tidak mau berkorban bagi Allah melalui karya umat, apakah tidak merasa malu apabila melihat pengorbanan Allah yang begitu besar kepada diri kita.

Dalam tugas penggembalaan, kita tetap perlu kembali kepada Allah sebagai Gembala Utama untuk mendapatkan penyegaran dan bimbingan rohani, mengalami belaskasih-Nya, mencurahkan segala apa yang telah kita laksanakan, mendapatkan pembelajaran yang baru dan menggali kekuatan dalam pelaksanaan tugas selanjutnya (Bdk. Markus 6:30-34). Karena tanpa kembali kepada Allah, kita tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi.